Meutya Hafid Sebut Gubernur Koster Sejak di Komisi IX DPR Sudah Perjuangkan Kebudayaan

Gubernur Koster saat foto bersama di acara acara Deklarasi Bersama Mewujudkan Peradaban Baru Penyiaran Melalui Informasi Berkualitas di The Westin Resort, Nusa Dua, Badung. (foto: ist)

Beritabalionline.com – Ketua Komisi I DPR RI, Meautya Hafid mengungkapkan bahwa sebelum menjadi Gubernur Bali, Wayan Koster sejak tahun 2004 sudah memperjuangkan kebudayaan. Ketika itu saat menjadi Anggota Komisi IX DPR RI.

“Saya senang sekali Bapak Gubernur, kebetulan mengikuti perkembangan di Bali, mulai kami datang, hotelnya dibuka khusus dan sampai sekarang dari Canggu menuju Tabanan macetnya luar biasa. Jadi kita berikan applause kepada Bapak Gubernur yang sudah membawa Bali, mudah-mudahan lebih baik lagi pasca pandemi Covid-19,” Ketua Komisi I DPR RI ini saat acara Deklarasi Bersama Mewujudkan Peradaban Baru Penyiaran Melalui Informasi Berkualitas di The Westin Resort, Nusa Dua, Badung, Kamis (12/5/2022).

Sementara Gubernur Bali, Wayan Koster meminta pelaku usaha pariwisata di Bali berkomitmen setiap hari Kamis, Purnama dan Tilem, serta Hari Jadi Pemerintah Provinsi Bali menggunakan Busana Adat Bali. Ini sesuai dengan pelaksanaan Peraturan Gubernur Bali Nomor 79 Tahun 2018 tentang Hari Penggunaan Busana Adat Bali yang sejalan dengan semangat Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali, hingga Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 5 Tahun 2020 tentang Standar Penyelenggaraan Kepariwisataan Budaya Bali.

Permintaan tersebut dengan tegas disampaikan oleh orang nomor satu.
Di hadapan Ketua Komisi I DPR RI, Meutya Hafid dan Ketua KPI Pusat, Agung Suprio, Gubernur Koster menjelaskan Provinsi Bali saat ini sudah mulai mengeliat kepariwisataannya sejak 7 Maret 2022 yang lalu. Baik wisatawan domestik (wisdom) maupun wisatawan mancanegara (wisman) sudah mulai berdatangan.

BACA JUGA:  Pemkot Denpasar Terima Penghargaan MCP 2022 dari KPK

Hal ini karena pandemi Covid-19 di Bali sejak awal tahun sampai Mei 2022 ini sudah melandai dan stabil.
Tanda – tanda melandainya pandemi Covid-19 di Bali sudah menunjukkan hasil, dimulai pasca adanya keterlibatan banyak orang di upacara Adat di Bali.
Seperti di Pura Agung Besakih maupun sebelumnya saat perayaan Hari Suci Nyepi tanggal 3 Maret yang lalu di semua Kabupaten/Kota di Bali ada perayaan Ogoh – Ogoh yang melibatkan banyak orang, tapi ternyata Covid-19 tidak mengalami lonjakan kasus.

“Jadi tetap stabil sampai saat ini. Begitu juga ketika hari libur Idul Fitri dan cuti bersama, banyak yang ke Bali dan sampai hari ini Saya amati kasusnya tetap stabil,” ungkap Gubernur Koster yang disambut tepuk tangan.
Melandainya pandemi Covid-19, kata Gubernur Koster disebabkan karena masyarakat Bali tertib menjalankan protokol kesehatan dan vaksinasi boosternya sekarang sudah hampir 70 persen. “Jadi ini vaksin booster tertinggi di Indonesia,” ujar Gubernur.
Bali seraya menyebut dari parameter itulah, Bali sejatinya sudah sangat kondusif dikunjungi oleh Wisdom dan Wisman.

Mengenai pariwisata Bali, mantan Anggota DPR-RI 3 Periode dari Fraksi PDI Perjuangan ini menyebut bahwa Pulau Bali tidak didesain secara khusus dengan suatu perencanaan, tetapi berkembang secara alamiah.
Sehingga karena budayanya, menjadikan Bali berkembang pariwisata-nya. Namun terlalu lama pariwisata di Bali tidak diarahkan dengan satu kebijakan yang tepat.
Sehingga perkembangannya menjadi kurang baik, compang-camping, dan
di sana-sini ada yang kurang. Namun, karena budaya Bali ini menarik bagi masyarakat luar, membuat Bali tetap menjadi perhatian dan pilihan nomor
satu masyarakat dunia untuk berkunjung.

“Itulah sebabnya, saya sekarang ini betul- betul menata pariwisata Bali
secara fundamental dan komprehensif berbasis pada budaya, serta berorientasi pada kualitas dan bermartabat. Ini yang ingin kami tekankan betul. Sehingga kami tidak ingin pariwisata ini mengorbankan budaya, justru pariwisata harus membangun budaya. Karena Bali tanpa budaya tidak akan mungkin bisa menjadi daerah wisata. Selama ini yang memelihara pariwisata
adalah budaya, seharusnya.

BACA JUGA:  Putri Koster Ajak ASN Pahami Pakaian Rapi dan Elegan ke Kantor

Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Bali akan mulai seimbangkan antara pelaku pariwisata dengan masyarakat di Bali yang begitu kuat di dalam menjaga budayanya. Itulah sebabnya, Gubernur Koster di dalam membangun Bali betul-betul menggunakan budaya sebagai hulunya pembangunan. Menjadikan budaya sebagai mainstream pembangunan, karena Bali tidak mempunyai kekayaan sumber daya alam. “Kalau alam indah, lebih indah dari Bali atau sama dengan Bali, di luar Bali banyak ada alam yang indah.

Tapi yang membedakan Bali dengan daerah lain itu adalah budaya. Itulah sebabnya, saya sekarang mulai tegas dalam urusan budaya dengan menggunakan Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali yang diiringi dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan. Peraturan Gubernur Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara, dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali, dan Peraturan Gubernur Bali Nomor 79 Tahun 2018 tentang Hari Penggunaan Busana Adat Bali,” tandasnya.

Untuk Penggunaan Busana Adat Bali, setiap hari Kamis, Purnama, Tilem dan Hari Jadi Pemerintah Daerah Provinsi Bali semua pelaku di Bali mulai dari pegawai negeri maupun swasta, hotel juga harus berbusana Adat Bali. “Maka tadi saya melihat manajer hotel tidak berbusana Adat Bali, saya langsung tegur. Jadi saya tidak mau melihat perilaku-perilaku yang tidak tertib dan disiplin di Bali, tapi semua harus hormat dengan budaya Bali. Kita butuh tata kehidupan yang tertib, disiplin dan betul-betul menghormati budaya, karena kita bangsa yang berbudaya.
karena kita bangsa yang berbudaya, jadi budaya kita harus dihormati,” ujar Gubernur Bali asal Desa Sembiran, Buleleng ini.

BACA JUGA:  Gubernur Koster Tekankan ini saat Peletakan Batu Pertama Pembangunan Pasar Umum Gianyar

Pasar Badung Mengakhiri arahannya terkait pariwisata Bali, Gubernur Koster menegaskan berwisata boleh, tapi harus menghormati budaya, jangan para pelaku pariwisata cuma mencari untung di Bali dengan tidak memelihara budaya. “I’m sorry. Saya tidak akan membiarkan itu. Jadi kalau mau berusaha di Bali, bangunlah budaya Bali ini secara bersama-sama, supaya bisa tumbuh bersama, kuat bersama, serta mendapat manfaat secara bersama-sama. Saya kira itu yang harus ditumbuhkan di Bali,” pungkas Gubernur Bali. (bbo)