“Bali Bangkit” Wadah Membangkitkan IKM dan UMKN di Tengah Pandemi

Gubernur Koster (lima dari kiri) dan Ny Putri Suastini Koster (lima dari kanan) saat pembukaan Pameran IKM Bali Bangkit 2022 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Centre Denpasar, Kamis (20/2/2022). (FOTO : ist)

Beritabalionline.com – Dampak pandemi Covid-19 dirasakan di semua lini termasuk di bidang ekonomi. Berbagai upaya dan program pun dilakukan pemerintah pusat maupun daerah untuk mendukung masyarakat membangkitkan perekonomian.
Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali di bawah pimpinan Ny Putu Putri Suastini Koster melakukan berbagai upaya strategis dalam rangka meningkatkan daya saing industri kecil menengah dan usaha mikro kecil menengah (IKM/UMKM) di masa pandemi Covid-19.

Dalam upaya melaksanakan program pemulihan ekonomi, Dekranasda Bali terus memberikan dukungan kepada IKM/UMKM, dengan harapan para pelaku industri kecil menengah dan usaha mikro kecil menengah di Bali tetap survive di masa pandemi Covid-19.

Untuk itu, Dekranasda Bali kembali menggagas pameran yang diberi nama Pameran IKM Bali Bangkit 2022, setelah dalam pameran tahun lalu para pelaku IKM/UMKM sukes meraup omset Rp20 miliar.

Pameran IKM Bali Bangkit 2022 dibuka secara resmi oleh Gubernur Bali, Wayan Koster, di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Art Centre Denpasar, Kamis (20/1/2022).

Pameran ini akan berlangsung selama sebulan, mulai 20 Januari hingga 16 Februari 2022 mendatang.

Menanggapi Pameran IKM Bali Bangkit yang digagas Dekranasda Bali untuk menjadi wadah bagi para pelaku IKM/UMKM untuk memamerkan dan memasarkan produknya, pengusaha kerajinan Kain Tenun Songket asak Kamasan, Klungkung, Anak Agung Raka Sanjaya menyatakan sangat mengapresiasi langkah Dekranasda Bali di tengah lesunya pertumbuhan ekonomi saat ini karena dampak pandemi Covid-19 yang berkepanjangan.

“Pandemi Covid-19 berdampak pada perubahan tatanan kehidupan sosial serta menurunnya kinerja ekonomi bagi sebagian besar pelaku usaha IKM di Bali. Perekonomian Bali juga mengalami dampak signifikan, berbagai Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) merasakan kemacetan bisnis,” tuturnya.

BACA JUGA:  Cegah PMK, Wabup Kasta Bagikan Desinfektan Kepada Kelompok Ternak

Karena itu, lanjut Raka Sanjaya, pandemi harus dihadapi dengan melakukan beberapa hal agar bisnis pelaku usaha IKM di Bali bisa bertahan bahkan tumbuh. Salah satunya adalah pemerintah memberikan wadah secara berkesinambungan kepada pelaku usaha IKM/UMKM untuk memamerkan dan memasarkan produknya. Melalui pameran dimaksud diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan ekspor.

Menurutnya, pameran virtual merupakan salah satu bentuk adaptasi kehidupan baru di masa pandemi virus Corona. Meskipun demikian Raka Sanjaya optimis dengan pameran virtual, strategi promosi perdagangan ke luar negeri justru akan menjangkau kalangan yang lebih luas.

“Melalui pameran virtual diharapkan para buyer di luar negeri dapat memperoleh informasi tentang berbagai potensi ekspor, tanpa mereka harus datang ke Bali,” kata bapak dua orang anak ini.

Bagi Raka Sanjaya, belajar tentang bertahan dalam bisnis pada masa pandemi ini harus sabar dan melihat peluang dahulu, jangan gegabah dan mudah tergiur oleh hal-hal yang kelihatannya sangat mudah dan cepat menguntungkan.

“Sebaiknya dilakukan analisa atau reseach kecil untuk menambah kemantapan dalam berbisnis,” sarannya.

Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ny Putu Putri Suastini Koster, mengatakan, Pameran IKM Bali Bangkit sudah digulirkan sejak awal tahun 2020 lalu, setelah munculnya pandemi Covid-19. Sejak awal digelarnya Pameran IKM Bali Bangkit, pendapatan pelaku IKM/UMKM terus meningkat, dengan omset bertambah setiap tahunnya.

Menurut Putri Koster, puncaknya pada Pameran IKM Bali Bangkit 2021, para pelaku IKM binaan Dekranasda Provinsi Bali berhasil meraih omset Rp20 miliar. “Dari 700 pelaku usaha yang terlibat, omset mereka tembus Rp20 miliar,” ujar Putri Koster dalam sambutannya.

Putri Koster pun berterimakasih kepada Gubernur Bali, Wayan Koster, yang memberikan dukungan penuh kepada pelaku IKM/UMKM. Bahkan, dalam setiap Pameran IKM Bali Bangkit, Gubernur Koster selalu langsung membawa pembeli, terutama dari kalangan aparatur sipil negara (ASN).

 

Menurut Putri Koster, Pameran IKM Bali Bangkit memang kecil eventnya. Tapi, dengan upaya sungguh-sungguh, hasilnya luar biasa. Putri Koster menyampaikan terimakasih kepada Gubernur Koster, karena telah memberikan tempat dan ruang yang luar biasa di Taman Budaya.

BACA JUGA:  Nelayan Asal Jimbaran Hilang di Perairan Nusa Dua Setelah Dihantam Ombak

 

Putri Koster berharap perajin Bali tetap menjaga kualitas dalam pameran IKM Bali Bangkit ini. Disebutkan, Pameran IKM Bali Bangkit akan membangkitkan kembali pelestarian warisan budaya leluhur, kemudian membangkitkan perekonomian masyarakat secara masif. Misalnya, produk Kain Tenun Endek Bali yang diproduksi di daerah sendiri akan tetap hidup. Para penenun ada harapan bisnis.

“Motto ‘dari kita, oleh kita, untuk kita’ harus diwujudkan. Sekarang orang di seluruh dunia memakai Kain Tenun Endek Bali. Penenun punya harapan, anak-anak milienal tertarik, karena orangtua mereka sejahtera. Kain Tenun Endek Bali diproduksi di Bali, perajin menjadi tetap hidup dan eksis. Apalagi, kita dibantu secara online oleh Balimall.id,” tandas tokoh perempuan asal Desa Padangsambian Kaja, Kecamatan Denpasar Barat ini.

Putri Koster juga berharap IKM dan UMKM akan sehat di daerah produksi masing-masing, sehingga ekonomi masyarakat jadi kuat. Momen pameran diharapkan tidak hanya dipakai untuk berjualan. Jika ada kendala mengganjal, mulai permodalan, sampai pemasaran, Dekranasda Provinsi Bali siap membantu.

 

Beri Kontribusi di Tengah Pandemi
Sementara itu, Gubernur Koster menceritakan awal mula digelarnya Pameran IKM Bali Bangkit. Menurut Gubernur Koster, pandemi Covid-19 yang muncul sejak Maret 2020 telah berdampak pada macetnya perekonomian. Nah, saat itulah muncul ide dari istrinya, Putri Suastini Koster, untuk memanfaatkan kawasan Taman Budaya Art Centre sebagai tempat pameran secara gratis.

 

“Saat itu saya kaget dengar celetukan istri saya yang sangat positif. Saya sanggupi dan langsung disiapkan pameran virtual. Situasi mulai membaik, dilakukanlah pameran hybrid (online dan offline). Barulah tahun 2022 ini konvensional pamerannya. Pameran IKM Bali Bangkit ini biaya nol. Bagi saya, tidak selalu kegiatan itu harus menelan biaya, malah dari nol bisa produktif,” tandas Gubernur Koster dalam arahannya.

BACA JUGA:  PWI dan SMSI Bali Dorong KPU Kedepankan Aspek Legalitas Terkait Kerjasama dengan Media

 

Gubernur Koster mengatakan, apa yang dilakukan Dekranasda Provinsi Bali adalah ide luar biasa. Sebagai orang akademisi dan peneliti, Gubernur Koster mengaku meneliti ide Dekranasda Provinsi Bali yang lumayan berkontribusi di tengah pandemi Covid-19.

 

“Apalagi, prinsipnya menjaga produk budaya, menjaga warisan budaya leluhur. Saya apresiasi langkah ini, karena banyak warisan budaya kita lepas begitu saja. Kain Tenun Endek Bali yang dulu banyak diproduksi di luar Bali, kini sudah mulai diproduksi di Bali. Maka, kita harus menjaganya,” jelas Gubernur asal Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Buleleng ini.

 

Gubernur Koster mengingatkan, kalau warisan budaya ini tidak dijaga, maka warisan leluhur akan hilang, peluang ekonomi pun hilang. Koster menyebutkan, dulu budaya Bali diambil orang luar, mereka memproduksi sendiri, lalu hasilnya dibawa ke Bali, malah krama Bali yang membeli produk itu. Krama Bali beli budaya dan warisan leluhur sendiri, semakin terjepit pelaku usaha di Bali. Ini terjadi selama puluhan tahun.

“Ini kebangetan. Saya bilang ke Kelompok Ahli Gubernur, ini kelamaan bodohnya. Maka, saya minta ditata ulang, dari hulu ke hilir,” katanya.

Koster pun mengingatkan pejabat di Bali harus melakukan upaya menjaga warisan budaya leluhur, yang sudah jelas ada dalam visi ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’, yang menjadikan budaya sebagai hulu pembangunan di segala sektor, budaya sebagai nilai-nilai kehidupan krama Bali. Pejabat diminta jangan belog ajum (bodoh tapi sombong).

 

Menurut dia, Bali ke depan sudah pasti menjadikan budaya dalam mengembangkan ekonomi. Dalam konsep ‘Ekonomi Kerthi Bali’, sudah ada lengkap. Bali tidak punya kekayaan alam, tidak ada tambang, tidak ada emas. Namun dengan budaya, Bali bisa hidup.

 

“Tidak ketergantungan lagi, bisa eksis, survive, tumbuh berkembang dengan keunggulan yang dimiliki. Jangan tergantung dengan pihak luar, sangat berbahaya. Ini sudah saya lakukan proteksi untuk kebudayaan Bali,” demikian Koster yang berpengalaman tiga kali periode duduk di Komisi X DPR RI dari Fraksi PDIP Dapil Bali ini. (sdn)