Peluncuran SE Gubernur Nomor 4 Tahun 2022 tentang Tata Titi Kehidupan Masyarakat Bali

Gubernur Bali Wayan Koster dalam peluncuran SE Gubernur Bali Nomor 4 Tahun 2022 Tentang Tata-Titi Kehidupan Masyarakat Bali Berdasarkan Nilai-Nilai Kearifan Lokal Sad Kerthi dalam Bali Era Baru, di Wantilan Pura Samuan Tiga, Desa Beduku, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar.

Beritabalionline.com – Gubernur Bali Wayan Koster meluncurkan SE Gubernur Bali Nomor 4 Tahun 2022 Tentang Tata-Titi Kehidupan Masyarakat Bali Berdasarkan Nilai-Nilai Kearifan Lokal Sad Kerthi dalam Bali Era Baru, di Wantilan Pura Samuan Tiga, Desa Beduku, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar pada Selasa (4/1/2022) Pukul 09.46 WITA.

Peluncuran buku dihadiri stake holder terkait seluruh Bali. Diantaranya kalangan Sulinggih, Pemangku, Pimpinan Lembaga Vertikal di Bali, Kapolda Bali Irjen Pol Putu Jayan Danu Putra, Wakajati Bali Dr Ketut Sumedana, Walikota/Bupati se Bali, Bandesa Agung MDA Provinsi Bali, Bandesa Madya MDA Kabupaten se Bali, Bandesa Alitan MDA Kecamatan se Bali, Pimpinan Lembaga Pendidikan se Bali, Perbekel dan Lurah se Bali, Bandesa Adat se Bali, serta pimpinan organisasi kemasyarakatan dan swasta se Bali.

 

“Hari baik ini, saya meluncurkan SE tentang Tata Titi kehidupan masyarakat Bali. Yang akan menjadi tuntunan kita di Bali dalam menjalani kehidupan sehari-hari,” ujar Koster.

 

Adapun dasar pertimbangan peluncuran SE Tata-Titi Kehidupan Masyarakat Bali ini melihat 7 poin penting. Diantaranya, pertama : Para Panglingsir dan guru-guru suci Waskita yang telah menjadi leluhur, lelangit Bali memberikan wejangan cara hidup Krama Bali yang menyatu dengan alam, yakni perlunya menjaga kelestarian lingkungan hidup untuk kelangsungan kehidupan, bahwa manusia adalah alam itu sendiri. Manusia harus sejalan/seirama dengan alam, hidup yang menghidupi, Urip yang mengutip, hidup harus menghormati alam, alam ibarat orangtua. Oleh karena itu hidup harus mengasihi alam, masiha ri samasta jagat. Kedua : Tata-Titi Kehidupan masyarakat Bali yang menyatu dan menjaga keseimbangan dan keharmonisan antara alam Bali, manusia/Krama Bali dan kebudayaan Bali uang meliputi adat istiadat, tradisi, seni dan budaya, serta kearifan lokal secara Niskala dan sekala ini merupakan tata-titi kehidupan masyarakat Bali yang orisinil, genuine Bali.

BACA JUGA:  Legislator Mr Smile Gelontorkan 19 Ton Beras

Ketiga: tata-titi kehidupan yang mengait dan menyatu dalam alam secara Niskala dan sekala bersumber dari nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi, yaitu enam sumber kesejahteraan dan kebahagiaan kehidupan. Terdiri atas Atma Kerthi (penyucian dan Pemuliaan jiwa), Segara Kerthi (penyucian dan Pemuliaan pantai dan laut), Danu Kerthi (penyucian dan Pemuliaan sumber air), Wana Kerthi (penyucian dan pemuliaan tumbuh-tumbuhan), Jana Kerthi (penyucian dan pemuliaan manusia), dan Jagat Kerthi (penyucian dan pemuliaan alam semesta).

Keempat : Permasalahan dan tantangan dinamika perkembangan zaman secara lokal, nasional dan global telah berdampak langsung dan tidak langsung terhadap kehidupan masyarakat yang ditandai melunturnya pelaksanaan nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi dalam tata-titi kehidupan masyarakat Bali. Kelima : Para Panglingsir, Guru-guru suci, leluhur dan Lelangit Bali telah memberi warisan adiluhung berupa nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi yang sejatinya telah menjadi tata-titi kehidupan masyarakat Bali secara turun-temurun dalam memelihara menjaga alam Bali. Nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi yang adiluhung ini harus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi penerus, serta dijadikan dasar dalam tata-titi kehidupan masyarakat Bali secara permanen, sepanjang zaman. Keenam : Tata-titi kehidupan masyarakat Bali yang bersumber dari nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi, menjadikan masyarakat Bali memiliki laku kehidupan sehari-hari yang berkarakter, berhati diri, berkualitas, berdaya saing dan bertanggungjawab terhadap alam, manusia dan kebudayaan Bali.

Tata-titi kehidupan masyarakat Bali ini merupakan tata-titi kehidupan Bali Era Baru untuk mewujudkan Bali yang kang tata-titi tentram kerta raharja, yang sangat diperlukan guna menghadapi permasalahan serta tantangan dinamika perkembangan zaman dalam skala lokal, nasional, dan global. Ketujuh: Sebagai implementasi visi Nangun Sad Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru, Pemerintah Provinsi Bali perlu menerbitkan Edaran tentang Tata-titi Kehidupan Masyarakat Bali Berdasarkan Nilai-nilai Kearifan Lokal Sad Kerthi dalam Bali Era Baru. Agar nilai-nilai adiluhung Sad Kerthi dipahami, dihayati, diterapkan dan dilaksanakan secara menyeluruh,komsisten, berkelanjutan dengan tertib, disiplin dan penuh rasa tanggung jawab.

BACA JUGA:  Akhiri Masa Jabatan Bupati, Made Gianyar Serahkan Buku Memori kepada Gus Giri

 

“Ini yang harus kita sadari betul, jangan mudah terbawa arus kesana kemari, lantas kita hanyut. Bisa rusak,” ujar Gubernur Bali asal Desa Sembiran, Kecamatan Tejakula, Buleleng ini.

Koster mengatakan, nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi ini sudah lama diajarkan. Tapi belum pernah dipolakan oleh pemerintah daerah. “Selama ini dilepas hanya dilakukan individu-individu, sehingga ada yang ingat jalan, ada yang nggak,” ungkap Ketua DPD Partai PDI Perjuangan Provinsi Bali ini.

 

Maka itu, kata Koster tata-titi ini harus dijadikan pedoman, karena memiliki nilai luar biasa. “Leluhur kita luar biasa. Bisa menciptakan ajaran seperti ini. Apa yang diwariskan ini, tembus jaman. Diperlukan sepanjang jaman, tidak pandang Suku, Ras, Agama. Maka saya yakin, dulu Bali dikenal karena warisan peradaban. Ini yang harus dijaga, apalagi didorong Iptek dengan perubahan begitu cepat. Kalau tidak ngeh, bisa tergelincir. Positif iya, negatifnya muncul juga. Kita bisa kehilangan jati diri,” terang Koster.

 

Agar tidak sampai terjadi, tata-titi kehidupan masyarakat Bali harus dipahami sampai ke akar rumput. “Jadikan life style kehidupan di Bali. Jadi kalau kita sebagai generasi penerus melaksanakan tidak bisa, lupa lagi, berkhiatan apalagi. I’am sorry, tidak boleh. Kita musti ajeg taat pada warisan leluhur. Dunia sekarang sedang mencari bentuk, Bali sudah punya tinggal pakai. Maka saya yakin dunia akan belajar ke Bali. Akarnya ada di Bali, Sad Kerthi ada di Bali. Kita harus bangga. Orang Bali yang sedikit ini adalah keturunan orang hebat,” jelas Koster.

 

Lebih lanjut dijelaskan, SE Tata-titi ini diluncurkan bertujuan untuk melestarikan nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi yang merupakan warisan adiluhung dari leluhur/tetua Bali dalam menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam, manusia/Krama, dan kebudayaan Bali secara Niskala, sekala yang orisinil, genuine Bali. Kedua, menjadikan nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi untuk mengembangkan manusia/Krama Bali yang berkarakter, berhati diri, berkualitas, berdaya saing dan bertanggung jawab guna menghadapi permasalahan dan tantangan dinamika perkembangan zaman dalam skala lokal, nasional dan global.

BACA JUGA:  Pelaksanaan Operasi Ketupat Agung 2021 Turunkan Kasus Covid di Denpasar

Ketiga, menjadikan nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi sebagai dasar untuk mengembangkan tata-titi kehidupan masyarakat Bali yang kang tata titi tentram kerta raharja.

Selanjutnya mengimbau Pimpinan Lembaga Vertikal di Bali, Walikota/Bupati se Bali, Bandesa Agung MDA Provinsi Bali, Bandesa Madya MDA Kabupaten se Bali, Bandesa Alitan MDA Kecamatan se Bali, Pimpinan Lembaga Pendidikan se Bali, Perbekel dan Lurah se Bali, Bandesa Adat se Bali, serta pimpinan organisasi kemasyarakatan dan swasta se Bali agar mensyukuri, menghormati dan memuliakan warisan adiluhung dari Panglingsir, Guru-guru suci, leluhur dan lelangit Bali berupa nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi yaitu : Atma Kerthi, Segara Kerthi, Danu Kerthi, Wana Kerthi, Jana Kerthi, dan Jagat Kerthi. Agar tata-titi ini dilaksanakan dengan prinsip niskala-sekala, pakerthi Yadnya, lascarya dreda Bhakti, desa mawacara, Bali mawacara, negara mawatata, Gilik Saguluk paras Paris Salunglung sabayantaka sarpana ya dan Nitya berkelanjutan. Stake holder terkait juga diimbau agar memahami menghayati menerapkan dan melaksanakan tata-titi tersebut. Menjadikan nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi sebagai laku hidup masyarakat Bali dalam kehidupan berkeluarga bermasyarakat berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila 1 Juni 1945, UU Dasar Negara RI Tahun 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

“Desa Adat agar menyusun dan menetapkan Pararem tentang tata-titi ini sesuai dresta di wewidangan Desa Adat. Mensosialisasikan dan menyebarluaskan kepada masyarakat Bali. Terakhir, masyarakat yang beragama Islam, Katolik, Kristen, Budha dan Konghucu dapat melaksanakan sesuai agama dan keyakinan masing-masing. Edaran ini mulai berlaku sejak Selasa, Anggara Kliwon Tambir 4 Januari 2022,” tegas Koster.(bbo)