Diserang Penyakit Misterius, Petani Cabai di Bungaya Merugi

Nengah Tampi menunjukkan kondisi cabai yang telah membusuk. (FOTO : dsk/Beritabalionline.com)

Beritabalionline.com -Di tengah melambungnya harga cabai, petani cabai di Desa Bungaya, Kecamatan Bebandem, Karangasem justru merugi. Hektaran lahan cabai diusia siap panen membusuk. Kondisi ini membuat petani merugi jutaan rupiah.

Hal tersebut diungkapkan salah satu petani, Nengah Tampi. Diwawancarai beberapa waktu lalu, ia menuturkan kondisi ini telah terjadi hampir sebulan terakhir. Awalnya hanya satu pohon yang buahnya membusuk, lantas dalam hitungan jam menyebar hampir di seluruh pohon dalam satu ladang.

“Ini bukan hanya saat ini, sebelumnya juga sering terjadi. Khususnya saat musim hujan. Kami sangat berharap bantuan pemerintah, ” papar Tampi. Lebih lanjut, ia menuturkan meski telah beberapa kali terjadi, hingga kini sebab dari penyakit cabai ini masih misterius.

Menutup sedikit kerugian, petani terpaksa memanen cabai usia muda. Meski masih hijau, petani bersyukur harga jual masih cukup tinggi. “Perkilogramnya cabai hijau masih laku diharga 20 ribuan. Bersyukur, sebab bisa menutup sedikit kerugian. Walau hasil panennya juga tak seberapa karena lebih banyak yang membusuk, ” paparnya.

Tak hanya di Desa Bungaya, sejumlah lahan cabai di wilayah lainnya, salah satunya di Kecamatan Sidemen juga mengalami hal yang sama. Kondisi ini sering terjadi sejak beberapa tahun belakangan, terlebih saat musim hujan tiba.

“Kalau begini terus, kami akan rugi terus. Kami berharap pemerintah tidak membiarkan. Kami berharap ada solusi untuk mengobati cabai kami ini, ” pungkasnya. (dsk)

 

BACA JUGA:  Wagub Cok Ace Tegaskan Bali Siap Terima Kunjungan Wisman pada 11 September