Masa Pandemi Tak Jadi Penghalang Perajin Bali Tetap Berproduksi

Para pekerja menyelesaikan proses pembuatan kerajinan anyaman bambu. (FOTO : ist)

Beritabalionline.com – Di masa pandemi Covid-19 yang masih melanda negeri ini, penguasaan teknologi informasi menjadi peran utama bagi perajin untuk mempermudah mereka memperkenalkan dan memasarkan produknya dengan mencantumkan harga, label, kualitas bahan, serta keunggulan produk yang ditawarkannya.

Seorang perajin anyaman bambu di Desa Bona, Gianyar, Bali, Made Sumiartha yang ditemui Kamis (16/12/2021) mengatakan bahwa ia dan teman-temannya sesama perajin kini mulai mencoba  mengubah cara-cara memasarkan produk kerajinannya di masa pandemi Covid-19.

“Situasi pandemi ini membuat saya dan teman-teman sesama perajin harus mengubah  aktivitas pemasaran dan jual beli yang dulunya dilakukan secara konvensional menjadi pola pemasaran berorientasi pada teknologi informasi (secara online, red),” tuturnya.

Ditambahkan, perubahan situasi ekonomi di masa pandemi saat ini mendorongnya  untuk lebih menguasai teknologi informasi guna memudahkan memasarkan produk kerajinannya agar tetap aman dari ancaman penyebaran Covid-19.

Sebagai pelaku usaha, khususnya produk kerajinan, lanjut Sumiartha ia harus tetap survive dan tetap berusaha. Karena tak bisa dipungkiri, penyebaran Covid-19 yang cepat, memang telah mengubah pola interaksi antara pengusaha dan pelanggan.

Hal senada juga disampaikan Ni Nyoman Artini perajin anyaman bambu lainnya dari Desa Bona, Gianyar. Menurutnya, sebagai pelaku usaha produk kerajinan rumah tangga, sejak pandemi Covid-19 ia telah merasakan penurunan penjualan yang drastis atau bahkan kehilangan pelanggan sama sekali.

Ibu dua orang putri dan satu putra ini mengaku, sejak pandemi banyak memberhentikan tenaga kerja karena sepi orderan. “Dulu sebelum pandemi, saya mempekerjakan belasan tenaga kerja, namun sejak pandemi satu persatu saya berhentikan karena hasil penjualan yang didapat tidak sebanding dengan biaya operasional, terutama menggaji tenaga kerja,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Bupati Badung Gelontorkan Bantuan Kepada 4.160 Pelaku UMKM

Sebagai perajin anyaman bambu, baik Made Sumiartha dan Ni Nyoman Artini sebagian besar produk yang dihasilkan berupa alat-alat rumah tangga seperti tempat nasi, tempat kue, lampu hias, pot bunga, keranjang bambu, dan berbagai produk untuk kepentingan sarana upacara keagamaan umat Hindu di Bali.

Dijelaskan, jika sebelum pandemi dalam sehari ia bisa menghasilkan 30 sampai 50 buah beraneka produk kerajinan anyaman bambu dengan ukuran dan bentuk yang berbeda dengan harga jual antara Rp50 ribu hingga Rp500.000 per buah. Namun sejak pandemi Covid-19 menerpa Bali, ia hanya bisa memproduksi aneka kerajinan anyaman bambu antara 10-20 buah  per hari.

Namun demikian, Artini dan Sumiartha tetap bertahan menjalankan usahanya di masa pandemi Covid-19. “Walau di tengah ekonomi yang sulit, pandemi Covid-19 tidak menjadi alasan untuk menyerah. Justru sebaliknya, saya dan teman-teman perajin tetap bertekad melanjutkan usaha dengan memanfaatkan situasi sekarang ini untuk merancang strategi branding produk yang lebih baik,” ujar Artini, dengan nada semangat.

“Branding adalah usaha untuk membangun citra yang baik pada sebuah produk atau usaha. Branding sangat penting untuk dibangun. Dan itu yang saya lakukan saat ini,” imbuhnya.

Produksi keranjang dari anyaman bambu di Kabupaten Bangli, Bali. (FOTO : ist)

Pemasaran Online Solusi Terbaik di Tengah Pandemi

Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekrnasda) Provinsi Bali, Ny Putri Suastini Koster dalam berbagai kesempatan berdialog dengan para perajin dan pelaku usaha lokal menekankan pentingnya branding yang dirancang khusus dengan strategi pemasaran online.

“Branding yang dirancang khusus merupakan solusi terbaik yang bisa dilakukan bagi pelaku usaha di masa pandemi Covid-19 saat ini,” sarannya.

Branding, sambungnya, adalah upaya membangun citra yang baik pada sebuah produk atau usaha. Ini penting dilakukan para perajin Bali untuk memperkenalkan dan memasarkan produk kerajinan Bali kepada khalayak yang lebih luas.

BACA JUGA:  Angkut 6 Turis Jepang, Garuda dari Narita Mendarat di Ngurah Rai

Menurut Suastini Koster, penguasaan teknologi informasi merupakan sebuah keharusan untuk bersaing merebut pasar, terutama pada masa pandemi Covid-19 yang hingga kini belum diketahui kapan akan berakhir.

“Seberapa mampu kita bersaing secara sehat dan paten dalam mempromosikan produk kerajinan yang dimiliki dengan penguasaan teknologi dan informasi. Sehingga memudahkan pengusaha/perajin untuk memasarkan produknya. Dengan kata lain, setiap pengusaha memanfaatkan kecerdasannya untuk berkembang dan mengepakkan sayap secara online dan tidak menjadikan wabah Covid-19 sebagai alasan untuk menyerah,” kata Suastini Koster yang notabena adalah istri Gubernur Bali, I Wayan Koster.

Selain itu, para perajin atau pengusaha juga bisa memanfaatkan fasilitas media sosial untuk menunjang kegiatan promosi dan pemasaran produknya. Dia menegaskan bahwa pada  masa transisi atau adaptasi, kebiasaan baru saat ini, promosi dan pemasaran pola seperti itu akan terus diperlukan.

Lanjut dia, penyebaran Covid-19 yang cepat telah mengubah pola interaksi antara pengusaha dan pelanggan. Banyak perajin atau pengusaha mulai merasakan penurunan penjualan yang drastis, bahkan tidak memiliki pelanggan sama sekali.

“Beberapa pelaku usaha mungkin berpikir untuk menghentikan usahanya pada masa pandemi Covid-19 ini. Namun jangan menjadikan Covid-19 sebagai alasan untuk menyerah. Sebaliknya, perajin atau pengusaha lebih baik memanfaatkan situasi sekarang ini untuk merancang strategi branding produk yang lebih baik,” demikian Suastini Koster. (sdn)