Diduga Lakukan Penggelapan dan Pencucian Uang, Dua Wanita Ini Dituntut 5 Tahun Penjara

Dua terdakwa yang diduga lakukan penggelapan dan pencucian uang. (FOTO : Sar/Beritabalionline.com)

Beritabalionline.com – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Eddy Artha Wijaya akhirnya menuntut dua wanita yang diduga melakukan tindak pidana penggelapan dalam jabatan dan tindak pidana pencucian uang dengan hukuman penjara masing-masing selama 5 tahun.

Kedua wanita tersebut adalah Ni Made Weni dan Putu Eka Arini. Keduanya dalam sidang, Selasa (7/12/2021) oleh jaksa dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana penggelapan dalam jabatan dan tindak pidana pencucian uang.

Perbuatan terdakwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 374 KUHP Jo Pasal 55 ayat (1) KUHP dan Pasal 3 UU No 8 tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

“Oleh karena itu memohon kepada majelis hakim yang menyidangkan perkara ini untuk menghukum kedua terdakwa masing-masing dengan pidana penjara selama 5 tahun, denda Rp200 juta subsider 6 bulan kurungan,” demikian amar putusan jaksa yang dibacakan di muka sidang.

Atas tuntutan itu, kedua terdakwa melalui kuasa hukumnya sepakat untuk mengajukan pembelaan pada sidang selanjutnya.”Sidang pembelaan digelar pada hari Kamis tanggal 21 Desember 2021,” ujar jaksa Eddy Artha.

Seperti diberikan sebelumnya, kedua terdakwa merupakan karyawan Toko Wiswa Karya (WK) yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani Utara No. 99 X, Denpasar. Di toko milik saksi korban I Nyoman Cenik Suranta, terdakwa Ni Made Weni selaku kepala toko/kepala kasir sementara Putu Eka Arini selaku kepala accounting.

Selaku kepala toko, Made Weni mempunyai tugas dari pagi melayani konsumen membuat nota atas barang yang dibeli, menerima uang pembayaran dari konsumen untuk selanjutnya ditaruh pada meja kasir bersama para kasir lainnya yaitu Ayu Prastiani Liquina, Siti Zulaikah, Ni Kadek Kris Wahyuni dan Wayan Sri Widiantari.

BACA JUGA:  Tersinggung Ditegur Naik Motor Zigzag, Oknum Anggota Ormas Aniaya Sepasang Kekasih

Selanjutnya dari jam 14.00 Wita, Made Weni bertugas di belakang meja kasir untuk menghitung dan merapikan atas uang hasil penjualan serta menyiapkan uang hasil penjualan sesuai jumlah yang tertuang pada rekapan laporan harian.

Sedangkan Putu Eka Arini selaku kepala accounting mempunyai tugas menginput nota penjualan dan nota pembelian pada system di komputer, mengecek orderan barang, membuat laporan harian dan laporan bulanan.

Terhadap uang hasil penjualan yang ada di kasir, setelah jam 14.00 Wita dirapikan dan hitung jumlahnya oleh Ni Made Weni, sore harinya Putu Eka Arini memberitahukan tentang jumlah atau besaran penjualan yang telah diinput ke system kepada terdakwa Ni Made Weni dan juga mengirim melalui group WA (WK Officer).

Kemudian, Ni Made Weni menyiapkan uang tersebut untuk selanjutnya diambil I Nengah Sudana dan diberikan kepada saksi Komang Onik Putriani untuk disetorkan ke Bank BRI keesokan harinya.

Terungkapnya perbuatan kedua terdakwa bermula dari kecurigaan saksi Komang Onik Putriani ketika melakukan penyetoran atas uang hasil penjualan pada Bank BRI Cabang Gatsu.

Di mana sering terjadi selisih antara nominal yang tertera pada nota dengan fisiknya. Saksi Komang Onik bersama Ni Putu Desi Yuliantari kemudian menuju gudang untuk melakukan pengecekan, Senin (27/7/2020).

Di sana saksi akhirnya mengetahui bahwa data yang diinput pada system tidak sesuai dengan nota penjualan. Sebagai contoh pada nota penjualan tertera jumlah besi yang terjual sebanyak 10 biji, namun yang diinput pada system hanya 4 biji, begitu yang dilakukan seterusnya.

Selanjutnya saksi Komang Onik Putriani bersama Ni Putu Desi Yuliantari mengumpulkan data yang ada dan mengeprint data yang diinput pada system untuk dilaporkan kepada pemilik I Nyoman Cenik Suranta.

BACA JUGA:  Ipung Minta Oknum Petugas P2TP2A Perkosa Korban Pemerkosaan Dihukum Berat

Dari data yang terkumpul, kedua terdakwa diketahui telah mengambil sebagian uang penjualan besi baja Toko Wiswa Karya (WK) sejak Maret 2015 sampai dengan Juli 2020.

“Bahwa berdasarkan laporan auditor independen tanggal 23 Agustus 2021, penyimpangan yang dilakukan terdakwa telah menyebabkan kerugian keuangan Toko WK sejumlah Rp3.192.951.310,” ungkap jaksa. (sar)