Penjara Dipenuhi Napi Narkotika, BNN Dorong Upaya Rehabilitasi

BNN Provinsi Bali menangkap selebgram berinisial JF dan manager THM berinisial DHS karena menggunakan narkoba. (FOTO : ist)

Beritabalionline.com – Badan Narkotika Nasional (BNN) RI kini tengah gencar melakukan upaya rehabilitasi terhadap para pecandu narkotika. Hal ini juga dilakukan pihak BNN Provinsi Bali.

“Kita merehabilitasi dengan menyasar kepada orang yang sudah terlanjur menjadi pecandu, dan mereka yang menjadi korban penyalahgunaan narkoba,” kata Kepala BNN Provinsi Bali Brigjen Pol. Gde Sugianyar Dwi Putra, Kamis (4/11/2021) di Denpasar.

Menurutnya, rehabilitasi harus dilakukan seperti orang sakit yang harus diobati. Demikian juga ketika orang yang menjadi pecandu narkoba, harus pula direhabilitasi.

“Kalau kita tidak lakukan rehabilitasi, semakin hari kebutuhan akan narkoba akan semakin meningkat. Kenapa, karena narkoba memiliki sifat yang semakin hari membutuhkan dosis lebih tinggi,” jelasnya.

Brigjen Pol. Gde Sugianyar menyebut, harga sabu per gram di Bali mencapai Rp1,7 juta. Jika sudah parah, pecandu bisa menggunakan sabu satu gram setiap kali memakai.

Kondisi ini kemudian mendorong seorang pecandu menjadi pengedar narkoba untuk memenuhi kebutuhannya. Apalagi mereka tidak memiliki cukup uang setelah tidak bekerja akibat dampak pandemi Covid-19.

Belum lagi Lembaga Pemasyarakatan (LP) maupun Rumah Tahanan (Rutan) di Bali telah over kapasitas. Bahkan 70 persen narapidana di LP Kerobokan merupakan napi yang terjerat kasus narkotika.

“Kenapa pendekatan yang kita lakukan adalah dengan rehabilitasi, untuk menjaga kesehatan karena LP over kapasitas, serta mengurangi permintaan akan narkoba,” ucapnya.

“Penegakan hukum tetap kita lakukan tetapi prioritas kita kepada para bandar, bukan kepada mereka yang menjadi tukang tempel untuk kebutuhannya sendiri,” tegasnya.

Kendati demikian, rehabilitasi tidak serta merta diberikan. Mereka yang ditangkap terlebih dulu dicek berapa banyak jumlah barang buktinya. Setelah itu dilakukan asesmen secara terpadu yang melibatkan BNN, polisi, kejaksaan, dokter hingga ahli kejiwaan.

BACA JUGA:  Terungkap, Hp yang Diembat Pria Asal NTT Milik Seorang PSK Danau Tempe

Hal ini dilakukan untuk memastikan apakah orang yang ditangkap tersebut terlibat jaringan pengedar narkoba atau bukan.

“Kalau dia tidak terlibat jaringan akan disampaikan tidak terlibat. Kemudian sejauh mana tingkat kecanduannya, kalau dia tingkat rendah, sedang atau berat, dia akan direkomendasikan untuk tindak lanjutnya,” terang Sugianyar.

Ia menampik ketika disinggung jika kebijakan rehabilitasi hanya untuk pemakai narkoba yang memiliki banyak uang. Menurutnya, rehabilitasi diberikan kepada pecandu narkoba tanpa melihat status.

Hanya saja lanjutnya, semua dikembalikan kepada aparat penegak hukum terkait apakah mau menggunakan asesmen hasil terpadu ini untuk proses hukum selanjutnya.

“Persoalan nanti hakim berani apa tidak menjatuhkan vonis rehabilitasi sesuai hasil asesmen terpadu, kita kembalikan kepada yang menangani. Kalau di kita tidak ada bedanya, banyak yang kita rekomendasi untuk direhabilitasi,” demikian Kepala BNN Bali. (agw)