Lirik Peluang Usaha VCO di Tengah Pandemi Covid-19

Salah satu produk minyak kelapa murni (VCO) dari Bali. (FOTO : Ist)

Beritabalionline.com – Kelapa adalah tanaman yang paling sering dikenali dan dijumpai di masyarakat Indonesia. Penyebaran tanaman kelapa hampir di seluruh wilayah nusantara.

Penduduk Indonesia tidak akan pernah mampu untuk hidup tanpa adanya kelapa. Namun tahukah Anda bahwa Indonesia adalah produsen kelapa terbesar di dunia?

Sayangnya, dengan keunggulan volume produksi kelapa ini, banyak yang tidak menyadari bahwa Indonesia memiliki kekuatan bisnis dari kelapa ini. Apalagi, banyak juga yang tidak mengetahui bahwa pohon kelapa dapat diolah semua bagiannya.

Sebetulnya terdapat beberapa produk kelapa yang memiliki prospek tinggi dalam bisnis. Salah satunya adalah produk olahan kelapa yang sangat potensial untuk digarap oleh industri kecil, yang tidak membutuhkan mesin dan teknologi tinggi dan volume besar tapi diapresiasi tinggi sekali oleh pasar ekspor. Produk tersebut adalah Virgin Coconut Oil (VCO).

Produk kopra atau minyak kelapa merupakan produk kelapa yang patut dioptimalkan lebih lagi potensinya. Salah satu produk minyak kelapa yang bernilai tinggi di pasar adalah VCO yang beberapa tahun belakangan ini permintaan pasarnya meningkat pesat.

Berangkat dari ketersediaan bahan baku buah kelapa yang berlimpah rupanya menjadi potensi besar yang bisa dikembangkan masyarakat di tengah pandemi Covid-19. Potensi inilah yang kemudian dilirik masyarakat Desa Kemenuh Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali untuk mengolahnya menjadi VCO.

“Potensi besar yang ada di Desa Kemenuh belum digarap secara optimal,” terang Dr Ni Komang Nariani, SE., MM., didampingi Dr. Putu Sabda Jayendra, S.Pd.H.,M.Pd.H., Firlie Lanovia Amir, SE.,M.Par NIDN., dan Dr. Gusti Ngurah Yoga Semadi.,S.Ag.,M.Si., dari Institut Pariwisata dan Bisnis (IPB) Internasional,

BACA JUGA:  Bali Terapkan Ekonomi Kerakyatan dengan Semangat Gotong Royong

Hal itu disampaikan Komang Nariani di sela-sela kegiatan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dalam membentuk usaha Virgin Coconut Oil (VCO) di Desa Kemenuh Sukawati, Gianyar, baru-baru ini.

Dikatakan, selama ini produk VCO yang ada di Desa Kemenuh justru dibeli dari kabupaten lain seperti Tabanan, padahal produk minyak kelapa murni atau VCO  sangat digemari oleh wisatawan asing.

“Gianyar, terutama Desa Kemenuh ini kan Desa wisata, dan produk VCO sangat diminati wisatawan untuk suvenir. Berangkat dari situ, kami dari IPB Internasional menyelenggarakan program kemitraan masyarakat agar VCO bisa diproduksi secara mandiri,” tuturnya.

Dalam program kemitraan itu pihaknya menggandeng pengelola wisata Taman Kupu-Kupu dan Taman Anggrek Ida Bagus Witara, imbuhnya.

Tempat wisata dan usaha kerajinan sangat tergantung dari kunjungan wisatawan.  Komang Nariani mengatakan, pemahaman warga masyarakat terhadap potensi alam yang dimiliki dalam memanfaatkan hasil perkebunan masih rendah.

Terkait hal tersebut, diharapkan pengabdian IPB Internasional yang dilaksanakan menjadi tepat sasaran dan dapat dikembangkan secara berkelanjutan. L:ebih-lebih menyikapi situasi ekonomi sulit saat ini, dimana Bali tidak bisa berharap terlalu banyak di sektor pariwisata akibat gempuran pandemi Covid-19.

Lebih jauh Komang Nariani menjelaskan, fenomena yang terjadi setelah dilakukan observasi awal ke Desa Kemenuh menunjukkan bahwa dengan ditutupnya tempat usaha yang berkutat di sektor pariwisata, banyak warga masyarakat kehilangan pekerjaan secara otomatis mengurangi pendapatan yang diperoleh sebelum terjadinya pandemi Covid-19.

“Daya jual dan daya beli masyarakat menjadi rendah karena yang menjadi prioritas adalah biaya hidup sehari-hari dan kesehatan,” ujarnya.

Dukung Pariwisata

Ia berharap dengan adanya pelatihan yang dilakukan, akan terbentuk industri-industri kecil yang memproduksi VCO untuk mendukung sektor pariwisata jika kelak kembali menggeliat.

BACA JUGA:  Klungkung Siap Menuju Pertanian Organik

Sementara, Ida Bagus Witara sebagai ketua Ketua Badan Usaha Desa Adat Kemenuh mengatakan, pelatihan yang menggandeng IPB Internasional itu sebagai upaya mencari terobosan baru alternatif usaha. Sehingga masyarakat Kemenuh yang selama ini menggantungkan hidupnya dari pariwisata, memiliki usaha baru yang dapat menopang ekonomi mereka.

Salah satu inovasi itu dengan memanfaatkan potensi alam Desa Kemenuh yang kaya buah kelapa. Selama ini menurut pandangannya pemanfaatan buah kelapa hanya digunakan untuk keperluan rumah tangga.

“Secara ekonomis belum dimanfaatkan secara baik, padahal kita disini kaya dengan produk pertanian buah kelapa. Saya punya ide bagaimana memanfaatkan buah kelapa untuk memberi nilai tambah secara ekonomis bagi masyarakat,” ungkap Witara.

Dengan pelatihan yang dilakukan, lanjut Witara, pihaknya berkomitmen untuk tetap menjalankan usaha VCO di Desa Kemenuh. Sekalipun, nantinya pariwisata Bali kembali pulih. Sebab ia melihat, produk riil juga memiliki daya penetrasi untuk mendukung pariwisata.

“Ini juga bisa kita jual ke tamu asing dan bisa juga dimanfaatkan untuk masyarakat lokal. Sehingga VCO ini tidak harus tergantung kepada pariwisata,” demikian Ida Bagus Witara. (sdn)