Diduga Lakukan Pengancaman dan Pemerasan, Oknum Jenderal dan Pegawai BUMN Dipolisikan

Tim hukum dari Kantor RnB Law Firm melaporkan dugaan tindak pidana pengancaman dan pemerasan oleh oknum jenderal ke Polda Bali. (FOTO : Ist)

Beritabalionline.com – Seorang oknum jenderal bintang satu berinisial IW diadukan ke Polda Bali. Selain IW, turut juga diadukan seorang wanita berinisial AL. Keduanya diadukan oleh I Made Wirawan, Kamis (14/10/2021) sekitar pukul 13.Wita.

Oknum IW ini diadukan karena diduga menjadi beking AL untuk melakukan tindak pidana pengancaman dan pemerasan. Pengaduan warga Kuta terhadap Dua orang yang mengaku oknum Polisi dan oknum pegawai BUMN ini diterima dengan nomor Dumas/796/X/2021/SPKT Polda.

Made Wirawan mendatangi Mapolda Bali di Jalan WR Supratman Nomor 7 Denpasar didampingi penasihat hukumnya R Reydi Nobel dan rekan dari Kantor RnB Law Firm.

Kepada awak media, lelaki yang tinggal di Jalan Raya Legian Nomor 470, Kelurahan Legian, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung ini mengaku diancam IW, sedangkan AL diduga melakukan pemerasan hingga miliaran rupiah.

Made Wirawan menyebut, dugaan ancaman dan pemerasan yang dalam hal ini adalah butut dari utang piutang. Made Wirawan membantu adik iparnya I Nyoman Sutara pinjam uang kepada AL sebesar Rp2 miliar untuk modal usaha pada 6 januari 2021.

“Permintaan pinjaman sebanyak Rp2 miliar diindahkan, namun faktanya hanya dicairkan sebesar Rp1,480 miliar sesuai dengan bukti terlampir slip transfer PT bank Mandiri tertanggal 6 Januari 2021,” bebernya.

Dalam Akta pengakuan utang, Nyoman Sutara diberikan waktu pengembalian selama 3 bulan terhitung dari bulan pencairan uang. Disebabkan kondisi perekonomian di Bali belum sepenuhnya normal karena Covid-19 dan Bali masih dalam kondisi penutupan untuk pariwisata, maka terjadilah keterlambatan pengembalian utang.

“Jaminan dari pinjaman itu adalah tanah milik Made Wirawan (pelapor) seluas 500 meter persegi, berlokasi di Seminyak,” bebernya, sembari kembali menjelaskan setelah jatuh tempo Nyoman Sutara belum bisa melunasi utang tersebut.

BACA JUGA:  Dari Januari-Agustus, Kemenkumham Bali Deportasi 123 WNA

Akibatnya SHM milik Made Wirawan diambil AL. Karena tak kunjung lunas, IW dan AL memaksa Made Wirawan datang ke Bali awal Mei 2021. Dengan itikad baik, Made Wirawan menemui IW dan AL di salah satu penginapan di Legian.

“Dalam pertemuan tersebut, Made Wirawan diancam akan dibunuh dengan cara ditenggelamkan di dalam kolam oleh IW apabila tidak menuruti untuk menandatangani suatu perjanjian pembayaran tambahan di luar Akta Pengakuan Utang yang sebelumnya,” sambung Redy Nobel.

Ditambahkannya, dalam perjanjian yang lama itu, tertulis bahwa hutang Made Wirawan hanya Rp 2 Miliar, tapi malah disuruh bayar Rp9 miliar. “Dengan berbagai ancaman dan tekanan, akhirnya klien kami dengan terpaksa menandatangani perjanjian tersebut bersama dengan Nengah Sukiari,” bebernya.

Karena diduga ada ancaman dan pemerasan dalam pertemuan itu, maka pihaknya pun membawa persoalan ini ke ranah hukum dengan mengadukan kedua oknum tersebut ke Polda Bali.

“Menurut hemat kami sebagai kuasa hukum, munculnya nilai Rp9 miliar tersehut adalah paksaan dari pihak saudari AL dan IW kepada klien kami untuk menandatanganinya.  Walau, faktanya korban tidak pernah menerima uang sebesar atau sebanyak itu,” pungkasnya.

Terkait dengan ini, Anna Lukman yang dikonfirmasi via telepon enggan berbicara banyak. Bahkan dia tidak merespons beberapa pertanyaan wartawan. Dia pun menyarankan agar wartawan konfirmasi langsung ke Polda Bali. (sar)