7 Pelajar Lakukan Pengerusakan Bendera Merah Putih, Cuma Dikenakan Wajib Lapor

Bendera Merah Putih.

Beritabalionline.com – Tujuh pelajar di Kabupaten Gunungkidul merusak bendera merah putih dan umbul-umbul bernuansa kemerdekaan. Berkas perkara ketujuh remaja tersebut dilimpahkan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA). Namun mereka tidak ditahan dan dikenai wajib lapor.

Setelah selesai menjalani pemeriksaan di Mapolsek Wonosari didampingi orang tua masing-masing, ketujuh pelaku tersebut diperiksa UPPA Polres Gunungkidul pada Senin (16/8/2021) siang. Pemeriksaan guna mendapatkan keterangan lebih jauh terkait motif pelaku melakukan perusakan ini juga melibatkan BAPPAS.

Dikutip dari merdeka.com, Selasa (17/8/2021), Kanit Pidum Polres Gunungkidul Iptu Wawan Anggoro menyampaikan polisi sedang melakukan proses penyelidikan terhadap ketujuh pelaku perusakan. Kasus perusakan bendera merah putih termasuk sebagai perkara besar karena merusak lambang negara.

Meski ancaman hukumannya adalah 5 tahun penjara, tetapi dikarenakan pelaku masih anak-anak sehingga pihak kepolisian masih belum menetapkan akan dilakukan tindakan hukum atau pembinaan terhadap pelaku.

“Kasus tersebut termasuk kasus besar tapi kita juga memikirkan atas masa depan anak-anak. Sehingga antara pembinaan atau tindakan hukum itu masih kita akan bicarakan juga dengan BAPPAS dan Unit PPA,” ujar dia di sela pemeriksaan.

Karena statusnya masih anak di bawah umur, sementara pelaku masih ditetapkan sebagai Anak Berurusan dengan Hukum (ABH), maka ada perlakuan khusus. Saat ini, pihaknya masih melakukan proses penyelidikan sehingga pihaknya belum menaikkan ke proses penyidikan.

Pihaknya masih mendalami motif-motif pelaku melakukan perusakan bendera merah putih. Untuk sementara, para pelajar tersebut mengaku melakukan perusakan karena iseng. Mereka merasa senang usai melakukan perusakan sehingga kembali melakukan hal yang sama.

“Kami masih dalami motif kemudian pasal-pasal yang akan disangkakan saat ini juga kita masih menunggu dari pihak pelapor untuk menjelaskan duduk perkaranya,” bebernya.

BACA JUGA:  Seorang Dokter di Semarang Campur Sperma ke Makanan Istri Teman

Kanit UPPA Polres Gunungkidul Ipda Ratri Ratnasari, mengatakan, dari keterangan para pelaku, motif yang didapatkan sementara ini masih sebatas kenakalan remaja atau iseng. Namun, pihaknya masih mendalami apakah ada motif lain atau tidak karena perusakan ini dilakukan selama 3 hari berturut-turut di tempat berbeda.

“Pelaku perusakan bendera tidak dilakukan penahanan dan hanya dikenakan wajib apel,” tambahnya.

Ratri tidak membantah jika apa yang dilakukan para pelajar tersebut tidak lepas dari lamanya anak-anak tidak bersekolah. Namun tidak hanya itu, aksi perusakan tersebut juga karena lemahnya pengawasan orang tua terhadap anak-anak mereka.

Menurut Ratri, kelompok anak yang melakukan perusakan bendera tersebut adalah rekan sepermainan. Mereka berbeda sekolah, tetapi sering bermain bersama. Kelompok mereka juga belum mengarah ke genk motor meskipun beraksi menggunakan 4 sepeda motor.