Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus Perampasan Toko di Kuta

Kuasa Hukum Toko Mayang Art Market, Siswo Sumarto. (FOTO : ist)

Beritabalionline.com – Penanganan kasus dugaan pengerusakan dan perampasan Toko Mayang Art Market di Jalan Raya Legian, Kuta, Badung pada 2019 silam seolah tidak ada tindaklanjut dari kepolisian.

“Kita berharap polisi bekerja secara profesional. Kalau memang sudah ada tersangka, tolong ditindaklanjuti karena kasus ini sudah sangat lama,” kata Siswo Sumarto selaku kuasa hukum Toko Mayang Art Market, Jumat (13/8/2021) di Denpasar.

Menurutnya, jika masih ada kekurangan dalam berita acara pemeriksaan, kliennya bersedia datang ke kantor polisi untuk melengkapinya.

“Klien kami siap dipanggil kapapun oleh penyidik untuk dimintai keterangan guna tambahan berkas,” tegasnya.

Ia lantas menerangkan, kasus yang berlarut-larut ini berawal ketika pemilik Toko Mayang Bali Art Market bernama Sony dikenalkan dua orang temannya berinisial R dan A kepada F pada tahun 2017 silam.

Di sana kemudian terjadi transaksi pinjam meminjam uang antara Sony dan F dengan jaminan sertifikat tanah dan bangunan senilai Rp25 miliar. Dalam perjalanan F hanya membayar Rp19 miliar sementara sisanya Rp6 miliar belum dibayar.

“Memang dalam perjanjian disebut Rp25 miliar. Hanya yang menjadi persoalan baru diberi Rp19 miliar dan masih ada sisa Rp6 miliar belum dibayar. Kalau dilunasi, klien saya siap mengosongkan tempat tersebut. Ini belum lunas malah toko dikosongkan,” bebernya.

Pengacara yang akrab disapa Bowo ini menambahkan, pengosongan paksa toko dilakukan oleh F dengan menyuruh kurang lebih 30 orang, Selasa (7/5/2019) sekitar pukul 14.00 Wita.

Puluhan orang ini dengan didampingi oknum pengacara lalu mengusir para pegawai Toko Mayang Bali Art Market yang sedang bekerja dan menggembok pintu. Sebagian orang masuk menemui Sony di dalam toko, sementara yang lain menunggu di luar dan di seberang jalan.

BACA JUGA:  Oknum Akademisi di Denpasar Dipolisikan Karena Cemarkan Nama Baik Peradah

“Mereka mengaku disuruh F yang meminta untuk mengosongkan tempat lantaran toko akan diambil alih. Namun saat diminta menunjukan surat kuasa, perwakilan tersebut tidak dapat memperlihatkannya,” bebernya.

Dalam perkara yang berlangsung dua tahun lebih ini, polisi akhirnya menetapkan empat orang tersangka yakni MR, DT, AS dan BB. Berkas perkaranya sempat diserahkan ke Kejaksaan Negeri Denpasar tapi dikembalikan oleh jaksa lantaran dinyatakan belum lengkap. (agw)