Gelapkan Uang Penjualan Mobil, Oknum Pengacara Dituntut 5 Bulan Penjara

Terdakwa R. Teddy Raharjo. (FOTO : Istimewa)

Beritabalionine.com – Oknum pengacara bernama R Teddy Raharjdo (57) yang beberapa tahun lalu sempat dipenjara karena kasus narkoba, kali ini kembali dipenjara karena kasus penggelapan uang sebesar Rp30 juta.

Dalam sidang, Kamis (12/8/2021), pengacara yang berkantor di Jalan Tukad Batanghari ini dituntut hukuman 5 bulan penjara. Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ida Ayu Nyoman Surasmi di muka sidang menyatakan terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana penggelapan.

Pembuatan terdakwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 372 KUHP. “Memohon kepada majelis hakim yang menyidangkan perkara ini untuk menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 5 bulan,” sebut jaksa dalam sidang virtual.

Perbuatan terdakwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 372 KUHP. Sebelum menjatuhkan tuntutan, jaksa terlebih dulu membacakan hal-hal yang memberatkan dan meringankan sebagai pertimbangan dalam melakukan tuntutan.

Di sana disebut tidak ada hal-hal memberatkan. Sementara hal yang meringankan, yakni terdakwa sopan dalam persidangan dan mengakui perbuatannya.

Bahwa dalam persidangan terdakwa meminta maaf kepada saksi korban bernama Erwandi Ibrahim, dan melalui kuasa hukumnya terdakwa telah mengembalikan dan menyerahkan sisa uang hasil penjualan mobil kepada saksi korban sebesar Rp30 juta.

“Bahwa saksi korban telah memaafkan terdakwa dan sepakat untuk berdamai karena saksi korban sudah tidak mengalami kerugian lagi,” beber jaksa.

Atas tuntutan itu, terdakwa melalui kuasa hukumnya menyatakan mengajukan pembelaan secara tertulis pada sidang selanjutnya. “Tim kuasa hukum menyatakan mengajukan pembelaan secara tertulis,” kata Eddy Hartaka, salah satu kuasa hukum terdakwa.

Seperti diberitakan sebelumnya, kasus yang menjerat oknum pengacara ini bermula ketika saksi korban datang ke kantor terdakwa di Jalan Tukad Batanghari, Denpasar Selatan, Selasa (3/10/2017) silam.

BACA JUGA:  Bantah Perusahaan Bodong, Ini Penjelasan Kuasa Hukum PT DIM

Kedatangan saksi korban untuk membicarakan BPKB mobil miliknya yang hilang dan telah dijadikan agunan utang di sebuah koperasi oleh seseorang tidak dikenal.

Di sana terdakwa meminta saksi bernama Ali Samudra untuk mendampingi saksi korban menuju koperasi tempat BPKB dijadikan agunan untuk menyelesaikan masalah.

Singkat cerita setelah persoalan dengan koperasi selesai, saksi korban hendak membawa mobil miliknya ke bengkel. Namun saksi Ali Samudra menyarankan agar mobil tersebut dibawa ke bengkel dekat kantor terdakwa.

“Mobil tersebut lalu dititip di kantor terdakwa. Malam harinya, terdakwa menghubungi saksi korban dengan mengatakan bahwa mobilnya telah dibawa ke bengkel dan akan dihubungi lagi setelah selesai diperbaiki,” kata jaksa.

Tapi, pada Rabu (4/10/2017), terdakwa menjual mobil tersebut kepada saksi I Gede Oka Winaya seharga Rp40 juta tanpa sepengatahuan saksi korban.

Di satu sisi karena sudah terlalu lama tanpa kejelasan, saksi korban lalu menghubungi terdakwa untuk menanyakan mobilnya, namun selalu dijawab mobil belum selesai dan alasan lain.

Hingga akhirnya saksi korban diberitahu oleh istrinya jika mobil dimaksud telah dijual. Saksi korban kemudian menghubungi terdakwa dan terdakwa mengakui telah menjual mobil miliknya.

“Terdakwa kemudian meminta nomor rekening saksi korban dan kemudian mentrasfer Rp 10 juta pada 8 Januari 2018. Setelah itu terdakwa tidak menyerahkan uang sisa penjualan mobil hingga akhirnya saksi korban menderita kerugian Rp30 juta,” ungkap jaksa. (sar)