BNN Usulkan Pecandu Narkotika Direhabilitasi, Bukan Dipenjara

Foto ilustrasi pecandu narkotika.

Beritabalionline.com – Badan Narkotika Nasional (BNN) mengusulkan agar pecandu narkotika tidak lagi dipenjara melainkan dilakukan rehabilitasi. Hal itu terungkap dalam webinar Covid-19, Prison Overcrowding and Their Impact on Indonesia’s Prison System yang diadakan Ditjen PAS.

“Kondisi kelebihan kapasitas ini sangat berbahaya dalam konteks penyebaran Covid-19 dengan kondisi Lapas yang padat dan ventilasi udara yang kurang memadai,” kata Deputi Hukum dan Kerja sama BNN Drs. Puji Sarwono, Sabtu (7/8/2021).

“Berdasarkan fakta yang ada di lapangan, BNN mengusulkan beberapa rekomendasi salah satunya dengan tidak menjadikan sanksi pidana penjara sebagai muara, melainkan dengan memaksimalkan upaya rehabilitasi kepada pelaku,” lanjutnya.

Puji Sarwono menyebutkan bahwa berdasarkan data pada tahun 2019, sebanyak 78 persen dari 17.009 warga binaan di 9 Lapas di Jakarta merupakan pelaku tindak pidana narkotika.

Kondisi ini menyebabkan tujuan sistem pemasyarakatan yang awalnya hendak mengembalikan mereka menjadi warga negara yang baik menjadi sulit untuk dilakukan secara optimal.

“Kelebihan kapasitas ini sangat berbahaya, apalagi dalam konteks penyebaran Covid-19 karena kondisi Lapas yang padat dan ventilasi udara yang kurang memadai,” ujarnya.

Ditambahkan, usulan ini sejalan dengan laporan UNODC dalam World Drug Report 2011 yang menekankan bahwa penegakan hukum untuk mengurangi peredaran (supply reduction) harus disertai dengan kebijakan untuk mengurangi permintaan (demand reduction).

Hal lain yang menjadi rekomendasi dari BNN adalah pemaksimalan proses Tim Asesmen Terpadu (TAT) dalam menentukan kriteria tingkat keparahan pengguna narkotika serta rekomendasi terapi dan rehabilitasi yang tepat dalam menangani pecandu narkotika.

Ini sesuai dengan amanah dari Pasal 54 Undang-undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2009 yang menyebutkan bahwa pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.

BACA JUGA:  Berisiko Jadi Sumber Penularan Covid-19, Satgas Ingatkan Titik Lengah Selama Masa Iduladha

“Sehingga permasalahan penyalahgunaan narkotika tak lagi bermuara pada sanksi pidana penjara, melainkan bermuara di tempat rehabilitasi,” tegasnya. (agw)