Digempur Pandemi Covid-19, Perajin Perak Pulau Dewata: Tak Ada Kata Menyerah

Wisatawan mancanegara mengunjungi sentra kerajinan perak di Celuk, Kabupaten Gianyar, Bali. (FOTO : Istimewa)

Beritabalionline.com – Setahun belakangan ini, perekonomian Bali terpuruk akibat gempuran pandemi virus Corona atau Covid-19. Namun kondisi ini tidak membuat para perajin Bali menyerah begitu saja. Mereka justru terpacu untuk meningkatkan inovasi baru dan kreativitas guna menghasilkan produk yang menarik dan berkualitas.

“Kami tidak mau menyerah dengan keadaan dan terus berusaha mencari ide dan gagasan baru demi menyambung kehidupan keluarga di masa pandemi Covid-19,” kata Luh Widiastini, seorang perajin perak saat ditemui di rumahnya di kawasan Celuk, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali, Minggu (27/6/2021).

Menurut penuturan ibu dua orang putra dan satu putri ini, ia dan rekan-rekannya sesama perajin perak terkena dampak pandemi Covid-19. “Dulu sebelum pandemi, kami mampu menerima pesanan ratusan unit perak untuk satu model, namun di masa pandemi Covid-19 hanya menerima pesanan puluhan unit, bahkan satuan unit saja,” akunya.

Tidak hanya itu, lanjut Widiastini, saat ini ia juga mengalami kesulitan untuk memasarkan produk kerajinan peraknya ke luar negeri karena terkendala pengiriman. “Selain pesanan yang menurun drastis, kami juga terkendala masalah pengiriman barang ke luar negeri,” ungkapnya.

Pengakuan senada juga disampaikan seorang perajin perak bernama Komang Astuti. Menurut istri dari pria bernama Gede Sutama ini, pandemi Covid-19 yang berkepanjangan membuat usaha yang digelutinya selama hampir 12 tahun ittu, kini terseok-seok, bahkan nyaris berada di ambang kebangkrutan.

Namun sama seperti rekan-rekannya sesama perajin perak, ia tidak mau menyerah begitu saja. “Tak ada kata menyerah. Saya tetap tegar dan berupaya untuk terus berproduksi, kendati pesanan dan volume produksi menurun drastis,” tuturnya.

Astuti menjelaskan, jika sebelum Covid-19 menggempur industri pariwisata Bali, ia mampu mempekerjakan 20 orang tenaga kerja. Namun sejak pandemi, tenaga kerja yang dimiliki kini hanya tersisa empat orang, itu pun kerjanya tidak setiap hari.

“Jika dulu kami punya 20 tenaga kerja, namun sejak April lalu tenaga kerja yang kami miliki tinggal empat orang saja. Itu pun mereka bekerja kalau lagi ada orderan, kalau tidak ya terpaksa nganggur,” terangnya.

BACA JUGA:  Ketua Dekranasda Bali Motivasi Perajin agar Tak Mati Suri di Masa Pandemi Covid-19

Baik Widiastini maupun Astuti sama-sama mengakui bahwa kondisi ekonomi yang sulit saat ini membuat daya beli masyarakat dan wisatawan juga menurun drastis.

“Dampak krisis ekonomi global yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 membuat orang berpikir membelanjakan uangnya untuk hal-hal yang berbau konsumtif. Mereka lebih mengutamakan bagaimana bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari terutama makan dan membiayai kelanjutan pendidikan anak-anaknya sekolah,” jelas ibu dua orang anak ini.

Terlepas dari kondisi sulit yang dihadapinya saat ini, Astuti mengatakan tetap berkomitmen untuk tidak menutup usaha kerajinan peraknya. “Saya akan terus melanjutkan usaha kerajinan perak ini sampai saatnya nanti pariwisata Bali kembali normal dan banyak wisatawan mancanegara berkunjung ke Bali seperti sebelum terjadi pandemi Covid-19,” harapnya.

Di sisi lain, Astuti juga mengatakan, kendati volume produksi dan pesanan dari konsumen menurun drastis, tidak membuat dirinya patah semangat. “Justru di tengah pandemi ini  saya menjadi lebih kreatif dan inovatif untuk menciptakan produk-produk baru yang memiliki nilai jual tinggi melalui desain yang saya ciptakan sendiri,” ujarnya.

Memodifikasi Model dan Ciptaan Baru
Sementara secara terpisah, Ketua Dekranasda Provinsi Bali Ny Putri Suastini Koster saat menjadi narasumber dalam dialog Apa Kabar UMKM (AKU Bali) dengan tema “Bangkitnya Kerajinan Perak Bali” bersama Ketua APB (Asosiasi Perak Bali) I Nyoman Patra, baru-baru ini, mengingatkan agar perajin Bali tidak boleh lemah karena pandemi Covid-19.

“Perajin Bali tidak boleh lemah, tidak boleh putus asa, bahkan tidak boleh berkeinginan untuk menutup usahanya saat masa pandemi Covid-19 yang hingga saat ini belum berakhir,” katanya, mengingatkan.

Malah sebaliknya, pesan Putri Koster, perajin Bali harus mampu menggunakan kesempatan seperti ini (pandemi Covid-19, red) untuk mulai berkarya dalam menciptakan inovasi baru yang nantinya dapat memodifikasi model dan ciptaan baru dari karya yang dihasilkan.

BACA JUGA:  Menkeu Sri Mulyani Sebut PSBB Jawa-Bali Berdampak terhadap Perekonomian

“Apabila saat ini kita tidak bisa memasarkan hasil produksi ke luar negeri karena pengiriman yang terhambat, maka sebaiknya kita tetap melakukan pemasaran via online khusus bagi saudara-saudara kita yang ada di dalam negeri, termasuk saudara kita yang ada di Bali,” pesan istri orang nomor satu di jajaran Pemprov Bali ini.

Dikatakan, bagi perajin yang sudah memiliki nama (brand), dipersilahkan masuk dan bergabung ke dalam Baliyoni Group (Balimall) yang sudah ada pada aplikasi online. Dengan bergabung, maka semua barang kerajinan mulai dari harga dan kualitas, juga akan dapat diketahui oleh calon konsumen. Sehingga dari segi pemasaran dirasakan tidak akan begitu sulit, katanya, menekankan.

Putri Koster melanjutkan, untuk meningkatkan ketertarikan generasi muda agar mau meneruskan usaha produksi perak, perlu dilakukan perubahan sistem dan pola pemasaran, yang nantinya akan berimbas pada kesejahteraan perajin.

“Perak merupakan kerajinan tangan yang memiliki kualitas terbaik di mancanegara. Untuk tetap berkarya, perlu rasa optimisme sebagai kekuatan saat ini. Dengan bermodalkan rasa optimisme dan memperkuat keyakinan, maka para perajin IKM/UKM kita akan dapat berkreativitas dan mengembangkan ide-ide baru,” ujarnya.

Ditambahkan, melestarikan usaha kerajinan tangan adalah tugas bersama karena Bali memiliki ciri khas yang unik yang dituangkan pada karya kerajinan, sehingga dapat menentukan produk dan menjaga kestabilan harga. Maka diperlukan kerja sama dan koordinasi antara pemerintah dengan perajin UKM/ IKM, di mana perajin memiliki kewajiban dalam menata keteraturan produksi dengan mempertahankan desain yang terbatas (limited edition).

Dengan kemauan yang tinggi, maka perajin perak harus mampu mempertahankan karya dan kreativitas dalam menghasilkan karya yang unik dengan peningkatan kualitas, peningkatan mutu dan bahan perak yang murni, maka Ketua Dekranasda Bali yakin UMKM perak dapat mempertahankan sebutan Bali sebagai penghasil perak terbaik di dunia.

Untuk tetap mempertahankan identitas sebuah karya perak yang diciptakan, maka seorang perajin harus tetap menciptakan karyanya yang berpatokan dengan cerita atau sejarah leluhur yang menggambarkan karakter Bali yang kental dengan nuansa sakral.

BACA JUGA:  Kenapa Pinjol Ilegal Sulit Diberangus? Ini Penjelasan Satgas Waspada Investasi

“Jangan berpatokan bisnis semata, lantas kita abaikan tugas kita untuk melestarikannya. Mari kita jauhkan dunia tipu-tipu apabila kerajinan itu terbuat dari perak maka wajib bagi produsen bahkan seller untuk mengatakan perak, dan apabila kerajinan tersebut terbuat dari alpaka maka penjual wajib mengatakan berbahan alpaka, agar tidak merusak pasar dan menyebabkan kita kehilangan konsumen,” pesannya.

Ia menambahkan, peran Dekranasda adalah menyampaikan produk produsen kepada konsumen, sehingga dengan adanya Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) diharapkan mampu menjadikan perajin semakin disiplin untuk menjaga hasil karyanya agar tidak ditiru oleh perajin lain dan pihak lain yang ada di luar Bali.

“Dengan pesanan yang banyak atau kuantitas yang banyak, maka generasi muda juga akan tertarik untuk turut melestarikan dan mengembangkan kekayaan leluhur kita, dengan membenahi sistem dan pola yang nantinya akan berpengaruh terhadap kesejahteraan, maka pekerjaan untuk meneruskan pelestarian leluhur akan dicintai oleh generasi muda dan secara tidak langsung mereka juga akan bangga untuk menciptakan karya seni yang lebih inovatif,” ujar Putri Koster.

Untuk mencapai hasil yang maksimal, maka pemerintah dengan perajin UKM/ IKM harus bergandengan tangan untuk menyiapkan pasar, sarana prasarana, meningkatkan sumber daya manusia (SDM) sekaligus menguasai teknologi untuk mempromosikan hasil produksinya.

Ketua Asosiasi Perak Bali (APB) I Nyoman Patra mengatakan, motivasi yang luar biasa dari Ketua Dekranasda memberikan kesempatan bagi perajin untuk melakukan gerakan baru, terutama pelaku UMKM dengan menyediakan tempat pameran Bali Bangkit, karena pemetaan dunia menunjukkan Bali terimbas sangat besar akibat pandemi Covid-19 yang setahun ini belum juga berakhir.

“Dengan mengembangkan diri, maka dapat diyakini akan mampu membangkitkan hasil perak untuk dunia, sehingga dukungan perajin dalam menciptakan karya yang unik dengan kualitas dan bahan yang baik akan menjadikan UMKM perak Bali mampu kembali bersaing di kancah internasional,” demikian Patra. (sas)