Sadis, Oknum Polisi di Sorong Tega Bakar Istri hingga Tewas

Foto ilustrasi polisi.

Beritabalionline.com – Bripka I Putu Susitana, anggota Polres Sorong Kota tega membakar istrinya sendiri, BD, pada hari Selasa (22/6/2021). Akibat kejadian tersebut, BD tewas.

Dikutip dari merdeka.com, Kapolres Sorong Kota AKBP Ary Nyoto Setiawan mengungkapkan, motif pelaku membakar istrinya sendiri diduga karena masalah perekonomian. Sebab, lanjut dia, pelaku sempat bermaksud mengajukan pinjaman sebesar Rp350 juta.

“Iya permasalahan ekonomi. Yang bersangkutan bermaksud mengajukan pinjaman di bank. Namun saya tolak karena untang pinjamannya sudah banyak. Penghasilannya tidak mencukupi juga mengajukan pinjaman lagi. Pengajuannya Rp350 juta. Kalau diapprove, gajinya tinggal Rp 1,4 juta. Ya kalau hidup di sini ya enggak cukup,” jelas Ary saat dihubungi merdeka.com, Kamis (24/6/2021).

Ary mengatakan, Bripka Putu meminjam uang tersebut untuk kebutuhannya dan untuk membuka usaha. Sebab, kata dia, pelaku sebelumnya sempat membuka kios.

“Kebutuhan keluarga. Dulunya kan istrinya kerja di logistik Polres Sorong Kota, setelah jadi istrinya dia, kemudian enggak kerja lagi. Kemungkinan juga mau buka usaha, karena sebelumnya mereka buka kios,” jelas dia.

Sebelum kejadian, kata Kapolres, pelaku tak pulang dan mengaku dinas. Namun hal itu dibantah oleh Kapolres, sebab menurut anggotanya, yang bersangkutan tidak dinas.

“Pagi-pagi pulang ke tempat tinggalnya, langsung cekcok dengan istrinya. Kemudian pelaku mengambil minyak di dapur. Minyak disiram ke istrinya dan pelaku membakarnya,” ungkap Ary.

Ary menyampaikan, korban tewas tak lama setelah kejadian. Atas kejadian tersebut, pelaku akan dilakukan pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) alias dipecat.

“Apalagi masalah KDRT yang memang menjadi atensi. Dipastikan dipecat dan diproses hukum karena ada unsur pembunuhan berencana,” tegas dia.

Diduga Pengaruh Miras

Sementara itu, Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel menduga pelaku yang membakar istrinya berada dalam pengaruh miras atau narkoba. Dia mengatakan cekcok bisa disebut sebagai pemicu.

BACA JUGA:  Usai Dilantik Jadi Bupati Cirebon, Sunjaya Kembali Meringkuk di Dalam Terali Besi

“Untuk kelakuan agresif yang eksplosif semacam itu, saya acap mempertanyakan kemungkinan pelaku berada di bawah pengaruh miras atau narkoba. Jadi, cekcok ‘cuma’ pemicu saja,” terang dia saat dihubungi merdeka via pesan singkat, Kamis (24/6).

Jika dipicu masalah ekonomi, kata dia, hal itu yang membuat pelaku melakukan kekerasan dengan sedemikian ekstrem. Apalagi bisa sampai membakar rumah juga. Bisa semakin miskinlah si pelaku.

“Mungkin cekcok mulut sesaat dan reaksi IPS (pelaku) menjadi sangat di luar batas karena pengaruh narkoba. Plus di kantor juga sudah ada masalah. Dan tanggung jawab selaku ayah beranak lima,” tutur dia.