Gubernur Koster: Pandemi Covid-19 Memberikan Pelajaran Berharga untuk Bali

Gubernur Bali, I Wayan Koster.

Beritabalionline.com – Pandemi Covid-19 menjadi pelajaran berharga bahwa perekonomian Bali harus dilakukan perubahan, baik struktur maupun fundamentalnya. Bali harus mengurangi ketergantungan kepada sektor pariwisata dan memberi porsi yang lebih besar kepada sektor lain.

Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, ekonomi Bali mengalami kontraksi terdalam tahun 2020 sampai akhir tahun tumbuh minus 9,2 persen. Di triwulan 1 Tahun 2021 masih tumbuh minus 9,8 persen. Bali bakal mengubah sumber perekonomiannya secara signifikan di tahun 2022.

“Di kuartal kedua ketiga dan keempat akan mengalami perbaikan dan kelihatannya akan ada perbaikan, karena kunjungan ke Bali sudah mulai meningkat di pertengahan Mei sampai Juni,” kata Koster di Denpasar, Rabu (9/6/2021).

“Bali sesungguhnya akan mengalami transformasi perekonomian signifikan,” imbuhnya.

Dijelaskan Koster, pemerintah daerah telah memprogram skema kebijakan baru untuk perekonomian Bali. Regulasi itu untuk menyeimbangkan antara pariwisata, pertanian, kelautan, industri kreatif, termasuk perekonomian digital.

Sepanjang masa pandemi, industri lokal daerah juga memberikan kontribusi ketahanan terhadap perekonomian yang terpuruk. Dari situ, pemerintah mendorong peningkatan IKM/UMKM yang jumlahnya cukup banyak dan punya karakterik kearifan lokal.

Bali telah punya branding kuat di tingkat dunia. Dengan mengangkat industri lokal yang memiliki karakteristik, kata Koster, ekonomi Bali akan lebih kuat dibandingkan hanya mengandalkan satu sektor, pariwisata saja.

“Pengalaman ini memberikan pengetahuan berharga, IKM/UMKM akan jadi pondasi utama dengan berbagai kebijakan yang mendukung. Pariwisata tidak lagi jadi satu-satunya andalan, tapi akan tetap dikembangkan sebagai salah satu sektor unggulan,” terang dia.

Sebagai sektor unggulan, pariwisata yang akan dikembangkan, kata Gubernur, pariwisata berbasis budaya yang berkualitas.

“Jadi yang datang ke Bali adalah wisatawan yang memiliki kemampuan ekonomi yang memadai dan memiliki tanggung jawab dan komitmen untuk menjaga alam dan Kebudayaan Bali, ini akan kami dorong,” kata Gubernur.

Selama ini, ketergantungan PDRB Bali dari pariwisata mencapai 53 persen. Menurut Koster, angka ketergantungan itu bisa mencapai 72 persen, jika dikaitkan dengan kegiatan pariwisata yang tidak langsung.

Kondisi rentan itu, menurut Gubernur, terlihat dari berbagai isu yang pernah terjadi sebelumnya seperti, Bom Bali I dan II, juga erupsi Gunung Agung di tahun 2017.

BACA JUGA:  Wujudkan Desa Wisata, Pejeng Kangin Terima Bibit Tanaman dan Ikan

“Pariwisata itu sensitif, cepet jatuh tapi juga cepet bangun, karena modalnya adalah orang datang. Begitu situasi normal, wisatawan kembali datang, hotel penuh, restoran laku, ekonomi langsung aktif menggeliat,” ujar Koster. (*/ist)