Merasa Dikerjain Pemilik Lahan, Nengah Sadia Minta Keadilan Hukum

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Denpasar saat menggelar sidang pemeriksaan setempat. (FOTO : ist)

Beritabalionline.com – Majelis hakim Pengadilan Negeri Denpasar menggelar sidang Pemeriksaan Setempat (PS) terhadap obyek yang menjadi sengketa di Jalan Raya I Gusti Ngurah Gentuh, Gang Pucuk, Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Badung.

“Pemeriksaan Setempat merupakan rangkaian pemeriksaan perkara yang wajib dilakukan oleh majelis hakim,” kata I Made Yuliadi, hakim PN Denpasar saat ditemui di lokasi, Jumat (28/5/2021).

Dijelaskan, kedatangan majelis hakim untuk memeriksa seluruh obyek yang menjadi sengketa. Sedangkan terkait proses perkara hukum dilakukan sepenuhnya di persidangan.

I Made Jefri Raharja selaku kuasa hukum penggugat menerangkan, kasus ini bermula dari adanya perjanjian jual beli lahan seluas 2.265 meter persegi antara kliennya bernama I Nengah Sadia dengan pemilik lahan berinisial IKR (72).

Sesuai draft perjanjian yang dibuat di kantor salah satu notaris di Denpasar pada 5 Juni 2009 silam, kedua belah pihak sepakat jika harga tanah Rp250 juta per are.

Dalam draft perjanjian pihak kedua (penggugat) diwajibkan membayar Rp100 juta sebagai uang muka dengan jatuh tempo dua bulan sejak dilakukan perjanjian.

Setelah pembayaran uang muka lunas, pihak pertama harus melakukan pembayaran Rp2 miliar dan pembayaran dapat dilakukan secara bertahap.

Dalam draft perjanjian, pihak pertama memberi kebebasan kepada pihak kedua untuk menata, mengelola dan menjual kembali lahan tersebut jika ada pembeli.

Lantaran telah terjadi kesepakatan, pihak kedua mulai menata lahan seperti membuat jalan dan membangun rumah untuk dijual.

Melihat mulai banyak yang minat untuk membeli karena akses sudah bagus, tergugat mengatakan juga berminat memiliki lahan yang sebelumnya sudah dijual.

Di sana tergugat mengambil tanah seluas 5 are seharga Rp2 miliar dengan sistem pembayaran dipotong dari kekurangan pembayaran lahan oleh penggugat.

BACA JUGA:  Setelah 4 Tahun Mendekam di Penjara, Bule Perempuan Pembunuh Polisi Hirup Udara Bebas

Usai mengambil lahan 5 are, tergugat juga secara tiba-tiba memutus perjanjian jual beli secara sepihak yang tidak diketahui oleh penggugat.

“Dia kemudian pergi ke notaris tempat membuat perjanjian jual beli untuk mengambil akta. Anehnya lagi, pihak notaris memberikan akta tersebut tanpa memberitahu klien kami,” tutur Jefri Raharja dengan didampingi rekannya HM Husein.

Sebelum berproses hingga ke pengadilan, Nengah Sadia juga sempat mengadukan IKR ke Polda Bali pada 5 November 2019.

“Saya berharap memperoleh keadilan dalam kasus ini. Karena informasi yang saya peroleh, sebelum tanah tersebut saya beli, dia pernah menjual tanah di obyek yang sama kepada orang lain pada 2008 silam,” ucap Nengah Sadia. (agw)