Habisi Nyawa Pedagang Keripik, Arifin Dituntut 13 Tahun Penjara

Terdakwa Basori Arifin saat melakukan adegan rekonstruksi kasus pembunuhan yang dilakukannya. (FOTO : Sar/Beritabalionline.com)

Beritabalionline.com – Pria asal Jember, Jawa Timur, Basori Arifin yang memukul kepada pedangang keripik asal Banyuwangi, Sri Widayu hingga tewas dituntut hukuman 13 tahun penjara dalam sidang yang berlangsung secara virtual di Pengadilan Nenegeri Denpasar, Selasa (25/5/2021).

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ida Bagus Putu Swadharma Diputra di muka sidang menyatakan, terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana Pembunuhan sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 338 KUHP sesuai Dakwaan alternatif pertama.

Sebelum menjatuhkan tuntutan pidana, jaksa terlebih dahulu mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan. Yang memberatkan perbuatan terdakwa yakni menyebabkan korban Sri Widayu kehilangan nyawa.

Sementara hal yang meringankan, jaksa menyebut terdakwa mengakui perbuatannya, berjanji tidak mengulangi, dan sopan selama mengikuti persidangan.

“Oleh karena itu memohon kepada majelis hakim yang menyidangkan perkara ini untuk menghukum terdakwa Basori Arifin dengan pidana penjara selama 13 tahun,” ujar jaksa dalam surat tuntutan.

Atas tuntutan itu terdakwa melalui kuasa hukumnya dari Pos Bantuan Hukum (PBH) Peradi Denpasar memohon waktu seminggu untuk mengajukan pembelaan secara tertulis.

Sebagaimana dalam dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Jaksa Ida Bagus Putu Swadharma Diputra menguraikan secara jelas awal mula peristiwa berdarah pada 2 Februari 2021, di Warung Jawa Barokah Jalan Bypass Ngurah Rai, Sanur, Denpasar Selatan, tersebut.

Awalnya, terdakwa bersama istri dan anaknya datang ke lokasi berniat menagih utang yang tak kunjung dibayar oleh korban. Pada saat itu korban berkilah belum memiliki uang. Lalu, istri terdakwa pun bertanya kapan bisa membayar utangnya.

Namun pertanyaan itu justru membuat korban marah dan menampar istri terdakwa. Tak terima istrinya ditampar, terdakwa pun naik pitam dengan menghajar korban mengunakan helm hingga pecah di kepala korban.

BACA JUGA:  Mantan Kadisbud Denpasar Dicecar 62 Pertanyaan Terkait Pertanggungjawaban BKK Aci-aci

Tak puas dengan itu, terdakwa juga mencekik leher korban menggunakan tangan kiri sembari memukul kepala korban menggunakan tangan kanan. Korban sempat melawan dengan menggigit jari terdakwa, sehingga membuat dompet dan uang terdakwa terjatuh.

Melihat kejadian itu, istri terdakwa kemudian masuk ke warung untuk menenangkan terdakwa. Namun, karena korban terus berteriak minta tolong sambil mengancam, terdakwa kemudian mendorong hingga korban jatuh membentur almari. Karena masih juga berteriak, terdakwa kemudian menghajar korban mengunakan tabung gas 3 kg.

“Bahwa seluruh pukulan tangan terdakwa dan pukulan tabung gas 3 kg yang diarahkan oleh terdakwa ke korban tersebut mengenai titik vital korban yaitu di bagian kepala,” kata JPU.

Setelah korban tidak berteriak, terdakwa mengambil uangnya yang sempat terjatuh dan pergi bersama istri serta anaknya meninggalkan tempat kejadian. Terdakwa sempat melarikan diri ke kampungnya di Bondowoso, Jawa Timur. (sar)