Gali Potensi di Masa Pandemi Covid-19, Dupa Produksi Warga Nusa Penida Kian Diminati Pasar

Kreativitas warga Desa Batununggul dalam upaya mengembangkan produksi dupa dimasa pandemi Covid-19. (FOTO : Ist)

Beritabalionline.com – Pandemi Covid-19 tidak membuat warga Nusa Penida ‘patah arang’. Bagi mereka dalam kondisi sesulit apapun, mereka harus bangkit dan tidak mesti diratapi. Termasuk menghadapi gempuran wabah virus Corona atau Covid-19.

Dengan berbekal keterampilan dan kreativitas, mereka optimistis dapat menemukan solusi dari kondisi yang ada saat ini. Caranya, dengan memaksimalkan potensi yang dimiliki serta memberdayakan sumber daya manusia (SDM) yang ada.

Dengan konsep pemberdayaan SDM, warga dan anggota PKK Desa Batununggul, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali, melirik potensi dupa sebagai salah satu produk industri rumah tangga untuk menggerakan roda perekonomian di tengah gempuran tsunami Covid-19.

Pelatihan yang dilakukan selama dua kali pertemuan, oleh warga benar-benar dimanfaatkan secara maksimal. Mereka memilih dupa sebagai program pemberdayaan untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat selain sembako.

Dupa yang kesehariannya digunakan sebagai salah satu sarana sembahyang oleh masyarakat Nusa Penida yang sebagian besar beragama Hindu, saat ini masih mengandalkan pasokan dupa dari Bali Daratan.

Hal itu disampaikan Perbekel Desa Batununggul I Ketut Sulatra, SH., baru-baru ini. Pelatihan membuat dupa diharapkan mampu membangkitkan potensi ekonomi yang menjanjikan.

Terkait hal itu, kata dia, produksi dupa dimaksimalkan sebagai salah satu pemberdayaan warga serta sebagai penopang ekonomi masyarakat Nusa Penida.

Menurut Sulatra, dipilihnya dupa sebagai program pemberdayaan tak lain sebagai kebutuhan pokok selain sembako. Disaat seperti ini dupa masih tetap dibutuhkan masyarakat.

“Pergerakan ekonomi masyarakat tetap terjaga potensi yang ada dimaksimalkan secara baik. Memanfaatkan pelatihan dua kali pertemuan saya rasa PKK Desa keseriusannya sangat tinggi. Jadi responnya ada, pembeli juga ada, produksi setelah itu Bumdeslah sebagai motor penjualan nanti untuk memenuhi kebutuhan masyarakat khususnya di Batununggul,“ tuturnya.

BACA JUGA:  Mendag Suparmanto Pantau Stabilitas Harga Bahan Pokok di Denpasar

Sulatra menyatakan, melihat respons masyarakat terhadap produk yang dihasilkan PKK Desa Batununggul dilirik masyarakat, pihaknya merasa bangga karena produk dupa lokal selain sudah bisa bersaing dengan dupa yang diproduksi para perajin di Bali daratan, juga dupa produk warga Nusa Penida kini kian diminati pasar.

Menurut Ketua Tim Penggerak PKK Desa Batununggul, Ny Sri Sulasmi Sulatra, dupa celup hasil produksi warga Nusa Penida menghasilkan beberapa varian. Untuk  dupa ukuran satu Kg dihargai Rp30 ribu berlaku pada semua aroma. Sementara yang herbal dihargai Rp32 ribu/Kg.

“Untuk produksi dupa bulan lalu sudah terjual habis. Melihat respons pasar yang cukup baik tersebut, maka produksi akan ditingkatkan untuk merambah pasar yang lebih luas lagi,” ujar Sulasmi.

Berbiacara pasar, kata Sulasmi, masalah penjualan nanti akan bekerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang ada di Nusa Penida, selain juga bermitra dengan pedagang yang ada di wilayah Desa Batununggul.

Tembus Pasar Amerika

Dupa produk perajin dari Bali tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar lokal, namun juga melenggang menuju pasar ekspor dengan negara tujuan Amerika Serikat (AS), meski di tengah pandemi virus Corona atau Covid-19.

Terpuruknya sektor pariwisata tak membuat sektor usaha lain juga terpuruk. Hal ini dibuktikan oleh Ni Kadek Winie Kaori dari Kaori Group yang memproduksi dupa. Menurutnya, dupa produknya baru saja diekspor perdana ke pasar Amerika.

“Bisnis adalah sebuah kepercayaan, terbukti kami memenuhi target waktu yang ditentukan oleh buyer secara paripurna pada 5 Mei 2020 yang lalu,” tutur Kaori saat ditemui di tempat usahanya, beberapa waktu lalu.

Ia menuturkan, saat melepas ekspor perdana 15.000 dupa tabung ke Negeri Paman Sam, tak ada seremonial khusus. Bahkan tak ada yang tahu saat dirinya dipercaya menggenggam purchasing order tersebut di awal bulan Februari 2020 silam.

BACA JUGA:  Dongkrak Hunian Kamar Hotel, Sanur Manfaatkan Momen Liburan Nataru

Ekspor perdana produk dupa tersebut melalui berbagai proses dan seleksi yang ketat, beberapa saat sebelum meluasnya pandemi Covid-19 di Negeri Paman Sam tersebut.

Pelepasan ekspor perdana tersebut dihadiri Kadisperindag Gianyar, Kadisnaker Gianyar dan beberapa karyawan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, termasuk ketentuan social distancing.

“Saat itu dupa yang diinginkan buyer adalah dupa yang memiliki keharuman ciri khas Bali seperti aroma Jepun Bali, aroma Kayu Cendana dan aroma Bunga Cempaka.Untuk diketahui, kini Dupa banyak digunakan di Amerika untuk kebutuhan aromaterapi, pelengkap kekhusyukan meditasi yoga,” terang Kaori.

Mengingat juga, lanjut Kaori, populasi umat Hindu di Amerika Serikat juga semakin bertambah, sehingga kebutuhan akan dupa juga semakin tinggi. Dupa ini sudahdikemas dalam bentuk tabung praktis sehingga bisa dijadikan sebagai suvenir.

“Kami bangga dan bersyukur dengan kepercayaan buyer untuk memilih produk Dupa Kaori diantara berbagai merk dupa yang ada di pasaran, ini membuktikan produk dupa kami sudah memenuhi standar kualitas yang dipersyaratkan,” ujar Kaori.

Terkait wabah corona yang ikut menhantam Pulau Bali,ia mengaku turut prihatin. Ia menjelaskan bahwa disaat pandemic Covid-19 tak ada seorangpun karyawan yang dirumahkan. Bahkan perusahaannya menambah 100 lebih karyawan freelance yang bisa bekerja dari rumah.

“Bahkan kami menambah 110 karyawan (marketing freelance) untuk memulai kewirausahaan dari rumah di tengah pandemi virus corona Covid-19 dengan memasarkan berbagai kebutuhan pokok produksi Kaori dengan sistem reseller yang cukup diapresiasi oleh masyarakat,” tuturnya.

Sebelumnya Bali juga sempat melepas ekspor manggis dan kerajinan tangan (handycraft) Bali ke Uni Emirat Arab (UEA) beberapa minggu lalu.

Menurut Gubernur Bali I Wayan Koster, aktivitas ekspor dupa juga sangat berarti dalam memberikan peningkatan pendapatan kepada para perajin di Bali, lebih-lebih dalam siatuasi pandemi Covid-19.

BACA JUGA:  Klungkung Siap Menuju Pertanian Organik

“Di tengah pandemi Covid-19- kita terus berupaya semaksimal mungkin mendorong sektor pertanian, termasuk industri kerajinan tangan dengan membuka akses pasar dalam dan luar negeri,” demikian Gubernur Koster. (sas)