Mempertanyakan, “Seberapa Ampuh-kah Vaksin Sinovac Asal Negeri Tirai Bambu?”

Vaksin Sinovac buatan China. (FOTO : Istimewa)

Beritabalionline.com – Gempuran virus Corona atau Covid-19 hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda kapan akan berakhir. Tiap harinya, SARS-CoV-2 penyebab pandemi ini terus menyerang ribuan masyarakat global, termasuk Indonesia.

Hal ini terlihat dengan masih bertambahnya kasus Covid-19 — Berdasarkan data yang masuk hingga Minggu (17/1/2021) pukul 12.00 WIB. Data pemerintah memperlihatkan bahwa ada 11.287 kasus baru Covid-19 di Indonesia.

Penambahan itu menyebabkan jumlah kasus positif Covid-19 di Tanah Air per 17 Januari 2021 mencapai 907.929 orang, terhitung sejak diumumkannya pasien pertama pada 2 Maret 2020. Sementara kabar baiknya sebanyak 736.460 orang pasien Covid-19 dinyatakan telah sembuh, sedangkan yang meninggal dunia sebanyak 25.987 orang.

Pertanyaannya, bagaimana cara dunia menghentikan SARS-CoV-2 yang terus menyerang secara bertubi-tubi? Banyak ahli berpendapat hanya dengan vaksin penduduk Bumi dapat kembali dengan normal. Lantas, bagaimana perkembangan vaksin Covid-19 saat ini?

Vaksin untuk menangkal penyakit yang disebabkan virus Corona jenis baru, Covid-19, menjadi harapan bagi setiap negara yang terpapar penyakit mematikan ini. Covid-19 masih melanda di hampir seluruh negara di dunia. Sebagian negara bahkan dikabarkan mulai memasuki gelombang kedua pandemik.

Pemerintah  Jokowi-Ma’ruf Amin telah memulai program vaksinasi Covid-19 sejak pekan lalu. Vaksin buatan Sinovac, jadi salah satu yang digunakan oleh pemerintah untuk melindungi jutaan orang dari virus Corona atau Covid-19.

Banyak kalangan, khusus warga masyarakat awam mempertanyakan, “Seberapa ampuh-kah Vaksin Sinovac dari Negeri Tirai Bambu (China) tersebut?”

Vaksin Sinovac memiliki efikasi 65,3 persen. Dengan angka itu, vaksin tersebut diyakini tetap aman untuk melindungi masyarakat dari paparan Covid-19. Efikasi atau tingkat keampuhan tersebut sudah melebihi standar World Health Organization (WHO) sebesar 50 persen.

BACA JUGA:  Rai Mantra Buka Musyawarah Sabha Upadesa Kota Denpasar

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyampaikan, vaksin adalah upaya negara dalam melindungi masyarakat dari ancaman pandemi Covid-19 dan demi tercapainya kekebalan komunitas atau herd immunity.

“Kami telah menerima rekomendasi dari WHO (World Health Organization), bahwa nilai efikasi di atas 50 persen dapat diterima,” ungkap Wiku.

Sedangkan, Ahli Epidemiologi Griffith University Australia, Dicky Budiman menyampaikan, hasil final efikasi vaksin CoronaVac produksi Sinovac di Brasil sebesar 50,4 persen, tidak berpengaruh dengan efikasi vaksin di Indonesia. Sehingga masyarakat tidak perlu cemas.

Angka efikasi di Brasil maupun di Turki, lanjut Dicky, tidak bisa disamakan dengan efikasi di Indonesia. Sebab, proses uji klinis tahap III-nya pun berbeda.

“Hasil yang sedikit di atas threshold WHO itu tetap memiliki makna, karena tetap memiliki efikasi yang memenuhi standar, itu tetap bisa kita gunakan sebagai pelindung,” terang Dicky.

Dia mengungkapkan, vaksin CoronaVac memang berbeda dari merek vaksin lain. Hal itu lantaran perusahaan Sinovac Biotech mempersilakan proses uji klinis tahap III dilakukan di daerah pemesan yakni Brasil, Turki, dan Indonesia.

Menurut Dicky, terbitnya izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA) menandakan vaksin Sinovac sudah cukup memadai untuk dapat digunakan. Sebab, hasil uji klinis fase III di Bandung telah menunjukkan efikasi vaksin Sinovac sebesar 65,3%.

“Efikasi yang memadai, saya sampaikan memadai karena dia sudah memenuhi threshold,” ujarnya.

Sementara Kepala BPOM Penny Lukito menjelaskan, efikasi di Brasil berubah-ubah karena efikasi tidak dapat dibandingkan dengan platform yang berbeda. Walaupun platformnya sama dengan uji klinis di lokasi berbeda pun tidak dapat dibandingkan. Hal tersebut dikarenakan banyaknya parameter yang menentukan.

“Pertama dari relawan sudah berbeda, jumlahnya berbeda, kemudian tingkat risiko dari relawan berbeda di Brasil 100 persen adalah tenaga kesehatan, dan di Turki 20 persen adalah tenaga kesehatan dan 80 persen pekerja berisiko. Di Indonesia umum, dan ini justru lebih merepresentasikan masyarakat secara umum,” kata Penny.

BACA JUGA:  Peringati Hari Sumpah Pemuda, Generasi Muda Diminta Ikut Memerangi Berita Hoaks

Kemasan Berbeda

Indonesia kini tengah menjalani proses vaksinasi sebagai usaha mencegah penularan virus Covid-19. Dimulai dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) hingga tenaga kesehatan.

Presiden Jokowi mengungkapkan ketersediaan 426 juta vaksin Covid-19 pada 2021. Tahap awal, Indonesia menggunakan Sinovac untuk vaksinasi covid-19. Namun, Satgas Covid-19 mengingatkan masyarakat untuk tak kaget jika melihat ada informasi tentang 3 kemasan vaksin COVID-19 dari Sinovac yang berbeda-beda.

Kemasan yang berbeda tersebut menandakan tiga tahapan yang berbeda.

Pertama, sebelum pelaksanaan vaksinasi dimulai, Sinovac melakukan uji klinis vaksinnya bersama Tim Uji Klinis Universitas Padjajaran. Vaksin yang digunakan untuk uji klinis ini dikemas dengan nama SARS-CoV-2 Vaccine.

Vaksin COVID-19 yang digunakan untuk pelaksanaan vaksinasi adalah vaksin jadi yang diproduksi Sinovac langsung dan diberikan Persetujuan Penggunaan Darurat (EUA) dari Badan POM, yaitu dengan kemasan bernama CoronaVac.

Di awal Januari 2021, Sinovac sudah mengirimkan 15 juta dosis vaksin COVID-19 dalam bentuk bahan baku (vaksin curah) untuk bisa diolah menjadi vaksin jadi dan didistribusikan PT Bio Farma. Yang ini akan mengenakan kemasan vaksin yang berbeda juga.

Berikut 3 Perbedaan Vaksin Covid-19 Sinovac:

1. Kemasan SARS-CoV-2 Vaccine

Ini merupakan vaksin yang diimpor khusus untuk pelaksanaan uji klinis fase 3 di Bandung.

Vaksin dikemas dalam prefilled syrenge (pfs) isi 1 dosis, kemudian 1 pfs dikemas dalam 1 dus sekunder.

2. Kemasan CoronaVac (SARS-CoV-2 Vaccine Sinovac)

Merupakan vaksin yang diimpor langsung dari Sinovac. Vaksin dikemas dalam dus berisi 40 vial (tutup oranye/jingga) di mana per vial ukurannya 2 ml dan berisi 1 dosis.

Tiga juta dosis vaksin ini dialokasikan untuk para tenaga kesehatan (nakes).

3. Kemasan Vaksin COVID-19 Bio Farma

Vaksin ini diproduksi PT Bio Farma dan merupakan hasil kerja sama transfer teknologi dengan Sinovac.

BACA JUGA:  Jumbara IX – PMR PMI Kabupaten Gianyar Dibuka

Vaksin dikemas dalam kemasan dus sekunder berisi 10 vial ukuran 5 ml, di mana setiap vial berisi vaksin 10 dosis (tutup vial berwarna dark navy). Vaksin ini akan didistribusikan ke seluruh Indonesia.

Vaksin dan pelaksanaan 3M merupakan kunci mengakhiri pandemi Corona. 3M yang dimaksud adalah selalu memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak minimal 1 meter dengan orang lain. (sdn/itn)