Cegah Covid-19, Kelompok Rentan di Pengungsian Gempa Sulbar Dapat Tempat Khusus

Kepala BNPB, Doni Monardo.

Beritabalionline.com – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo meminta kelompok rentan yang terdampak gempa bumi di Sulawesi Barat (Sulbar) mendapat tempat khusus di lokasi pengungsian.

Terkait hal itu, kelompok rentan tidak diperbolehkan membaur dengan kelompok lainnya agar tidak mudah terpapar virus Corona atau Covid-19.

“Di pengungsian diharapkan ada pemisahan antara kelompok rentan dengan kelompok yang berusia muda. Kelompok rentannya harus kita lindungi karena ada Covid-19,” kata Doni, Minggu (17/1/2021).

Kelompok rentan yang dimaksud yakni orang tua lanjut usia, warga yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid, ibu hamil, ibu menyusui, disabilitas, balita dan anak-anak.

Selain memisahkan kelompok rentan, Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 ini juga memberikan bantuan alat tes cepat antigen. Alat tersebut bisa digunakan untuk memeriksa dan menelusuri jika terjadi penularan Covid-19 di lingkungan pengungsian.

“Nanti akan ada proses swab antigen, untuk kita menjamin para pengungsi tidak terpapar Covid-19,” kata Doni.

Jika hasil swab antigen menunjukkan ada pengungsi yang reaktif, maka akan segera mendapatkan tindak lanjut dari Dinas Kesehatan setempat.

Jumlah korban meninggal akibat gempa bumi bermagnitudo 6,2 di Kabupaten Mamuju dan Majene, Sulawesi Barat, pada Jumat (15/1/2021) pukul 01.28 WIB bertambah. Data pukul 14.00 WIB hari ini, sebanyak 73 orang meninggal dunia.

“Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa di Provinsi Sulawesi Barat menjadi 73 orang,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Raditya Jati melalui keterangan tertulis, Minggu (17/1/2021).

Dari 73 orang meninggal dunia, 64 di antaranya ditemukan di Kabupaten Mamuju. Sedangkan sembilan orang lainnya di Kabupaten Majane.

BACA JUGA:  Basarnas Sebut Gempa di Sulbar Renggut 78 Jiwa

Selain itu, lanjut Raditya, terdapat 743 warga mengalami luka. Rinciannya, 554 korban luka di Kabupaten Majene. Tercatat ada 64 orang mengalami luka berat, 215 orang luka sedang dan 275 orang luka ringan.

Sedangkan di Kabupaten Mamuju terdapat 189 orang mengalami luka berat atau rawat inap.

“Terdapat 27.850 orang mengungsi di 25 titik pengungsian Kabupaten Majene yang tersebar di Desa Kota Tinggi, Desa Lombong, Desa Kayu Angin, Desa Petabean, Desa Deking, Desa Mekata, Desa Kabiraan, Desa Lakkading, Desa Lembang serta Desa Limbua,” sambungnya.

Sementara titik pengungsian di Kabupaten Mamuju tersebar di lima lokasi yang tersebar di Kecamatan Mamuju dan Kecamatan Simboro. (itn)