Nasib Sopir Angkutan Logistik di Tengah Pengetatan Prokes Masa Liburan Panjang

Kendaraan pengangkut logistik antre di Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali. (FOTO : Ist)

Beritabalionline.com – Sebagai pintu gerbang destinasi pariwisata dunia, Bali diproteksi dengan menerapkan protokol kesehatan (Prokes) secara ketat. Dengan harapan, provinsi yang kerap dijuluki Pulau Dewata dan Pulau Seribu Pura ini akan menjadi provinsi pertama dalam mencapai tiga sasaran utama.

Yaitu, terbebas Covid-19, pariwisata pulih, dan ekonomi kembali normal. Dengan asumsi, pariwisata Indonesia akan pulih bilamana pariwisata Bali terlebih dahulu pulih atau kembali normal. Mengingat, Bali merupakan lokomotif pariwisata Indonesia.

Hal tersebut dituangkan dalam Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 2021 Tahun 2020. Menurut Gubernur Bali I Wayan Koster, kebijakan tersebut diputuskan secara bersama-sama dalam rapat sesuai arahan Pemerintah Pusat. Hal itu lantaran Bali dianggap sebagai destinasi pariwisata dunia, maka pemerintah memberlakukan bebrapa persyaratan untuk bisa berlibur ke Bali sepanjang libur Hari Raya Natal  2020 dan Tahun Baru 2021.

“Pemerintah Pusat memberi arahan bahwa Bali sebagai pintu gerbang destinasi pariwisata dunia, harus diproteksi dengan menerapkan Protokol Kesehatan (Prokes) secara ketat,” kata Gubernur Koster di Denpasar, belum lama ini.

Ia menjelaskan, Surat Edaran Gubernur Bali Nomor 2021 Tahun 2020 ini disusun dengan prinsip kecermatan dan kehati-hatian yang mengutamakan kesehatan dan keselamatan masyarakat Bali serta tetap memberi ruang aktivitas pariwisata Nusantara yang telah dibuka sejak tanggal 31 Juli 2020.

Menyikapi regulasi tersebut, petugas di lapangan tentu tidak berani main-main mengemban tugas dan kewenangannya. Hal ini dibuktikan dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat di setiap pintu masuk Bali, termasuk di Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana.

Hasilnya, sebanyak 13 orang termasuk sopir logistik dan penumpang kendaraan pribadi dinyatakan reaktif Covid-19 setelah menjalani rapid test antigen di Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana.

“Rapid test-nya reaktif, totalnya ada 13. Yang lima itu sopir angkutan logistik yang delapan itu (pengemudi) mandiri. Itu data tempo hari dan data yang sekarang belum masuk,” ungkap I Gusti Agung Putu Arisantha selaku Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Jembrana saat dikonfirmasi beritabalionline.com, baru-baru ini.

Sementara, untuk lima orang yang merupakan sopir angkutan logistik dikembalikan lagi ke daerah asalnya di Jawa. Kemudian, yang delapan orang kendaraan pribadi itu lima orang dikembalikan ke Jawa, dua orang ke Singaraja, Kabupaten Buleleng, dan satu orang ke Denpasar.

BACA JUGA:  Ciptakan Lingkungan Bersih, Aman dan Sehat, Pemkot Denpasar Luncurkan 'Gerak Godam'

“Mereka dikembalikan kalau yang dari Jawa. Kalau yang dari Bali dikoordinasikan dengan Satgas masing-masing kabupaten dan kota,” imbuh Arisantha.

Ia juga menyebutkan bahwa untuk rapid test antigen di Pelabuhan Gilimanuk, bagi para sopir logistik gratis. Namun untuk para sopir mandiri atau pribadi harus membayar Rp250 ribu.

“Kalau untuk angkutan logistik gratis. Kalau yang umum bukan di kita. Itu dikerjakan oleh Kimia Farma Rp250 ribu,” jelasnya.

Selanjutnya Arisantha mengimbau, bagi masyarakat yang akan masuk Bali melewati Pelabuhan Gilimanuk, harus sesuai dengan Surat Edaran (SE) Gubernur Bali nomor 2021 tahun 2020 tentang pelaksanaan kegiatan masyarakat selama libur Hari Raya Natal dan menyambut Tahun Baru 2021 dalam tatanan kehidupan era baru di Provinsi Bali.

“Yaitu, sesuai dengan surat edaran (Gubernur Bali). Artinya surat edaran rapid test negatif. Harapannya, masyarakat (untuk masuk Bali) mematuhi surat edaran itu dan protokol kesehatan agar tetap disiplin gunakan masker, jaga jarak, cuci tangan pakai sabun dan jauhi kerumunan,” sarannya.

Sementara itu, ratusan orang mengikuti PCR test dan rapid test antigen di Bandara I Gusti Ngurah Rai. Hasilnya sembilan orang dinyatakan reaktif Covid-19.

“Itu enam terkonfirmasi positif antigen dan sisanya terkonfirmasi reaktif antibodi,” kata Relation Manager AP I Bandara I Gusti Ngurah Rai, Taufan Yudhistira.

Ia menerangkan, para penumpang yang reaktif Covid-19 antibodi disarankan untuk isolasi dan ke klinik untuk pemeriksaan lebih lanjut. “Tapi kalau antigen positif ada dua prosedurnya, satu dia wajib PCR mandiri atau satu wajib PCR ke rumah sakit rujukan satgas Covid-19,” ujarnya.

Jalur Pelabuhan Ketapang (Jatim)-Gilimanauk (Bali).

Diperketat
Pemerintah memperketat aturan bepergian menjelang libur Natal dan Tahun Baru 2020. Sebab, kasus Covid-19 di Indonesia belum dapat dikendalikan dan terus meningkat jumlahnya setiap hari.

Sejumlah regulasi dikeluarkan pemerintah, khususnya untuk transportasi umum. Mulai dari pesawat, kereta api hingga kapal laut untuk mencegah penyebaran Covid-19 semakin meluas.

Sejumlah kota dan destinasi wisata juga menetapkan sejumlah aturan khusus. Secara umum sejumlah daerah menetapkan perlunya tes antigen. Antigen adalah sesuatu yang dapat memicu reaksi sistem imun. Bentuk antigen itu macam-macam ada yang bagian dari virus, bakteri, polen, zat kimia dan substansi-substansi lain dari lingkungan.

BACA JUGA:  Wabup Karangasem Tinjau Bangunan TK Ambruk di Nongan

Kementerian Kesehatan juga telah menetapkan batasan tarif tertinggi pemeriksaan Rapid Test Antigen-Swab yakni sebesar Rp250 ribu untuk Pulau Jawa dan Rp275 ribu untuk di luar Pulau Jawa.

Saat berangkat, masyarakat harus siapkan hasil tes ini. Karena nanti diperiksa di bandara keberangkatan dan tempat tujuan. Termasuk jika berkunjung ke lokasi wisata.

Sementara Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Dewa Made Indra mengatakan, adanya pelonggaran kebijakan masa berlaku hasil tes swab PCR bagi wisatawan yang berkunjung ke Bali.

Sebelumnya dalam Surat Edaran (SE) Gubernur disebutkan wisatawan yang datang ke Bali menggunakan transportasi udara, wajib menunjukkan surat keterangan hasil negatif uji swab berbasis PCR, minimal 2 x 24 jam atau H-2, sebelum keberangkatan.

Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mengeluarkan Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2020 yang mengatur protokol kesehatan selama liburan Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 bagi bara pelaku perjalanan di dalam maupun dari luar negeri. Surat Edaran ini berlaku sejak 19 Desember 2020 hingga 8 Januari 2021.

Pesawat ke Bali Wajib Tes PCR
Surat edaran tersebut mengatur pelaku perjalanan ke Pulau Bali wajib menunjukkan surat keterangan hasil tes RT-PCR yang menunjukkan negatif Covid-19 paling lama 7 x 24 jam sebelum keberangkatan sebagai persyaratan perjalanan dan mengisi e-HAC Indonesia.

Sedangkan pelaku perjalanan yang menggunakan moda transportasi darat atau laut, baik pribadi maupun umum, wajib menunjukkan surat keterangan hasil negatif menggunakan rapid test antigen paling lama 3 x 24 jam sebelum keberangkatan sebagai persyaratan perjalanan dan mengisi e-HAC Indonesia.

Untuk perjalanan dari dan ke Pulau Jawa serta di dalam pulau Jawa, pelaku perjalanan yang menggunakan moda transportasi udara dan kereta api antarkota wajib menunjukkan surat keterangan hasil negatif menggunakan rapid test antigen paling lama 3 x 24 jam sebelum keberangkatan sebagai persyaratan perjalanan.

“Untuk pelaku perjalanan yang menggunakan moda transportasi darat baik pribadi maupun umum, diimbau menggunakan rapid test antigen paling lama 3 x 24 jam sebelum keberangkatan sebagai persyaratan perjalanan. Pengisian e-HAC Indonesia bersifat wajib bagi pelaku perjalanan dengan seluruh moda transportasi umum maupun pribadi, terkecuali bagi moda transportasi kereta api,” terangJuru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, Minggu (20/12/2020).

BACA JUGA:  Karangasem Jadi Tuan Rumah Festival Kelapa Internasional

Satgas Covid-19 juga menjelaskan, anak-anak di bawah usia 12 tahun tidak diwajibkan untuk tes RT-PCR maupun rapid test antigen sebagai syarat perjalanan. Perjalanan rutin di Pulau Jawa dengan moda transportasi laut yang bertujuan melayani pelayaran lokasi terbatas antarpulau atau antarpelabuhan domestik dalam satu wilayah aglomerasi atau dengan transportasi darat baik pribadi maupun umum dalam satu wilayah aglomerasi perkotaan (Jabodetabek) tidak diwajibkan untuk menunjukkan surat hasil rapid test antigen sebagai syarat perjalanan.

Dalam keadaan tertentu Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Daerah dapat melakukan tes acak (random test) rapid test antigen maupun RT-PCR jika diperlukan. Apabila hasil rapid test antigen atau antibodi pelaku perjalanan nonreaktif atau negatif namun menunjukkan gejala, maka pelaku perjalanan tidak boleh melanjutkan perjalanan dan diwajibkan untuk melakukan tes diagnostik RT-PCR dan isolasi mandiri selama waktu tunggu hasil pemeriksaan.

Ketentuan serupa juga berlaku bagi pelaku perjalanan internasional selama liburan Natal 2020 dan Tahun Baru 2021. Para pelaku perjalanan dari luar negeri wajib menunjukkan hasil tes RT-PCR negatif di negara asal dan berlaku 3 x 24 jam sejak diterbitkan ke dalam e-HAC Indonesia.

PT Angkasa Pura II (Persero) atau AP II menyediakan Airport Health Center yang merupakan fasilitas pengetesan Covid-19 bagi penumpang pesawat.

President Director AP II Muhammad Awaludin mengatakan, saat ini layanan pengetesan yang anti Covid-19 di Airport Health Center tidak hanya rapid test antibodi. Seperti di Airport Health Center Terminal 3 dan Terminal 2 di Bandara Soekarno-Hatta yang kini dapat melayani rapid test antibodi, rapid test antigen, dan PCR test.

Misalnya di Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Husein Sastranegara, tarif PCR test kini menjadi Rp800.000 untuk hasil 24 jam setelah pemeriksaan, dari tarif sebelumnya Rp885.000.

Sementara itu untuk tarif rapid test antigen menjadi Rp200.000 untuk hasil 15 menit setelah pemeriksaan, dari tarif sebelumnya Rp385.000. Sementara itu untuk rapid test antibodi tetap Rp85.000.  (sdn)