Cegah Lonjakan Kasus Covid-19, Masyarakat Diimbau Tak Liburan Akhir Tahun

Prof Wiku Adisasmito. (FOTO : Istimewa)

Beritabalionline.com – Momen libur akhir tahun semakin dekat. Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 kembali mengingatkan masyarakat agar menahan diri dalam bepergian apabila tidak terlalu mendesak.

Peringatan itu disampaikan mengingat lonjakan kasus positif Covid-19 selalu terjadi usai libur panjang. Jika terpaksa untuk bepergian juga, masyarakat diminta memahami risiko yang akan dihadapi.

Peringatan ini bukan tanpa alasan. Indonesia sudah mencatatkan tiga kali lonjakan kasus yang selalu terjadi usai libur panjang. Pertama pada saat libur Idul Fitri Mei silam, Tahun Baru Islam pada Agustus lalu, dan libur Maulid Nabi Muhammad SAW pada akhir Oktober.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, menjelaskan libur panjang jika tidak dibarengi dengan regulasi yang ketat hanya akan memunculkan banyak kerumunan. Hal inilah yang pada akhirnya membuat orang-orang abai untuk jaga jarak dan rendahnya kepatuhan menjalankan protokol kesehatan 3M.

“Liburan panjang mendatang adalah kali keempat dan seharusnya kita mampu belajar dari pengalaman lalu. Apapun yang pemerintah putuskan terkait pelaku perjalanan di libur panjang akhir tahun, ini demi keselamatan bersama,” ujar Wiku dalam keterangan pers di Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat (18/12/2020).

Dikatakan Wiku, anjloknya kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan akan berujung pada peningkatan penularan infeksi virus di tengah masyarakat. Lantas bila hal ini terjadi, maka peningkatan kasus positif Covid-19 yang tidak didukung dengan cukupnya pelayanan kesehatan justru akan menurunkan peluang kesembuhan.

“Sebaliknya, angka kematian berpotensi meningkat di level daerah dan berdampak pada tingkat nasional. Peningkatan kasus yang signifikan semakin meningkatkan keterisian tempat tidur dan beban kerja di fasilitas kesehatan,” jelasnya.

Namun, apabila masyarakat memang terpaksa untuk melakukan perjalanan libur akhir tahun, Wiku menekankan pentingnya pemahaman mengenai risiko yang dihadapi. Menurutnya, ada hubungan linear yang jelas antara mobilitas penduduk dengan peningkatan kasus Covid-19. Hal ini sudah terbukti pada tiga periode libur panjang yang sebelumnya terjadi.

BACA JUGA:  Plt Ketum PSSI Diperiksa Polisi Terkait Perusakan Barang Bukti

Jika memang perjalanan tetap dilakukan, Wiku meminta masyarakat menjalankan tiga hal berikut secara bertanggung jawab. Pertama, patuhi protokol kesehatan 3M, mengenakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

Kedua, masyarakat diminta memenuhi seluruh syarat perjalanan yang ditetapkan pemerintah. Ketiga, masyarakat diminta mencari tahu kondisi penularan virus korona serta kecukupan layanan fasilitas kesehatan di daerah tujuan.

“Hindari melakukan perjalanan ke daerah yang kasusnya masih tinggi dan faskesnya terbatas. Seperti kita tahu, kapasitas tempat tidur isolasi dan ICU Covid-19 pada saat ini masih terbatas terutama di daerah dengan kasus yang masih tinggi. Jadikan ini pertimbangan agar tidak sulitkan diri sendiri dan pemda,” kata Wiku.

Masyarakat juga diminta membatalkan perjalanan apabila dalam kondisi sakit. Perjalanan juga harus dibatalkan bila calon penumpang tergolong suspek atau positif Covid-19 meski tidak memiliki gejala. Selain itu, pembatalan juga perlu dilakukan apabila calon penumpang sempat berada di sekitar seseorang yang suspek atau positif dalam 14 hari terakhir meski tidak ada gejala dan sedang menunggu hasil tes Covid-19.

“Kita sudah hadapi pandemi 10 bulan dan saya tahu pandemi ini sangat berat buat kita semua. Meski begitu kita harus melatih diri untuk jadi individu yang bertanggung jawab,” demikian Wiku. (itn)