Enam Desa di Denpasar Ditunjuk sebagai Percontohan Lokasi Pengolahan Sampah

Pengumuman pembuangan sampah mulai 1 Januari 2021 ada perubahan.

Beritabalionline.com – Mulai 1 Januari 2021 masyarakat Kota Denpasar wajib memilah sampah sebelum dibuang ke TPS. Sampah yang ke TPS hanya sampah non organik sedangkan sampah organik harus dikelola menjadi kompos.

Langkah ini merupakan alternatif untuk mengatasi penuhnya TPA Regional Sarbagita, yang diperkirakan akan penuh di awal Juli 2021.

Kabid Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLHK Kota Denpasar, I Ketut Adi Wiguna mengatakan, dalam pemilahan sampah ini Pemerintah Kota Denpasar menunjuk 6 desa sebagai percontohan. Yakni, Desa Kesiman Kertalangu, Desa Sanur Kauh, Desa Pemogan, Desa Tegal Kertha, Desa Pemecutan Kaja dan Desa Ubung Kaja. Enam desa tersebut ditunjuk karena memiliki TPS3R (Reduce, Reuse, Recycle ).

Dengan langkah ini, Adi Wiguna mengaku di masing-masing TPS3R sampah organik diproses jadi kompos sedangkan sampah anorganik dikumpulkan dan dibeli oleh pengepul. Dengan demikian tidak akan ada sampah yang ke TPA, hanya residunya saja.

Lebih lanjut Adi mengatakan, pemilahan sampah ini dilakukan di tingkat rumah tangga. Sehingga sampah yang dibawa ke TPS hanya sampah non organik. Untuk sampah organik harus dikelola menjadi kompos melalui lubang biopori yang ada di setiap desa melalui dana desa.

Mengingat penerapan akan dimulai 1 Januari 2021, pihaknya bersama Tim Jumali DLHK telah turun ke Desa Sanur Kauh  melakukan sosialisasi secara door to door supaya melakukan pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga  sampai  5 hari ke depan. Kegiatan ini dilanjut ke  DesaTegal Kerta dan desa lainnya.

“Sosialisasi  dilakukan agar per tanggal 1 Januari 2021 masyarakat sudah terbiasa melaksanakan dan membuang sampah ke TPS3R sudah dalam keadaan terpilah,” ungkapnya.

Pelaksanaan pemilihan dan pengomposan sampah organik di skala RT ini tentunya perlu mendapat dukungan dan kesadaran dari masyarakat. Dengan adanya Peraturan Walikota tentang memilah sampah dan adanya dukungan regulasi baik Perdes, Perkel dan awig-awig / pararem Desa Adat maka akan bisa diterapkan.

BACA JUGA:  Gubernur Koster: Saatnya Bali Mandiri di Bidang Energi Bersih

Adi menambahkan 6 desa yang ditunjuk menjadi lokasi proses pengolahan sampah menjadi kompos skala kawasan TPS3R, maka ke depan dengan dukungan DOA, (Duit anggaran, orang) dan alat akan dikembangkan di desa atau kelurahan lainnya. (hms)