Di Tengah Gempuran Covid-19, Perajin Bokor Batok Kelapa di Bali Mencoba Bertahan

Kerajinan Bokor dari batok kelapa produksi Ni Wayan Mariani. (FOTO : Ist)

Beritabalionline.com – Sebagai salah satu destinasi wisata yang banyak diincar turis, Bali tak luput dari keterpurukan akibat gempuran pandemi virus Corona atau Covid-19. Dampak pandemi Covid-19 hingga kini masih dirasakan oleh hampir semua masyarakat di Pulau Dewata.

Pariwisata yang menjadi penggerak utama lajunya ekonomi di Bali mendadak lumpuh, termasuk para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) juga merasakan dampak signifikan pandemi Covid-19.

Sektor Usaha Kecil Mikro Menengah (UMKM), khususnya, para perajin makin kesulitan memasarkan produknya. Seperti dialami Ni Wayan Mariani, seorang perajin Bokor berbahan batok kelapa di Banjar Kawan, Desa Sulang, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung, Bali.

Mariani mengakui, sangat kesulitan memasarkan Bokor hasil produksinya di masa pandemi Caoivid-19 ini. “Sejak pandemi Covid-19, orderan Bokor buatan saya juga sepi,” aku Mariani, saat ditemui di rumahnya, Jumat (26/11/2020).

Saat ditemui, Mariani tampak lihai merangkai satu persatu kepingan batok kelapa menjadi Bokor. Selain Bokor, dia juga membuat Dulang. Kata dia, bahan baku berupa batok kelapa yang siap dirakit itu didapatkannya dari pemasok di Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung.

Produk Bokor berbagai ukuran terpajang di teras rumah Mariani. Dengan teliti dia menghitung Bokor berbahan batok kelapa yang baru rampung dikerjakan. “Sudah tiga tahun, kerajinan ini menjadi penopang perekonomian keluarga kami,” ujar Mariani.

Meskipun sepi order di masa pandemic Covid-19, Mariani mencoba untuk tetap bertahan membuat kerajinan tersebut. Namun, agar bisa tetap bertahan Mariani harus berjuang untuk memasarkan produknya lewat online di media sosial (medsos).

“Kendati demikian (memasarkan lewat medsos, red), namun tetap saja penjualan tidak terlalu signifikan. Paling laku cuma satu sampai dua Bokor saja dalam sehari,” tuturnya.

BACA JUGA:  Di Tengah Pandemi Corona, Bali Masih Bisa Ekspor Manggis dan Kerajinan Tangan

Selama ini, ibu dari dua anak ini memasarkan produknya ke sejumlah pasar di Klungkung. Bahkan, sebelum pandemi Covid-19 dalam sebulan Mariani mampu memasarkan 50 buah produk, baik Bokor dan dulang.

“Sekarang, sejak pandemi Corona paling banyak saya bisa menjual 10 Bokor dalam sebulan,” ujar dia.

Mariani menjelaskan, harga per buah Bokor kecil dibandrol dengan harga Rp20.000, sedangkan yang ukuran besar Rp40.000. “Saat ada orderan dalam sehari, saya bisa mengerjakan tiga buah Bokor kecil, dan 2 buah Bokor besar,” katanya.

Karena penjualan menurun, Mariani mengurangi produksi kerajinannya. Dia nyambi dengan membuat dan menjual canang ceper (salah satu sarana untuk membuat sajen orang Bali, red).

Kreativitasnya ini menjadikan Mariani mampu membantu penghasilan keluarga dan mengurangi beban suaminya, Wayan Kariasa yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan.
“Kendati penghasilan saya jauh dari cukup untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari, saya tetap mensyukurinya. Betapa tidak, karena usaha yang saya geluti sudah bertahun-tahun ini masih bisa menghasilkan rezeki saat masa pandemi Covid-19,” katanya, dengan nada penuh semangat dan bersyukur.

New Marketing Strategi
Secara terpisah, akademisi Universitas Warmadewa (Unwar) Bali, Dr. Putu Ngurah Suyatna Yasa, S.E., M.Si., mengatakan, ada strategi yang harus dilakukan para pelaku UMKM agar bisnis usahanya tetap bertahan dan produktif di masa pandemi COVID-19. Strategi yang paling relevan adalah ‘Survival Method’.

Menurut Suyatna, kunci kelangsungan hidup UMKM tergantung kemampuannya menjaga ‘cashflow’ dalam jangka panjang. Pasalnya, tidak ada yang tahu kapan pandemi COVID-19 akan berakhir.

Caranya, para pelaku UMKM harus mengupayakan efisiensi pengeluaran, menunda ekspansi bisnis, mengatur gaji karyawan, mengatur jam kerja (shift), menjaga komunikasi dengan stakeholder, berinovasi, jemput bola, dan memaksimalkan marketing online.

BACA JUGA:  Wagub Cok Ace Harap IHGMA Bisa Jadi Pelopor Pencetak Manager Profesional

“Jika sebelumnya ada rencana ekspansi bisnis, tolong tunda dulu. Di era pandemi ini para pelaku usaha harus benar-benar hati-hati. Utamakan kebutuhan primer, jaga cashflow agar tidak kolaps,” ujar Suyatna.

Merujuk hasil riset tentang keputusan konsumen, dijelaskan bahwa sebanyak 20% ditentukan oleh logika. Sementara, 80% berdasarkan emosi konsumen.

Hal inilah yang harus dimanfaatkan oleh pelaku UKM dengan mengedepankan aspek emosional konsumen. Artinya, pelaku UKM mesti mengurangi nasfu meraup untung besar.

Namun, pihaknya menyarankan agar para pelaku UMKM mendonasikan sebagian keuntungan untuk mengurangi beban sesama manusia akibat Covid-19.

“Sekarang bukan momentum tepat meraup untung banyak. Malah ujian bagi pengusaha agar lebih empati dan peduli terhadap sesama,” imbuhnya.

Kaprodi Magister Managemen Pascasarjana Unwar ini mengajak seluruh pelaku usaha agara mampu bersaing secara sehat. Mengingat akhir-akhir ini banyak muncul pengusaha ‘dadakan’ yang rata-rata berasal dari karyawan yang dirumahkan oleh perusahaanya.

“Yang penting itu ‘new marketing’ strategi. Contohnya, ada tukang cukur yang mendatangi konsumen ke rumahnya. Usahanya tetap jalan, karena menjaga komunikasi dengan baik ke pelanggan. Dengan terbatasnya aktivitas manusia, strategi baru yang inovatif sangat mutlak diperlukan,” demikian Suyatna. (sdn)