Aksi Demo AWK Meluas, Sesuhunan Dalem Ped Diusik, “Damuh Ratu Gede Mecaling” Murka

Masyarakat Nusa Penida saat menggelar aksi damai di depan Monumen Puputan Klungkung. (FOTO : Istimewa)

Beritabalionline.com – Aksi protes terhadap anggota DPD RI Dapil Bali, Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna atau AWK kian meluas. Setelah sebelumnya puluhan massa mendemo AWK ke Kampus Mahendradatta yang beralamat di Jalan Ken Arok No. 12, Denpasar dan Kantor DPD RI di Renon, hari ini (Selasa, 3/11/2020) aksi serupa juga terjadi di dua tempat berbeda sekaligus.

Kedua aksi yang mengutuk keras pernyataan AWK yang viral di media sosial itu, dilakukan ratusan massa   di depan Monumen Puputan Klungkung, Kota Semarapura, dan di depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali (Bajra Sandhi) Lapangan Renon, Denpasar.

Aksi yang digelar di depan Monumen Puputan Klungkung diikuti sejumlah elemen masyarakat yang berasal dari seluruh wilayah Kecamatan Nusa Penida. Mereka yang turun ke jalan dikomandoi para pecalang, bendesa adat, tokoh masyarakat, tokoh adat, dan tokoh agama.

Dengan alunan gamelan baleganjur, masa beriringan berjalan ke depan Monumen Puputan Klungkung untuk berorasi. Mereka membawa berbagai atribut seperti poster dengan tulisan mengecam AWK. Antara lain, “Semeton Nusa Bersatu Turunkan AWK,  AWK Bacotmu Ga Mutu, AWK Kamu Harus Bertanggung Jawab, dan AWK 99,99 % Kamu Raja Buduh”.

Para pendemo yang datang dengan pakaian adat Bali madia itu meminta kepada Bupati Klungkung, DPRD Klungkung dan seluruh Muspida terkait agar segera turun tangan menyikapi tuntutan warga.

“Kami meminta bapak bupati dan jajarannya agar turun tangan menyikapi kisruh ini. Sebab kalau tidak, kami dari Nusa Penida akan kembali datang ke daratan Klungkung dengan jumlah massa yang lebih besar lagi,” teriak seorang peserta saat orasi di tengah massa.

BACA JUGA:  Wabup Sanjaya Buka Festival Kesenian dan Budaya Desa Megati 2019

“Sesuai rencana awal, kami hanya datang perwakilan saja. Kami datang dengan damai, berkaitan dengan ucapan AWK yang menyentuh ranah kepercayaan masyarakat Nusa Penida. Pada dasarnya masyarakat Nusa Penida sangat cinta damai, namun ada hal yang paling sensitif disentuh oleh AWK dengan ucapan arogan. Dan itu membuat kami sakit hati dan tersinggung,” ungkap Koordinator Aksi, I Wayan Sukla di hadapan massa yang dodominasi berpakaian ‘poleng’ (hitam putih)

“Kami menghormati Bupati, Kapolres sehingga kami datang hanya perwakilan saja. Pada intinya kami sangat tersinggung, kepercayaan kami diungkit-ungkit. Bahkan Ida Sesuhunan Ida Betara Dalem Ped yang kami sungsung, justru disebut mahluk,” jelas Ketua Forum Perbekel Nusa Penida I Ketut Gede Arjaya dalam orasinya.

Beberapa hari lalu, AWK kepada wartawan sempat mengatakan bahwa masyarakat Nusa Penida yang protes atas pernyataan di video yang kemudian menjadi viral itu hanyalah segelintir, karena dirinya masih banyak masyarakat Nusa Penida yang mendukungnya.

Atas pernyataan AWK itu, Gede Arjaya dengan tegas membantahnya. “Hari ini kami buktikan bahwa semua yang datang dalam aksi damai ini adalah perwakilan dari seluruh elemen masyarakat Nusa Penida, baik itu dari unsur pemuda, tokoh masyarakat, tokoh agama, maupun unsur tokoh lainnya,” katanya lantang.

Pengadilan Niskala Tak Bisa Dihindari

Sementara Bupati Klungkung Nyoman Suwirta yang hadir di tengah massa didampingi Kapolres Klungkung AKBP Bima Arya Viyasa dan pejabat jajaran terkait Pemkab Klungkung berjanji akan meneruskan aspirasi masyarakat Nusa Penida ke DPD RI.

“Ini semua bisa menjadi pembelajaran. Jika apa yang kita yakini belum tentu sama dengan yang diyakini orang lain. Jika dipaksakan, tentu bisa saja melukai hati orang banyak. Mudah-mudahan apa yang kita lakukan hari ini, direstui Ida Sesuhunan Dalem Ped,” ungkap Suwirta.

BACA JUGA:  Legislator Nyoman Parta Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan RI

Dihadapan massa, Suwirta juga menyampaikan, jika permasalahan tidak bisa diselesaikan secara hukum formal, apalagi menyangkut masalah agama, pihaknya meminta masyarakat tetap meyakini adanya pengadilan niskala yang tidak bisa dihindari.

“Pengadilan niskala tidak bisa kita hindari. Semoga semua apa yang krama Nusa Penida perjuangkan ini, yakinlah juga atas restu Ida Sesuhunan Dalem Ped,” jelasnya.

Dalam pada itu, tokoh spiritual Sandi Murti I Gusti Ngurah Harta mengatakan, aksi yang dilakukan hari ini memang dilakukan secara serentak. Selain di Klungkung, aksi juga digelar di Denpasar. Untuk di Denpasar, aksi digelar mulai dari Parkir Timur Lapangan Renon Denpasar dan masa akan bergerak ke Kantor DPD Bali.

“Hari ini ada aksi secara serentak, di beberapa lokasi di Bali. Massa tidak hanya terkonsentrasi di Denpasar, tetapi tersebar di beberapa titik.

Sekalipun menyebar, lanjutnya, namun intinya sama yakni meminta agar AWK mundur dari jabatan sebagai anggota DPD RI Dapil Bali. Sebab yang bersangkutan dalam bertutur dan menyampaikan pandangannya tidak mencerminkan dirinya sebagai senator dan bertentangan dengan etika sebagai orang Bali.

Seperti diberitakan, AWK memberikan beberapa pernyataan yang sangat kontroversial di Bali. Pertama, dalam sosialisasi di sebuah sekolah di Tabanan, Bali, AWK secara tegas mengatakan, boleh melakukan seks bebas asalkan menggunakan kondom. Pernyataan ini menimbulkan kontroversi dan melahirkan aksi dimana-mana.

Terkait penyataan tersebut, AWK dalam jumpa wartawan mengatakan bahwa dirinya berkata seperti itu dalam konteks memberikan pengarahan tentang upaya penanggulangan penularan AIDS/HIV. “Itu kejadian sudah tiga tahun yang lalu saat saya memberikan ceramah di salah satu sekolah SMK. Hanya saja, video yang seharusnya berdurasi hampir satu setengah jam itu, kemudian diedit menjadi sekian menit oleh oknum yang tak bertanggung jawab sehingga substansinya jadi tidak utuh,” kilahnya.

BACA JUGA:  Jelang Penetapan Hasil Pemilu, Polda Bali Kirim 2 SSK Brimob ke Jakarta

Pernyataan kedua AWK yang menimbulkan kontroversial adalah ucapannya yang menyebut bahwa Bhatara Dalem Ped, Nusa Penida adalah makhluk suci, bukan Dewa. AWK juga menyebut Bhatara Bhatara lokal.

Atas pernyataannya itulah AWK dianggap oleh sebagian besar umat Hindu di Bali, terlebih lagi masyarakat Nusa Penida telah melakukan penistaan agama terutama terhadap eksistensi Bhatara yang berstana di Pura Dalem Ped. Ketiga, AWK dituding secara terang benderang mendukung aliran Hare Krisnha (HK). Padahal HK sudah dilarang di Bali dan bahkan seluruh desa adat yang ada di Bali.

AWK dianggap telah melecehkan simbol agama Hindu yang disucikan masyarakat umat Hindu di Pulau Dewata. Hal inilah kemudian menimbulkan protes panjang di kalangan masyarakat Bali khususnya masyarakat Nusa Penida. (tim)