Anggota DPD RI Laporkan Kasus Pemukulan Dirinya ke Polda Bali, Minta Pendemo Baca UU MD3

Anggota DPD RI Arya Wedakarna. (FOTO : ist)

Beritabalionline.com – Anggota DPD RI Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Wedasteraputra Suyasa alias AWK melaporkan kasus pemukulan dirinya saat berlangsung aksi demo puluhan massa ke Kantor DPD RI di Renon, Denpasar pada Rabu (28/10/2020).

“Kemarin saya laporkan kasus pemukulan atas diri saya ke Polda Bali. Besok (Sabtu, 31/10/2020) saya juga akan melaporkan salah satu organisasi kemasyarakatan (ormas) karena tindakan mereka saya anggap sudah keterlaluan dalam menyampaikan aspirasi. Bukti-buktinya sudah ada,” tuturnya, tanpa merinci lebih lanjut.

Menanggapi dirinya hari ini, Jumat (30/10/2020) dilaporkan ke Polda Bali lantaran diduga melecehkan simbol-simbol pemujaan umat Hindu yang ada di Nusa Penida, AWK dengan enteng menjawab, “Silakan saja”.

“Saya menanggapinya (laporan tersebut) biasa-biasa saja, enggak apa-apa silahkan karena itu hak masyarakat,” ucap AWK di Denpasar, Jumat (30/10/2020)

AWK menerangkan, sebagai pejabat politik dirinya memiliki hak untuk berpendapat.

“Baca Undang-undang MD3 tahun 2014 dan tahun 2018 tentang hak anggota DPD. Jadi seorang anggota wakil rakyat DPD, itu tidak bisa dituntut karena pendapatnya yang terkait dengan tupoksinya,” ucapnya.

“Sama juga misalkan ketika oposisi mengkritik pemerintah, ya nggak boleh dong anggota DPR, DPRD tersebut dilaporkan oleh pemerintah karena akan berbenturan dengan Undang-undang,” jelasnya.

Seperti diketahui, aksi demo yang dilakukan puluhan warga di Kantor DPD RI, Denpasar,  Rabu (28/10/2020) diwarnai insiden pemukulan terhadap anggota DPD RI Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Wedasteraputra Suyasa alias AWK.

“Jangan main pukul, mundur,” teriak petugas kepolisian yang melakukan pengamaman di Kantor DPD RI Provinsi Bali Jalan Cok Agung Tresna, Renon, Denpasar Timur.

Sebelum aksi pemukulan terjadi, pendemo yang diketahui berasal dari Perguruan Sandhi Murthi bersama perwakilan masyarakat Nusa Penida ini sudah terlihat emosi saat baru tiba Kantor DPD RI.

BACA JUGA:  Aniaya Istri Penceramah, Kernet Bus Ditangkap Buser Polsek Kuta

Dengan mengenakan pakaian adat madya (ringan) warna hitam, pendemo berjumlah kurang lebih 30 orang ini datang untuk minta klarifikasi atas ucapan AWK yang dianggap menghina masyarakat Nusa Penida.

Untuk menghindari bentrokan antara pendemo dengan pendukung AWK yang sejak semula berada di dalam gedung, pihak keamanan kantor menutup pintu pagar.

Namun peserta demo tetap bertahan di luar gedung sembari berorasi. Kurang lebih 30 menit kemudian, AWK keluar untuk menemui pendemo dengan pengawalan petugas kepolisian serta pendukungnya.

Situasi akhirnya memanas, beberapa pendemo kemudian melayangkan pukulan dan mengenai kepala AWK.

Melihat itu, petugas kemudian mengamankan AWK dengan membawanya masuk ke Kantor DPD RI. (agw)