Percepat Recovery, Pelaku Pariwisata Bali Perketat Protokol Kesehatan

Salah satu restoran di Bali tutup karena pandemi Covid-19. (FOTO : Tempo.co)

Beritabalionline.com – Dampak pandemi Covid-19 membuat bisnis perhotelan di Pulau Dewata menjadi sulit. Wabah virus Corona atau Covid-19 membuat pariwisata dunia lesu. Tak terkecuali Bali yang memiliki market 19 persen wisatawan asal China, kini tengah mengalami keterpurukan yang sangat signifikan.

Seorang pengusaha hotel di Bali, I Gusti Agung Ayu Putu Sarini, SH mengungkapkan bahwa perhotelan adalah bisnis yang paling terdampak pandemic Covid-19 dan butuh waktu cukup lama untuk bisa pulih kembali.

“Memang adanya Covid ini, saya yakin semua bisnis hotel paling terdampak dan terpukul, paling cepat terpukulnya paling lambat recoverynya,” kata Gung Sarini panggilan akrab wanita yang merupakan owner representative dari SEAHORSES Hotel yang beralamat di Jalan By Pass Prof. I.B Mantra, kawasan Pantai Lebih, Gianyar dalam perbincangannya dengan Koran Metro, Selasa (20/10/2020).

Penyebabnya, kata dia, adalah turunnya okupansi rate penggunaan fasilitas yang dimiliki dan dijual oleh hotel. Pandemi Covid ditambah PSBB yang diberlakukan di beberapa daerah, membuat pergerakan manusia dibatasi.

“Jadi orang yang traveling juga tidak ada, untuk menyelesaikannya kegiatan, entah itu meeting, wedding atau event lainnya juga tidak bisa dilakukan. Jadi otomatis dari segi revenue, segi okupansi juga turun lumayan terjun ya, itu dampak paling utama dari sisi hotel,” ungkap sarjana hukum jebolan Unud ini.

Menurut Gung Sarini yang sudah lama malang melintang di dunia pariwisata ini, sejak pandemi Covid-19 merebak, okupansi hotel atau tingkat hunian kamar hotel di Bali mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Kondisi industri hotel saat ini membuat jadi situasi yang ideal untuk berlibur. Sepinya wisatawan disebutkan Sarini, membuat pihak hotel memberikan perhatian yang lebih baik kepada tamu. Hal ini terkait fasilitas, pelayanan, promo paket spesial, atau diskon harga kamar.

Untuk itu, kata dia, saat ini adalah waktu yang tepat terutama bagi wisatawan domestik/nusantara untuk berwisata ke Bali. Khusus di SEAHORSES Hotel, ia mengaku telah mempersiapkan berbagai paket promosi khusus yang bisa didapatkan di periode ini.

BACA JUGA:  Wisman Bali Januari-Agustus 2019 Tumbuh 1 Persen

“Paket-paket tersebut kini tengah kami rancang khusus sesuai segmentasi. Misalnya, untuk tamu pasangan yang menginap di SEAHORSES, keluarga, atau teman,” ungkap sarjana hukum jebolan Universitas Udayana ini.

“Benefit khusus pasti akan ada, apalagi untuk yang tinggal cukup lama. Saat ini jadi saat yang tepat untuk datang liburan bagi orang yang suka memanfaatkan banyak benefit,” imbuhnya.

Pada bagian lain Gung Sarini juga mengungkapkan, pada saat kebijakan PSBB ada beberapa hotel di luar daerah yang memutuskan menutup operasionalnya. Tetapi, di Bali hal itu tidak dilakukan para pemilik hotel. Termasuk hotel miliknya, SEAHORSES dan Hotel Taman Agung yang beroperasi di kawasan wisata Sanur. “Hotel kami tetap beroperasi dengan standar protokol kesehatan yang sangat ketat,” ujarnya.

“Jadi perbulan April kita langsung menerapkan standar protokol seperti penggunaan masker, pengecekan suhu tubuh, pengisian data diri lalu semua karyawan kita fasilitasi dengan alat kesehatan face shield lengkap,” imbuh ibu dua orang putra ini.

Hal yang sama juga disampaikan para pemilik hotel dan villa di kawasan Tegalalang, Ubud, Gianyar. Pemilik Alam Dania Villa, I Made Punia merasakan hal yang sama. Namun, kini villa-nya tetap beroperasi dan mengikuti protokol kesehatan yang ketat.

“Di tengah pandemi Covid-19 villa kami tetap beroperasi dengan menerapkan protokol kesehatan secara disiplin dan ketat. Hal ini kami lakukan untuk meyakinkan customer tidak perlu khawatir di masa pandemi untuk staycation,” ucapnya.

Selain itu, pihaknya juga memberikan edukasi tentang kebiasaan memakai masker. Dia mengungkapkan, terkadang masih ada satu dua tamu hotel yang tidak menggunakan masker.

“Memang kebiasaan ini yang biasanya tidak memakai masker kita saling toleran untuk mengingatkan, karena beberapa customer masih merasa gerah mungkin jadi kita memberikan motivasi juga dan saling mengingatkan kadang kadang orang gak sadar buka,” tuturnya.

BACA JUGA:  Ketua Dekranasda Bali Motivasi Perajin agar Tak Mati Suri di Masa Pandemi Covid-19

Ditanya soal harga kamar yang ditawarkan di masa pandemic Covid-19, baik Gung Sarini maupun Made Punia mengaku terpaksa harus banting harga jauh dari harga normal sebelum adanya pandemi Covid-19.

“Saat ini hampir semua bisnis pariwisata seperti hotel, restoran, dan tempat wisata dalam kondisi mati suri. Oleh karena itu, banyak pengusaha hotel dan villa di Bali terpaksa harus menurunkan harga kamar jauh dari harga yang layak,” ungkap Gung Sarini.

Dia mencontohkan, sejumlah hotel dan villa di kawasan Sanur, Kuta dan Ubud kini ditawarkan dengan harga sangat murah lewat online. Bahkan di Ubud banyak villa private yang sebelum pandemi Covid-19 dijual Rp 3 juta per malam, saat ini dijual hanya Rp 700 ribu per malam. “Ada pula villa yang sebelum Covid-19 dijual Rp 900 permalam, kini dijual hanya Rp 250 ribu per malam,” katanya.

 Destinasi yang Paling Ingin Dikunjungi

Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) dalam satu kesempatan mengatakan bahwa semenjak dibukanya pariwisata Bali untuk wisatawan domestik pada tanggal 31 Juli yang lalu, terjadi pelonjakan kasus Covid-19 cukup signifikan. “Karena itu kami masih mencari korelasi antara pembukaan Bali untuk wisatawan dengan bertambahnya angka tersebut,” imbuhnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Cok Ace mengaku Pemprov Bali telah mengeluarkan berbagai kebijakan, seperti penggunaan hotel para OTG Covid-19, penambahan fasilitas-fasilitas di RS Rujukan Covid-19 serta penerbitan Pergub Bali Nomor 46 Tahun 2020 tentang Penerapan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan.

“Semua usaha tersebut bertujuan untuk mengendalikan penyebaran virus Corona di Bali,” jelasnya.

Ia pun menyampaikan rasa bangganya karena dari berbagai survei yang dilakukan kepada wisatawan lokal dan internasional, Bali tetap menjadi destinasi yang paling ingin dikunjungi pasca pandemi Covid-19 ini.

BACA JUGA:  Pemprov Bali dan Tokoh Pariwisata Rumuskan tentang Pariwisata Berkualitas

“Saya bangga banyak wisatawan mancanegara merindukan Bali, hal itu tidak lepas dari penghargaan Bali yang selama ini diraih,” bebernya, seraya menyatakan pihaknya berencana mengajak wisatawan domestik dan mancanegara mulai mengunjungi Bali dan bekerja dari Bali saja.

“Selama ini tagline work from home sangat lumrah, kenapa tidak kita kenalkan saja work from Bali. Saya rasa banyak villa di pedesaan di Bali yang bisa menawarkan hal tersebut,” tandasnya.

Ia mengakui pandemi telah membuat perekonomian Bali cukup merosot, terutama di triwulan kedua yang mencatat pertumbuhan hingga minus 10,98%. Ia berharap Bali bisa bangkit pasca pandemi.

Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, kerugian Bali selama pandemi Covid-19 mencapai Rp 9 triliun per bulannya.

Apa yang disampaikan Luhut Pandjaitan itu tidak ditampik Wakil Gubernur Bali Cok Ace. Hal tersebut dikarenakan lokomotif utama perekonomian Bali adalah pariwisata. Dia mengungkapkan, hampir 53 persen lebih produk domestik regional bruto (PDRB) Bali bersumber dari pariwisata.

Dijelaskan, bukan hal mudah bagi Bali untuk mengalihkan sumber ekonomi dari pariwisata ke sektor lain. “Tentu tidak pekerjaan mudah bagi kita semua termasuk pemerintah mengalihkan dari sektor pariwisata ke sektor lain,” kata Cok Ace.

Bali, lanjut Cok Ace, saat ini tengah menggenjot sektor ekonomi lain seperti ekspor, sektor pertanian, dan UKM. “Tapi, karena begitu besar kontribusi pariwisita terhadap perekonomian Bali tentu ini juga mengalami kesulitan bagi kita,” kata dia.

Cok Ace yang juga Guru Besar ISI Denpasar ini mengatakan, pemerintah akan melakukan usaha maksimal untuk recovery pariwisata, sehingga pariwisata Bali dapat hidup lagi seperti sediakala dan bahkan jauh lebih meningkat.

Untuk itu saat ini selain melakukan usaha-usaha penanganan pandemi, Pemprov Bali juga berusaha membuat skema pariwisata Bali pasca Covid-19, sehingga nantinya dapat dijalankan dengan baik dan sesuai dengan keadaan di lapangan, demikian Cok Ace yang juga mantan Ketua BPD PHRI Bali.  (sastra)