Gairahkan Budaya Literasi PKK, Putri Koster Luncurkan Buku ‘Kata Hatinya’

Ny. Putri Koster dalam peluncuran Buku Antalogi buku puisi bertajuk “Kata Hatinya”.(foto: ist)

Beritabalionline.com – Ketua TP PKK Provinsi Bali Ny Putri Suastini Koster ingin menggairahkan budaya literasi puisi di kalangan PKK,  dengan menggas antologi buku puisi bertajuk “Kata Hatinya” yang di dalamnya berisi kumpulan karya sastra puisi dari seluruh pengurus TP PKK Provinsi Bali.

“ Puisi yang dihasilkan para pengurus PKK Provinsi tidak hanya bertujuan sekadar menampilkan tulisan kata-kata yang indah, namun lebih dari pada itu adalah memberikan edukasi kepada generasi muda terkait karya sastra atau literasi, Sehingga karya sastra puisi tidak tenggelam begitu saja di tengah era globaliasi, melainkan makin menggeliat dan bergairah di tengah-tengah masyarakat,” kata Ny Putri Suastini Koster yang juga dikenal sebagai pegiat sastra saat membuka acara peluncuran buku ‘Kata Hatinya” yang dilakukan secara daring, bertempat di Jayasabha Denpasar, Selasa (11/8/2020).

Wanita yang getol dalam pemajuan seni sastra ini menilai, puisi merupakan salah satu seni yang mampu mengasah rasa kepekaan dan memberi kebahagiaan batin bagi mereka yang menekuninya. Dengan menyalurkan hobi menulis puisi, Putri Koster berharap secara psikis bisa berdampak positif bagi para orangtua yang menjadi ujung tombak dalam pembentukan karakter anak.

Lebih lanjut, Putri Koster juga memberikan apresiasi kepada para pengurus PKK yang bukan merupakan sastrawan, namun bisa menghasilkan karya terbaik di tengah masa pandemi ini.

Untuk itu, ia berharap hasil karya tersebut bisa menjadi inspirasi bagi seluruh PKK Kabupaten/Kota untuk mencurahkan isi hatinya ke dalam karya sastra puisi dan menularkan kepada anak-anak generasi muda di lingkungan terdekat guna mencurahkan isi hati dalam karya sastra.

BACA JUGA:  Setelah Banyuwangi dan Malang, Krama Banjar Sampalan Tirtayatra ke Tiga Pura di Bali Barat

Selain bicara soal puisi, Putri Koster juga tetap mengingatkan, kepada seluruh anggota PKK se-Bali, untuk tetap menajalankan protocol Kesehatan, selalu memakai masker, rajin mencuci tangan, jaga jarak dan menghindari kerumunan.

Ia juga menyampaikan pesan dari Ketua Tim Penggerak PKK Pusat seluruh pengurus PKK se-Indonesia akan melakukan “Gebrak PKK yakni Gerakan Bersama Pemakaian Masker’.   Sementara, kata Putri Koster, untuk Gebrak PKK di Bali, sudah pada tahap  mandiri.

“Masker sudah menjadi kebutuhan. Awal Maret, April, dan Mei, pemerintah sudah  menyebarkan masker gratis kepada masyarkat. Kini, masyarakat sudah terbiasa menyiapkan masker sendiri alias mandiri. Masyarakat mandiri adalah masyarakat yang membuat bangsa menjadi kuat,” kata Putri Koster.

Menurutnya, masyarakat memang harus diberi kail bukan ikan, sehingga akan muncul kreativitas dalam diri mereka. Ia berharap, saat pandemi, masyarakat tidak mengeluh, tapi berpeluh, tetap kreatif dan inovatif, berbagi dengan sesamanya.

Sementara, Wayan Suardika, atau yang biasa dikenal Don Dulang selaku editor buku puisi ini  mengatakan, awalnya ia membaca buku puisi ini dengan sangat santai dan rileks. “Puisi ini  memberikan saya “rasa” santai. Bagi saya sebuah puisi ketika dibaca, ada kenikmatan dan sebuah pengertian. Artinya, ketika dibaca, puisi  ini dinikmati oleh hati dan kalbu,” kata Don Dulang.

Setelah selesai membaca, ia mulai menempatkan dirinya sebagai koretor dan penyeleksi. Puisi ini dibuat dari mereka yang belum terlatih menulis puisi. Namun, ia melihat, ada semacam kegairahan dengan puisi. Ada keinginan untuk berkreasi.

“Ketika saya membaca puisi ini ada yang menyajikan seperti artikel. Namun, saya bangga karena  mereka begitu polos dan jujur. Kerja editing saya tidak mengubah karya  asli mereka. Saya hanya menyempurnakan. Sebagai  editor, saya tetap menjaga jati diri penulisnya. “Aspek “rasa” akan tetap dijaga. Sebuah kejujuran kata hati, rasa  dari diri  mereka sendiri,” kata Don Dulang.

BACA JUGA:  Gubernur Koster Minta PKK Tidak Buat Program Asal-asalan

Sementara, menurut I Gusti Agung Sri  Rwa Jayantini, Sekretaris Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (Hiski) Bali mengatakan,  puisi ini dibuat  bukan dari seorang penyair tapi hasilnya sangat bagus.  Puisi ini diterbitkan dalam dua bahasa, Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.  Tidak semua penyair bisa melakukan itu.

Ia melihat, PKK Bali telah berperan dalam mengairahkan keaksaraan kita. Dengan membaca pengetahuan menjadi luas. Menurutnya,  menggerakkan literasi dan membuat dunia sastra lebih bergairah harus melibatkan berbagai komponen masyarakat, termasuk PKK.

Salah satu puisi yang sempat dikomentari Dosen Universitas Mahasaraswati Denpasar ini adalah ‘Bah, Wabah” karya Ny. Putri Suastini Koster. Ia mengatakan, dalam puisi tesebut, Putri Koster tidak menuliskan satupun kata corona, atau Covid-19, namun, ia mengungkapkan, suasana pandemi ini dengan kalimat yang lebih universal. Di sinilah, ia menilai, kepiawaian  Putri Koster memilih kata atau kalimat yang lebih mengandung ‘rasa’. (yaw)