Cerita Pilu Dua Anak Yatim yang Tak Mampu Beli Hp karena Sekolah Secara Online

Dua anak yatim bersaudara, Neza Nava Aurelia dan Kailla Anastasya. (FOTO : Ist)

Beritabalionline.com – Di saat pandemi virus Corona atau Covid-19 menyerang Indonesia, masih ada masyarakat miskin yang hidup merana. Penghasilan mereka yang pas-pasan setiap harinya makin berkurang mengingat pemerintah sudah mengimbau para warga untuk banyak beraktivitas di rumah.

Sudah setahun lamanya sejak sepeninggalan sang ayah, dua bersaudara ini menjadi yatim. Mereka adalah Neza Nava Aurelia dan Kailla Anastasya. Neza adalah anak pertama yang sekarang duduk di bangku kelas 2 SMP, sementara adiknya Kailla masih duduk di bangku SD kelas 6.

Diketahui, sebelum ayahnya meninggal, mereka tinggal di Kampung Gelgel, Kabupaten Klungkung Bali. Namun semenjak ayahnya meninggal mereka pindah ke Denpasar, dan kini tinggal bersama ibunya di sebuah rumah yang begitu sederhana, tepatnya di Jalan Pemogan, Banjar Panti Gede, Denpasar Selatan.

Sebelum virus Corona (Covid-19) mewabah, setiap hari mereka harus bangun lebih pagi. Usai salat subuh dan mandi, dua kaka beradik itu bersama-sama membantu sang ibu membuat gorengan seperti bakwan dan gehu. Setelahnya, mereka sama-sama pergi ke sekolah seraya membawa gorengan untuk mereka jual di sekolahnya masing-masing.

“Sambil ngumpet karena kebijakan sekolah yang melarang siswa berjualan di area sekolah. Sekarang jualannya berhenti dulu karena sekolahnya di rumah,” tutur sang Ibu  kepada pihak pengelola Rumah Yatim Cabang Bali, di Denpasar, Rabu (29/7/2020).

Usai pulang sekolah biasanya mereka sholat, makan, dan istirahat sebelum kembali menjalankan kegiatan selanjutnya. “Setelah mandi, jam 3 sore kami pergi mengaji sampai Isya,” imbuhnya.

Namun sejak pandemi Covid-19, kini kehidupan mereka berubah drastis. Tak ada lagi pergi ke sekolah dan berjualan gorengan, tentu hal ini menyebabkan salah satu mata pencaharian keluarga mereka hilang.

BACA JUGA:  Bupati Mahayastra Serahkan Bantuan Kursi Roda untuk Penyandang Disabilitas

Namun beruntung mereka memiliki bibi yang baik dan punya usaha sablon, ia meminta Ibu dari kedua anak bersaudara itu untuk membantu usahanya.

Sementara itu, sejak Covid-19 mereka kini menjalani sekolah secara online. Namun sayang, di keluarga mereka hanya memiliki satu Hp, yaitu milik sang ibu. “Mereka sering kebingungan, karena tugasnya dua sementara Hp-nya satu. Karena mereka belum punya HP ,” tuturnya.

Selain terkenal sebagai anak yang baik dan berbakti terhadap keluarga, ternyata dua bersaudara ini dikenal anak yang pintar. Terbukti, di sekolahnya mereka selalu masuk ranking 5 besar.  “Mereka kadang peringkat 2 atau 3,” imbuhnya.

Atas kondisinya itu, pihak Rumah Yatim Cabang Bali memberinya bantuan beasiswa dhuafa, pada Kamis (24/7/2020) lalu. Melalui bantuan tersebut diharapkan sedikitnya bisa membantu mencukupi kebutuhan meraka. (ist)