Pagerwesi di Masa Pandemi Covid-19, Krama Desa Adat Buleleng Gelar Tradisi Memujung

Sejumlah warga saat melaksanakan tradisi Memujung. (foto: ist)

Beritabalionline.com – Ditengah pandemi Covid-19, Tradisi menghaturkan banten punjung di kuburan Bertepatan Hari Raya Pagerwesi, pada Rabu (8/7/2020) di Desa Adat Buleleng, tetap di gelar.
Tradisi ini digelar untuk mendoakan keluarga yang telah meninggal dunia namun belum diaben, agar mendapat tempat disisi Tuhan.

Sebelum masuk ke areal kuburan, masyarakat diminta oleh petugas desa adat untuk mencuci tangan, serta wajib menggunakan masker.

Setelah itu, banten punjung beserta makanan kesukaan almarhum diaturkan di masing-masing pusara tanpa dipimpin oleh pemangku. Mereka mendoakan para arwah sanak keluarga yang meninggal dunia itu mendapat tempat yang layak.

Selain itu, keluarga yang ditinggalkan memohon tuntunan dan diberi kemudahan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Selesai sembahyang, warga dengan suka cita mengkomsumsi bahan banten punjung yang telah dihaturkan itu.

Konon cara ini dipercaya sebagai ungkapan rasa syukur warga kepada anggota keluarga yang telah meninggal dunia merayakan hari raya penuh dengan suka cita.

Seperti yang dilakukan oleh Koang Sumantri (49) dilansir dari tribunnews.com .Warga asal Lingkungan Banjar Adat Petak, Kecamatan Buleleng ini melaksanakan tradisi Memujung sejak pagi hari, di pusara milik iparnya, yang meninggal pada Mei lalu.

“Kalau belum diaben, wajib bawa banten punjung ke setra saat Pagerwesi. Kalau sudah diaben, tidak perlu lagi Memunjung di setra, cukup di rumah saja,” terangnya.

Sementara Kelian Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna menjelaskan, jika tradisi memunjung saat Hari raya Pagerwesi memang sudah dilaksanakan secara turun temurun. Namun saat ini jumlah krama yang melaksanakan tradisi tersebut mulau berkurang. Sebab, banyak krama yang memilih untuk langsung melaksanakan upacara ngaben.

BACA JUGA:  Merokok di Areal RSBM Denda Rp50 Juta

“Memang tradisi memunjung kian hari semakin sedikit, karena yang meninggal sudah banyak yang langsung diaben. Karena kan sudah ada ngaben massal. Selain itu, masyarakat semakin sadar, saat sanak keluarganya meninggal, jasadnya langsung dibakar, ataupun menkingsan di geni,” tutupnya.(tim)