Omzet Industri Ritel di Bali Merosot

Pekerja menyiapkan gula pasir.

Beritabalionline.com – Penjualan kebutuhan pangan di Bali turun 15 persen menjelang Idulfitri 2020 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Wakil Ketua Bidang Organisasi Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Bali Anak Agung Ngurah Agung Agra Putra mengatakan, penurunan ini disebabkan karena adanya Covid-19 yang turut merubah pola konsumsi masyarakat.

Misalnya saja pada kondisi normal masyarakat cenderung membeli kue lebaran dalam jumlah yang banyak, namun saat ini beralih membeli bahan pembuat kue untuk lebih menghemat pengeluaran.

“Pola ini yang membuat menurunan cukup signifikan di industri ritel,” katanya saat di hubungi oleh Bisnis, Minggu (24/5/2020).

Sementara itu, sambungnya, daya beli masyarakat terhadap kebutuhan sandang juga jauh berkurang.

Bahkan ritel pakian mengalami penurunan mencapai 85 persen sejak awal tahun ini hingga memuncak ketika Covid-19 pertama kali diumumkan di Pulau Dewata.

“Masyarakat lebih mendahulukan kebutuhan pangan dibandingkan sandang meskipun saat hari raya lebaran,” tambahnya.

Di sisi lain, perilaku belanja masyarakat turut mengalami perubahan, yakni pembelian produk secara daring mengalami peningkatan sebesar 30 persen di bulan Ramadhan tahun ini. Ia memperkirakan, adanya Covid-19 membuat sebagian masyarakat memilih di rumah dan belanja secara daring.

“Jumlah ini mungkin akan terus meningkat karena imbauan pemerintah untuk tetap di rumah saja,” imbuhnya.

Agra menuturkan, sebelum munculnya Covid-19 Aprindo Bali telah memprediksi perolehan omzet bisnis ritel yang akan naik hingga 15 persen, sebab pada akhir 2019 penjualan produk ritel cukup baik. Diprediksi penurunan omzet akan terus terjadi, mengikuti pola konsumsi masyarakat di tengah Covid-19. (net)

BACA JUGA:  Andalkan Olahan Ayam, NasDap Tawarkan Beragam Paket Kuliner Murah