Cabuli Siswa PAUD, Kakek Asal Jepang Dibui 5 Tahun

Terdakwa Kato Toshio divonis 5 tahun penjara oleh PN Denpasar. (Foto : SAR)

Beritabalionline.com – Kato Toshio, pria 60 tahun asal Jepang yang menjadi terdakwa atas kasus pencabulan terhadap balita yang masih duduk di sekolah Pendidikan Usia Dini (PAUD), divonis 5 tahun penjara.

Sidang yang digelar secara online, Kamis (30/4/2020) di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, majelis hakim pimpinan IGN Putra Atmaja menyatakan terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana pencabulan terhadap anak dibawah umur.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana pada Pasal 76 E Jo Pasal 82 ayat (4) UU RI No. 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Perpu nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan undang undang perlindungan anak.

“Menghukum terdakwa oleh karena itu dengan pidana penjara selama 5 tahun, denda Rp5.000.000 bila tidak dibayar diganti dengan hukuman kurungan selama 3 bulan,” sebut hakim dalam amar putusannya.

Atas vonis yang 2 tahun lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Assri Susantina, terdakwa menyatakan menerima.”Terdawa menerima vonis ini yang mulia,” kata terdakwa melalui penterjemahnya.

Sebagaimana diuraikan dalam surat dakwaan, terdakwa sejak bulan Februari 2018 menjadi sukarelawan di PAUD yang beralamat di Jalan Tukad Badung, Renon Denpasar.

Selain tenaga bersih-bersih, kakek kelahiran di Jepang, 1 Januari 1962, itu Juga menggantikan tukang masak untuk anak anak PAUD apabila tukang masak khusus, libur atau tidak masuk kerja. Terdakwa sendiri tinggal di salah satu kamar yang ada di PAUD Central.

Sekitar bulan Januari 2019 sampai April 2019, dimana terdakwa saat jam tidur siang dan anak-anak PAUD yang lain tidur siang. Saat itu lima anak korban disuruh masuk ke kamar terdakwa.

Terdakwa menyuruh anak korban melepas baju mereka dan di photo. Kemudian terdakwa melepaskan celananya sendiri lalu mulai melakukan perbuatan tak senonoh ke anak-anak korban.

BACA JUGA:  Keluar dari Penjara, WN Inggris Pembunuh Polisi Dideportasi

Anak-anak korban sendiri main ke kamar terdakwa, karena sering diberi hadiah seperti boneka, buah, kue, coklat dan mainan. Bahkan anak-anak korban sendiri menyebut jika ada keluar cairan warna putih yang dikatakannya “buang air besar”.

Selanjutnya tanggal 17 Maret 2019, perbuatan terdakwa akhirnya diketahui oleh orangtua anak korban karena anak korban menceritakannya disaat ibu-ibu dan anak korban makan bersama di restoran.

Di sana para anak korban ditanya oleh ibu-ibunya dan akhirnya berlanjut menceritakan perbuatan pencabulan yang dilakukan terdakwa ke Polresta Denpasar. (sar)