Sekaha Demen Banjar Sampalan, Nusa Penida Tirta Yatra ke Pura Taman Campuhan Sala

Krama Sekaha Demen Banjar Sampalan, Nusa Penida melakukan Tirta Yatra ke Pura Taman Pecampuhan Sala, Bangli, Minggu (15/3/2020). (foto : Sastra/Beritabalionline.com)

Beritabalionline.com – Tirta Yatra merupakan salah satu cara umat Hindu melakukan pendekatan diri dan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Karenanya, warga/Krama Banjar Sampalan, Nusa Penida yang tergabung dalam wadah ‘Sekaha Demen’ di Denpasar dan sekitarnya secara periodik melakukan Tirta Yatra ke beberapa tempat suci baik yang ada di Bali maupun luar Bali.

Untuk kali ini, Krama Sekaha Demen, Banjar Sampalan, Nusa Penida melakukan Tirta Yatra ke Pura Taman Pecampuhan Sala yang berlokasi di Banjar Sala, Desa Abuan, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, pada Minggu (15/3/2020).

Ketua Sekaha Demen Banjar Sampalan, Dewa Gede Arta Wibawa mengatakan, kegiatan ini (Tirta Yatra) adalah bagian dari agenda rutin kami anggota Sekaha Demen, yang tujuannya untuk menjaga kebersamaan dan kekompakan masing-masing anggota melalui kegiatan spiritual.

“Astungkara atas asung kerta waranugraha Ida Sanghyang Widhi Wasa/Tuhan Yang Maha Esa, program Tirta Yatra Keluarga Besar Sekaha Demen Banjar Sampalan berjalan dengan baik dan lancer,” ujar Arta Wibawa.

Dijelaskan, dipilihnya Pura Taman Pecampuhan Sala sebagai tempat Tirta Yatra karena lokasinya yang unik dan memiliki pancaran fibrasi yang luar biasa. Pura Taman Pecampuhan Sala memiliki 9 buah pancoran. Di antaranya Gerojogan Pesiraman Dedari, Gerojogan Pesiraman Tan Hana, Tirta Bolakan, Tirta Taman, Tirta Bumbung, Tirta Pandan, Tirta Tulakwali dan Tirta Utama.

Di masing-masing pancoran pengelukatan, juga memiliki fungsi yang berbeda. Misalkan, di Tirta Pandan memiliki kegunaan untuk jaga diri. Tirta Bungbung untuk kelancaran ekonomi. Ada juga Tirta Tulakwali yang kegunaannya untuk menolak bala. Di Tirta Taman, kegunaannya untuk mereka yang menderita sakit nonmedis.

BACA JUGA:  Dikabarkan Hilang saat Mancing Gurita, Muhdar Ditemukan Selamat
Pura Taman Pecampuhan Sala, Bangli. (foto : Sastra/Beritabalionline.com)

Salah satu penekun spiritual di Bali, Acarya Rasa Prabu Darmayasa dalam satu kesempatan menjelaskan bahwa Tirta Yatra berasal dari kata ‘tr’ yang berarti ‘tiryate anena’ (manusia diseberangkan dari lautan dosa).

Selain itu, ada istilah lain yang memiliki arti yang sama dengan Tirtayatra, yakni Tirthatana. Sedangkan orang yang melakukan Tirtayatra disebut Tirtayatri, dan di India disebut Yatri saja.

Jadi, Tirtayatra adalah perjalanan suci untuk mendapatkan atau memperoleh air suci. Tirtayatra dalam bahasa sehari-hari di Bali dipahami dengan tangkil atau sembahyang ke sejumlah pura, baik yang berlokasi di Bali maupun luar Bali.

Dalam Kitab Sarasamuscaya 279 disebutkan keutamaan Tirtayatra itu amat suci, lebih utama dari penyucian dengan yadnya. Dalam pelaksanaannya, Tirtayatra tidak memandang orang dalam status apapun, baik kaya atau miskin, asal didasarkan pelaksanaan bhakti yang tulus ikhlas, tekun, dan sungguh-sungguh.

”Nilai kesucian atau kualitas kesucian Tirtayatra lebih utama daripada membuat upacara banten, walaupun upacara itu tingkatannya utama,” ujarnya.

Usai melakukan Tirta Yatra, Krama Sekaha Demen Banjar Sampalan lanjut mengunjungi obyek wisata Ayodya Oemah Strawberry, sebuah wisata edukasi berkebun stroberi yang ada di kawasan Bangli. (sas)