Diduga Beri Keterangan Palsu untuk Kuasai Lahan, 14 Warga Jimbaran Dilaporkan ke Polisi

Sabaruddin (tengah) saat memberi keterangan pers bersama ahli waris. (foto : Agung Widodo/Beritabalionline.com)

Beritabalionline.com – Ditengarai membuat keterangan palsu dengan mengatasnamakan berasal dari soroh (klan) tertentu untuk menguasai tanah seluas 2 hektar lebih, 14 orang warga Jimbaran, Kuta Selatan, Badung, Bali dilaporkan ke Polresta Denpasar.

“Jadi sekelompok oknum masyarakat ini membuat keterangan palsu seolah-olah mereka ini ada hubungan keluarga dengan pemilik lahan yang sudah meninggal dunia,” terang Sabaruddin selaku kuasa hukum ahli waris, Minggu (8/3/2020) di Badung.

Dikatakan, tanah seluas 2 hektar 57 are yang berada di wilayah Banjar Peraduan, Kelurahan Jimbaran, Kuta Selatan, Badung tersebut merupakan peninggalan almarhum Ni Wayan Gubreg (orangtua ahli waris) yang diperoleh dari orangtuanya, I Bir dan Ni Nyoman Sianti (almarhum). I Bir terlahir dari keluarga dengan soroh atau klan Binoh.

Ni Wayan Gubreg yang menikah dengan I Wayan Reteng (almarhum) memiliki enam orang anak yakni Ni Wayan Jabrig, I Made Jabrug, Ni Nyoman Jabreg (almarhum), I Ketut Nambreg (almarhum), I Wayan Nambrig dan I Made Karma selaku ahli waris.

Setelah Ni Wayan Gubreg meninggal dunia pada tahun 2013, anak-anaknya selaku ahli waris mengurus permohonan pendaftaran tanah pertama (warisan dari I Bir) pada bulan Mei 2014.

Pada saat dilakukan pengukuran untuk pembuatan sertifikat, mereka dihalang-halangi oleh keturunan keluarga Nang Lekus dari soroh Belong. Mereka mengklaim bahwa tanah seluas 2 hektar 57 are milik I Bir adalah milik Nang Lekus.

“Padahal I Bir yang merupakan dari soroh Binoh tidak ada hubungan sama sekali dengan soroh Belong. Namun tiba-tiba sekelompok orang ini mengklaim bahwa tanah milik kakek klien kami, adalah tanah mereka,” beber Sabaruddin.

Ditambahkan, banyak kejanggalan atas klaim yang dibuat sekelompok orang tersebut. Salah satunya surat yang menyatakan bahwa tanah tersebut merupakan milik Nang Lekus. Sehingga para ahli waris melaporkan ke kantor polisi.

BACA JUGA:  Polisi Tegaskan Proses Hukum Kasus Pengeroyokan di Lumintang Berlanjut

“Kami berharap polisi promoter (profesional, modern, dan terpercaya) dalam menangani laporan kami. Kami sudah dipanggil sekali untuk dimintai keterangan,” ucap Sabaruddin. (agw)