Covid-19 Berdampak Cukup Besar Terhadap Perekonomian Bali

Gubernur Bali Wayan Koster pada pertemuan rapat koordinasi percepatan pemulihan pariwisata dan perekonomian Bali akibat dampak virus corona. (foto : Ist)

Beritabalionline.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali mengadakan pertemuan rapat koordinasi percepatan pemulihan pariwisata dan perekonomian Bali dampak virus corona (Covid-19), yang diadakan di Ruang Tirta Gangga, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Denpasar. pada Jumat (6/3/2020).

Pada kesempatan ini, Kepala Perwakilan BI Bali, Trisno Nugroho menerangkan bahwa semua mengetahui bahwa virus ini ditemukan di Kota Wuhan, China di akhir tahun 2019. Virus ini menyebar lebih cepat dibandingkan dengan virus sejenis lainnya (SARS dan MERS). Menurut WHO, per tanggal 5 Maret 2020, Covid-19 telah menyebar ke 80 negara dengan 95.425 kasus, di mana 3.286 orang meninggal dunia, 53.302 telah sembuh dan sisanya dalam proses penanganan medis.

Penyebaran terbesar terjadi di China (84%), South Korea (6%), Italia (3%) dan Iran (3%), di mana pertumbuhan kasus secara global saat ini justru lebih tinggi dibandingkan di China. Sebagai contoh, di Iran ‘fatality rate’ tercatat sebesar 13,7%, sementara di China sendiri sebesar 3,75%.

“Outbreak ini akan sangat berpengaruh pada menurunnya tingkat mobilitas barang dan orang. Kinerja sektor pariwisata akan terdampak secara langsung, begitu pula kinerja dunia usaha, investasi, tenaga kerja dan pendapatan negara (pajak),” ujar Trisno Nugroho.

Bercermin dari SARS outbreak di tahun 2002, pihaknya juga mengatakan penyebaran virus berdampak terhadap menurunnya inbound wisman. Pasca merebaknya Covid-19 ini, perekonomian dunia diperkirakan melambat. Negara-negara utama merevisi proyeksi pertumbuhannya di tahun 2020, seperti China dari 6% menjadi 5,6%; India dari 6,6% menjadi 5,5%; dan Jepang dari 0,5% menjadi 0,4%.

BACA JUGA:  Harga-harga Kebutuhan Pokok Masih Stabil

Seperti negara-negara lainnya, Indonesia juga terdampak oleh virus ini, baik melalui sektor keuangan (saham, obligasi dan industri perbankan) maupun sektor riil (ekspor, impor, investasi, pariwisata).

Dari sisi sektor riil, kinerja ekspor-impor, investasi, dan pariwisata diperkirakan menurun. Hal ini tidak lepas dari peran China yang cukup besar dalam perekonomian Indonesia, yakni sebagai negara terbesar tujuan ekspor dan impor, serta negara terbesar kedua asal Foreign Direct Investment (setelah Singapura).

Di sektor pariwisata, China memegang peranan penting secara global maupun nasional. Menurut UNWTO, share outbound global China terus meningkat dengan rata-rata 5 tahun terakhir sebesar 16%. Wisman China yang berpergian ke Indonesia di tahun 2019 tercatat sebesar 2,07 juta. Ini merupakan ranking ke-13 secara global (ranking pertama adalah Hong Kong 49 juta). China juga tercatat sebagai penyumbang utama devisa pariwisata nasional.

Sebagai provinsi yang perekonomiannya ditopang oleh sektor pariwisata, COVID-19 outbreak diperkirakan akan memberikan dampak cukup besar terhadap perekonomian Bali. Hal ini tidak lepas dari besarnya share kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) asal Tiongkok ke Bali, yang sebesar 57,25% dari total kunjungan wisman Tiongkok ke Indonesia di tahun 2019. Wisman Tiongkok mendominasi inbound wisman ke Bali, yang tercatat sebesar 19% di tahun 2019 (ranking 2 setelah Australia, dengan share 20%).

Penyebaran Virus Covid-19 menekan kinerja pariwisata yang mulai membaik di Awal 2020. Menurut simpleflying.com, sebanyak 58 maskapai telah melakukan penutupan rute penerbangan dari dan ke China, di mana 47 maskapai merencanakan penutupan sampai dengan April 2020, dan 11 maskapai belum menentukan periode penutupan.

“Hasil pengolahan big data (TripAdvisor Forum) menunjukkan adanya peningkatan indeks kekhawatiran wisman terhadap ancaman virus di destinasi Pulau Bali pada Januari 2020 s.d awal Februari 2020,” ujarnya.

BACA JUGA:  Ini Kesan Sekaligus Harapan WNA yang Ikut Vaksin Covid-19 di Bali

Sementara itu, dari kinerja ekspor barang dampak terhadap perekonomian Bali  diperkirakan kecil. Hal ini mengingat share ekspor barang tercatat hanya sebesar 10% dari total ekspor Bali atau 3,89% terhadap PDRB. Ekspor ke China juga relative kecil, yakni 5,39% dari total ekspor (ranking 5). Hasil FGD kami dengan asosiasi dan eksportir utama di Bali menggambarkan bahwa kinerja ekspor sedikit menurun akibat pembatasan penerbangan ke China. Sementara itu, untuk pasar lainnya masih belum terasa dampaknya.

Hasil terkini survei persepsi bisnis Bank Indonesia mengindikasikan penurunan optimisme pelaku usaha, terutama di pasar ekspor, khususnya China. Sementara pasar ekspor negara lainnya dan pasar domestik masih belum terpengaruh.

Hasil survei konsumen Bank Indonesia Februari 2020 mengindikasikan adanya penurunan optimisme. Hal ini tercermin pada Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang menurun dari 132,9 pada Januari 2020 menjadi 125,3 pada Februari 2020. Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) turun dari 144,5 menjadi 132,8. Sementara Indeks Keyakinan Ekonomi (IKE) turun dari 121,3 menjadi 117,7.

Outlook perekonomian Indonesia direvisi sebesar 0,1% dari 5,1%-5,5% menjadi 5,0%-5,4%. Demikian pula dengan pertumbuhan kredit dan DPK terkoreksi ke bawah, sementara inflasi dan CAD tidak terkoreksi.

Outlook perekonomian Bali juga terkoreksi kebawah, dari 5,6%-6% menjadi 4,6%-5%. Hal ini berdasarkan simulasi dampak COVID-19 ini berlangsung selama 6 bulan di mana terjadi 2 bulan penutupan penerbangan rute dari dan ke China, dan 4 bulan periode recovery; wisman turun 6,26%.

Sebagai respon terhadap kondisi terkini, Bank Indonesia pada 20 Februari 2020 menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 bps (dari 5% menjadi 4,75%). Sejak tahun 2019, penurunan suku bunga sudah mencapai 125 bps. Hal ini menujukkan kebijakan moneter bersifat akomodatif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih lanjut dengan tetap tetap memperhatikan target inflasi. Kebijakan lainnya yaitu kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, pendalaman pasar keuangan, ekonomi keuangan syariah diarahkan tetap akomodatif. (agw/itn)