Retas Email Notaris dan Gasak Uang Bule, Pria ini Divonis 3,5 Tahun Penjara

Terdakwa Ricardus di PN Denpasar. (foto : SAR)

Beritabalionline.com – Pria asal Kali Deres, Jakarta Barat bernama Ricardus yang dengan mudah meretas email milik soerang notaris di Denpasar hingga akhirnya menggasak uang molik warga negara asing bernama Fredreric Louis Andre Etasse divonis 3 tahun dan 6 bulan penjara dalam sidang di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, Rabu (4/3/2020).

Diketahui, akibat perbuatannya membajak email milik seorang notatis itu, dia berhasil menggasak uang milik Fredreric Louis Andre Etasse yang merupakan warga negara asing sebesar Rp200 juta lebih. Tak hanya itu, bahkan masih ada korban lain yang juga berhasil dikelabui Ricardus dengan modus yang sama hingga Rp 1 miliar.

Sementara itu dalam sidang, majelis hakim pimpina I Gede Rumega dalam putusannya menyatakan sependapat dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Eddy Artha Wijaya menyatakan terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 UU No 3 tahun 2011 tentang transfer dana Jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

“Terdakwa terbukti bersalah dengan sengaja menerima atau menampung, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, suatu Dana yang diketahui atau patut diduga berasal dari Perintah Transfer Dana yang dibuat secara melawan hukum, menghukum terdakwa olah karena itu dengan pidana penjara selama 3 tahun dan 6 bulan penjaga,” tegas hakim dalam putusannya.

Dalam putusnnya hakim juga menghukum terdakwa untuk membayar denda Rp5 juta dengan ketentuan apabila tidak dibayar diganti dengan hukuman kurungan selama tiga bulan. “Dan menghukum terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp2 ribu,” pungkas hakim.

Vonis hakim ini lebih ringan dari tuntutan jaksa. Dimana pada sidang sebelumnya, jaksa Kejati Bali itu menuntut agar terdakwa dihukum dengan pidana oenjara selama 4 tahun, denda Rp 5 juta subsider 4 bulan kurungan.

BACA JUGA:  Terbukti Salahgunakan Narkoba, Arsitek Asal Rusia Divonis 10 Bulan

Atas putusan ini, baik terdakwa maupun jaksa sama-sama menyatakan menerima. “Saya menerima putusan ini yang mulia,” kata terdakwa yang dalam menghadapi perkara ini tidak didampingi penasehat hukum.

Sebagaimana dalam dakwaan jaksa yang dibacakan pada sidang sebelumnya mengungkap, kasus ini berawal saat saksi korban Fredreric Louis Andre Etasse mengirim email kepada saksi notaris Eddy Nyoman Winarta dengan alamat eddywinarta@yahoo.co.id dengan maksud meminta nomor rekening milik saksi yang nantinya oleh korban dikirim uang untuk pembayaran sewa tanah di kawasan Sanur.

“Tanpa sepengetahuan korban ternyata alamat email eddywinarta@yahoo.co.id sudah tidak digunakan lagi oleh saksi notaris dan sudah diganti dengan alamat email yang baru eddynyoman.wn@gmail.com,” ujar jaksa Kejati Bali itu dalam surat dakwaannya yang cibacakan di muka sidang.

Tapi tanpa sepengetahuan korban dan juga saksi notatis, ternyata alamat email eddywinarta@yahoo.co.id dibajak olah terdakwa yang kemudian membalas email korban dengan mengirimkan nomor rekening BCA atas nama terdakwa.

Tanpa curiga, korban pun mengirim uang pembayaran sewa tanah ke rekening yang dikirim terdakwa melalui alamat email eddywinarta@yahoo.co.id sebesar Rp204.900.000. “Korban juga mengirim bukti transfer melali email ke alamat eddywinarta@yahoo.co.id ,” ungkap JPU.

Singkat cerita, setelah melakukan pembayaran sewa tanah melalui transfer tersebut berhasil, saksi korban menghubungi kontor notaris Eddy Nyoman Winarta. Namun oleh pihak notaris dijawab bahwa pihaknya tidak pernah menerima pembayaran apapun dari korban.

“Pihak notaris juga mengatakan bahwa email dengan alamat eddywinarta@yahoo.co.id sudah tidak digunakan lagi karena sudah diganti dengan alamat email yang lain,” ungkap Jaksa Eddy Artha. Atas hal itu, korban yang merasa ditipu oleh terdakwa langsung melaporkan kasus ini ke polisi.

Terdakwa pun akhirnya berhasil ditangkap tim Reskrimsus Polda Bali pada tanggal 21 Agustus 2019. Jaksa Eddy Artha usai sidang mengatakan, dengan modus yang sama, terdakwa juga berhasil mengelabui korban lain hingga Rp1 miliar. ”Namun untuk yang ini kasusnya masih belum dilimpahkan oleh tim penyidik kepolisian,” tegas jaksa Eddy Artha. (sar)