Cabuli Bocah 13 Tahun, Pedagang Buah Keliling Terancam 15 Tahun Bui

Terdakwa I KS saat menjalani persidangan di PN Denpasar. (foto : SAR)

Beritabalionline.com – Kasus pencabulan dengan korban anak dibawah umur kembali terjadi. Kali ini giliran Ni KS bocah 13 tahun yang dicabuli oleh I KS (40) yang berprofesi sebagai pegang buah keliling. Akibat perbuatannya, I KS pun harus diadili di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar, pada Selasa (11/2/2020).

Dalam sidang yang dipimpin Hakim Heriyanti itu, terdakwa oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) didakwa melakukan tindak pidana dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul.

Perbuatan terdakwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 82 ayat (1) UU RI No. 17 tahun 2006 tentang penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU No. 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU RI No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara dan denda Rp300 juta.

Kasus yang menjerat pria kelahiran Karangasem hingga menjadi terdakwa ini terjadi pada 20 November 2019 sekitar pukul 11.30 WITA di Jalan Akasia Gang Mekar No. 4 Denpasar. Berawal saat terdakwa, pedagang buah keliling itu didatangi oleh saksi korban.

“Kedatangan korban dengan maksud untuk membeli buah,” ujar jaksa sebagaimana dalam dakwaannya. Terdakwa yang saat itu melihat wajah korban pucat lalu bertanya kenapa korban tidak masuk sekolah yang dijawab oleh korban sedang sakit cacar.

Terdakwa lalu meminta saksi korban untuk mengambil air, beras dan cobek. Korban pun akhirnya mengambil apa yang diminta oleh terdakwa di rumahnya yang tidak jauh dari rumah terdakwa, sedangkan terdakwa mengambil bunga jepun, cempaka dan daun sirih yang ada di pekarangan rumah korban.

BACA JUGA:  Tiga Tersangka Kasus Korupsi di LPD Kekeran Langsung Ditahan

Selanjutnya di rumah korban, terdakwa mencampur bunga yang diambil terdakwa bersama beras dari dalam cobek. Setelah itu terdakwa bertanya kepada korban di mana kamar tidur korban dan langsung ditunjukkan oleh korban.

Sampai dalam kamar, terdakwa minta korban untuk melepas baju. Tak hanya itu, terdakwa juga meminta korban untuk melepas celananya. Dengan kondisi telanjang bulat, terdakwa mengoleskan ramuan bunga dan beras yang dicampur itu ke tubuh korban.

Melihat korban tanpa busana, terdakwa pun terangsang dan sempat menjilat payudara korban. Terdakwa juga sempat memegang kemaluan korban saat mengoles ramuan

“Terdakwa lalu menarik tangan korban untuk memegang kemaluanya. Namun saat itu korban menolak dan terdakwa dengan rasa malu mengancing celananya kembali,” terang jaksa.

Memang hasil visum yang dilakukan oleh dokter, tidak ditemukan adanya robekan selaput darah pada kemaluan korban. Namun akibat perbuatan terdakwa, korban mengalami stres secara klinis. Korban juga selalu menangis jika diminta untuk menceritakan apa yang dialaminya itu.

Dampak lain akibat perbuatan terdakwa terhadap korban dimasa yang akan datang, dimungkinkan akan mengalami gangguan paranoid, trauma berkepanjangan, bahkan muncul depresi dan ketika dewasa akan mengalami masalah berkaitan dengan lawan jenis. (sar)