Siksa Balita Hingga Patah Tulang, Ari Terancam 3,5 Tahun Penjara

Terdakwa Ari Juniawan alias Ari saat berada di PN Denpasar. (foto : SAR)

Beritabalionline.com – Ari Juniawan alias Ari yang menyiksa balita hingga mengalami patah tulang, Senin (10/2/2020) diadili di Pengadilan Negeri (PN) Denpasar. Sidang yang dipimpin oleh Hamim Heriyanti itu masih mengagendakan pembacaan dakwaan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Ari Suparmi.

Dalam dakwaan, jaksa Kejari Denpasar itu menjerat terdakwa dengan dakwaan tunggal yaitu setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan, atau turut serta melakukan kekerasan terhadap anak.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dalam Pasal 76 C Jo Pasal 80 ayat (2) UU RI No. 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman maksimal 3 tahun dan 6 bulan penjara.

Diuraikan pula dalam dakwaan, kasus yang menjerat terdakwa ini berawal saat saksi korban pada Mei lalu diajak jalan-jalan oleh ibunya yaitu Khofifah Dwi Rahmadiani alias Ifa bersama temannya, Putri Handayani alias Puput ke tempat kost terdakwa di Jalan Teuku Umar, Gang Rembingin No. 4, Kamis 21 November 2019 sekira pukul 22.00 WITA.

“Sampai di tempat terdakwa, kedua saksi masuk kamar dan bermain handphone, sementara korban terus menangis karena takut melihat terdakwa,” terang Jaka dalam surat dakwaannya. Karena korban takut melihat terdakwa, terdakwa lalu keluar kamar dan duduk di teras.

Saat korban tertidur, saksi Ifa mengajak saksi Puput pergi ke rumah orang tuanya di Jalan Gunung Seraya dan meninggalkan korban tertidur di kamar terdakwa. “Tapi belum lama kedua saksi pergi, korban terbangun dan menangis,” ungkap jaksa.

Terdakwa awalnya berusaha untuk mendiamkan korban dengan menggendong dan memberikan susu. Tapi korban terus menangis dan terdakwa pun emosi hingga memukul punggung korban serta kepalanya, namun pukulan tersebut bukan membuat korban berhenti menangis, malah manangisnya semakin keras.

BACA JUGA:  Lengkapi Berkas, Polisi Gelar Rekonstruksi Kasus Pembunuhan Cewek BO

Melihat korban menangis kian keras membuat terdakwa semakin emosi. Terdakwa lalu berdiri dan menginjak kaki kanan korban hingga korban berhenti menangis dan tertidur. Tidak lama kemudian datang saksi Ifa dan melihat korban sedang tidur berselimutkan kain.

Kemudian datang saksi Halimatus dan Puput dengan maksud untuk menjemput korban. Tapi saat hendak digendong, korban berteriak kesakitan dan saksi melihat kaki kanan korban dalam keadaan bengkak. Melihat itu korban langsung dibawa ke rumah sakit.

Dari basil visum dokter ditemukan sejumlah luka lebam di kepala, dahi, sudut dalam mata, lecet dibagian leher, dan paha kanan mengalami patah tulang. (sar)