Kematian Babi Positif ASF, Tak Kagetkan Peternak

Babi milik salah satu peternak yang masih aman karena rutin melakukan biosecurity.(foto: ist)

Beritabalionline.com – Penyebab kematian di Bali sudah diumumkan positif terserang virus African Swine Fever (ASF). Respon dari peternak di Tabanan mengenai pengumuman tersebut merupakan hal yang biasa dan tidak mengagetkan.

Mereka secara umum tak terpengaruh dengan pengumuman tersebut. Namun, peternak menginginkan ada langkah nyata yang dilamukan selanjutnya pasca wabah yang merugikan para peternak di Bali. “Kalau kami di peternak tak masalah dan tidak kaget, mau diumumkan sekarang atau tahun depan. Asalkan, aksi pemerintah ke bawah (peternak) harus cepat dilakukan. Apalagi tingkat kematian  babi akibat serangan virus ASF ini mencapai 60-80 persen bahkan 100 persen,” tegas Seorang peternak di Tabanan, Gusti Putu Winiantara, Kamis (6/2/2020).

Menurutnya, kedepannya para peternak sangat menginginkan tindakan nyata dari Pemerintah untuk melindungi masyarakat Bali terhadap hak seperti ini. Bagaimana pemerintah lebih memperhatikan ternak rakyat dan ekonomi kerakyatan. Misalnya, seperti tanaman padi yang ada asuransi dan ada ketentuan harga pokok. “Minimal kasi dong bantuan desinfektan ke kami baik itu kelas 2 atau kelas 1, agar kami yang menjadi peternak bisa meningkatkan biosecurity,” sergahnya.

Menurut dia, untuk peternak  besar, masalah biosecurity termasuk penggunaan disinfektan, bukan hal baru. Mereka  sudha melakukan sejak awal  ketika mereka mulia beternak babi. Yang menjadi persolan adlah peternak tradisional  yang dilakukan keluarga dengan jumlah babi  kurang dari 10 ekor. Ini yang menjadi pemikirannya. “Bagaimana mekanisme pemberian disinfektan untuk peteranak tradisional  yang memiliki jumlah babi  sedikit?” tanyanya.

Dinas Pertanian baru akan mengadakan 1200 liter disinfektan  dengan  mengajukan anggaran sebesar Rp 183 Juta lebih kepada Sekda Tabanan selaku ketua tim anggaran pemerintah daerah (TAPD). Namun belum dipastikan anggaran tersebut akan disetujui.

BACA JUGA:  5 ABK Kapal Ikan Diciduk Pecalang di Sekitar Jalan Kalimutu, Denpasar

Kepala Dinas Pertanian kabupaten Tabanan I Nyoman Budana ketika dikonfirmasi mengaku sudah mengajukan  rencana kerja anggaran (RKA) ke Sekda sebesar Rp 183 juta untuk pengadaan  1200 liter disinfektan.  “Kami sudah mengajukan RKA ke Sekda dan tadi sudah dihubungi Kepala Bakeuda  kalau hal tersebut akan dibahas di tim anggaran pemerintahan daerah (TAPD), “ ungkap Budana, Rabu (05/02/2020).

Namun pihaknya memang mendapat informasi kalau pengajuan RKA tersebut  sudah di ACC  (disetujui) Sekda selaku ketua TAPD Tabanan. Meski demikian, pihaknya belum berani memastikan kalau  akan mendapatkan anggaran untuk pengadaan disinfektan dan masih menunggu  pembahans di TAPD. “Anggrannya belum pasti, tapi kami masih berjuang agara  bisa disetujui, karena sudha emergensi,” harapnya.(riz)