Kejagung Periksa Broker hingga Bos Manajemen Investasi di Kasus Jiwasraya

Demo Jiwasraya. (foto : Merdeka.com)

Beritabalionline.com – Kejaksaan Agung terus mengembangkan kasus gagal bayar yang menimpa PT. Asuransi Jiwasraya (persero). Kejagung meneliti lebih dalam proses jual beli saham dan reksadana yang diduga membuat perusahaan asuransi tersebut rugi.

Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung RI, kembali meneliti proses jual-beli saham dan reksadana yang dilakukan oleh perusahaan asuransi pelat merah itu.

Sebanyak delapan orang saksi dimintai keterangan pada Senin (3/2/2020). Mereka terdiri dari perusahaan managemen investasi, pihak yang namanya dicatut dalam transaksi saham. Kemudian ada saksi yang berperan transaksi langsung dengan saham reksadana PT. Asuransi Jiwasrya Tbk dan ada pula saksi dari perusahaan yang berperan sebagai broker dalam proses transaksi jual beli saham reksadana.

“Pemeriksaan saksi masih berlangsung sejak kedatangan para saksi antara pukul 10.00 WIB sampai dengan pukul 13.00 WIB. Sampai saat ini masih ada beberapa pemeriksaan,” kata Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung, Hari Setiyono dalam keterangan tertulis, Senin (3/2).

Adapun Hari menerangkan, saksi yang diperiksa yaitu Nie Swe Hoa, Mariiane Imelda selaku Sekretaris PT. Maxima Integra, Deka Cahya E selaku Head of Dealing PT. OSO Management Investasi, Erwin Budiman selaku karyawan PT. Maxima Integra, Soebianto Hidayat selaku Direktur Utama PT. Trada Alam Minera Tbk, Lingga Herlina selaku Komisaris PT. Angkasa Bumi Mas, Rosita selaku agen PT. Mirae Sekuritas, dan Gunawan Christofher selaku staf PT. Mirae Sekuritas.

“Sampai hari ini belum ada penetapan tersangka baru dalam perkara Tindak Pidana Korupsi pada PT. Asuransi Jiwasraya Tbk,” terang dia.

Selain itu, Kejaksaan Agung juga telah melacak aset-aset para tersangka di beberapa tempat. Diketahui, Kejaksaan Agung telah menetapkan lima orang tersangka yang terlibat dalam kasus dugaan korupsi PT Asuransi Jiwasraya.

BACA JUGA:  Kapolri Terbitkan Maklumat Protokol Kesehatan Covid-19 Pilkada Serentak 2020

Mereka adalah Komisaris Utama PT Hanson International Benny Tjokrosaputro, Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera (Tram) Heru Hidayat, Mantan Direktur Keuangan PT Asuransi Jiwasraya Hary Prasetyo, Mantan Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya Hendrisman Rahim, dan eks Kepala Divisi Investasi dan Keuangan pada PT Asuransi Jiwasraya Syahmirwan.

“Siapapun pihak-pihak terkait dalam perkara ini masih akan terus dilakukan pemeriksaan baik sebagai saksi maupun ahli, guna mencari fakta hukum serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tindak pidana yang terjadi serta mengungkap peristiwa yang sebenarnya,” papar dia.

Sebelumnya, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Agung Firman Sampurna mengungkap bahwa Jiwasraya memang melakukan penanaman modal di saham-saham berkualitas rendah.

Dalam pemaparan temuan BPK dan Kejaksaan Agung di Gedung BPK, Rabu (8/1), Agung menyebutkan beberapa saham berkualitas rendah yang dimaksud.

“Saham berkualitas rendah dan mengalami penurunan nilai. BJBR, SMBR, PPRO, dan lain-lain,” tutur Agung.

Lebih jelasnya, BJBR ialah kode saham milik PT Bank BJB. Sementara, SMBR ialah kode saham milik perusahaan PT Semen Batu Raja dan PPRO ialah kode saham PT PP Properti, anak usaha BUMN perumahan PT PP.

Saham tersebut dianggap bernilai rendah sehingga merugikan investornya. Ini juga yang menjadi alasan mengapa Jiwasraya mengalami gagal bayar.

“Jiwasraya berinvestasi di saham berkualitas rendah dan tidak likuid, sehingga menyebabkan gagal bayar,” tutur Agung. Dilansir merdeka.com.