Mulai 2020, Sertifikasi Kesiapsiagaan Bencana Diperluas ke Seluruh Dunia Usaha

Kalaksa BPBD Bali Made Rentin memimpin Rapat Teknis Pembahasan Materi Sertifikasi Kesiapsiagaan Bencana. (foto : ist)

Beritabalionline.com – Jika sejak awal diluncurkan tahun 2014 sampai tahun 2018 sertifikasi kesiapsiagaan bencana masih terbatas untuk hotel saja, maka mulai tahun 2020 ini akan diperluas untuk seluruh dunia usaha, layanan publik, bahkan lembaga pemerintah.

“Mulai tahun ini kami ingin mengembangkan dan memperluas cakupan, tidak hanya untuk hotel saja tetapi akan menyasar semua dunia usaha,” ucap Kalaksa BPBD Provinsi Bali Made Rentin dalam rapat teknis pembahasan materi sertifikasi kesiapsiagaan bencana, Jumat (31/1/2020).

Rapat teknis dilaksanakan di Ruang Rapat Tanggap Pusdalops BPBD Provinsi Bali dihadiri oleh unsur instansi teknis baik vertikal maupun Pemprov Bali serta unsur TNI/POLRI, dan Kelompok Ahli Pembangunan Pemprov Bali Bidang Mitigasi Bencana.

Lebih jauh Rentin menjelaskan bahwa, rapat kali ini ingin mendapatkan masukan dari aspek yuridis/landasan hukum yang akan dituangkan dalam Peraturan Gubernur.

“Selama ini tim sertifikasi bekerja hanya berdasarkan petunjuk teknis (juknis) dan petunjuk pelaksanaan (juklak), sehingga kami berkeinginan agar ada payung hukumnya,” paparnya.

Perwakilan Biro Hukum Setda Provinsi Bali yang hadir pada rapat tersebut menjelaskan bahwa etikad baik dari BPBD Provinsi Bali untuk melahirkan landasan yuridis proses sertifikasi perlu diapresiasi.

Oleh karena itu Biro Hukum mendorong agar ada pemilahan, bahwa Peraturan Gubernur (Pergub) akan mengatur tentang legalisasi Sertifikat yang dikeluarkan oleh BPBD.

“Sedangkan teknis kerja dan syarat serta indikator penilaian bisa menjadi lampiran dari Pergub atau bisa juga dibuat tersendiri dalam bentuk Juklak dan Juknis,” ujarnya seraya menambahkan jika Biro Hukum siap memfasilitasi secara optimal, mengingat sertifikasi ini penting apalagi untuk perkembangan dunia pariwisata di Provinsi Bali.

BACA JUGA:  Lakukan Wisata Spiritual, Wabup Sanjaya Berpesan Pentingnya Menjaga Keseimbangan Alam 'Skala Niskala'

Sementara Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang, Perumahan & Permukiman (PUPR Perkim) Provinsi Bali, yang hadir pada rapat tersebut menyarankan agar memasukan kelayakan fungsi bangunan menjadi indikator penilaian.

Terhadap masukan ini Kalaksa BPBD Bali menyambut baik dan setuju, mengingat faktor kekuatan konstruksi menjadi faktor penting dalam kebencanaan.

“Kita masih ingat kejadian gempa dahsyat di Lombok dan Palu yang meluluh lantahkan bangunan hotel. Sertifikasi perlu mensyaratkan kelayakan atau kekuatan fisik bangunan sehingga tim penilai perlu melakukan pengecekan atau tes,” ucap Made Rentin.

Sertifikasi kesiapsiagaan bencana di Bali ini menjadi yang pertama dan satu-satunya di Indonesia, bahkan BNPB menjadikan inovasi ini sebagai percontohan tentang Pariwisata Aman Bencana.

“Bali akan kita dorong menjadi percontohan Pariwisata Aman Bencana, dalam mengembangkan 10 destinasi super prioritas di Indonesia,” kata Kepala BNPB Letjen Doni Monardo saat berkunjung ke BPBD Provinsi Bali pada 13 Januari 2020 yang lalu (agw).