Beragam Kesenian Lintas Etnis Meriahkan Perayaan Tahun Baru Imlek di Denpasar

Pelaksanaan kegiatan ‘Prosperity Celebration’ perayaanTahun Baru Imlek 2571 di kawasan ‘Heritage City’ Jalan Gajah Mada, Denpasar. (foto : ist)

Beritabalionline.com – Untuk membangkitkan kembali akulturasi budaya di kawasan Haritage City yang sudah ada sejak zaman kerajaan di Bali, Desa Adat Denpasar bersama Pemerintah Kota Denpasar yang dalam hal ini Dinas Pariwisata Daerah (Disparda) menggelar kegiatan ‘Prosperity Celebration’ untuk memperingati Tahun Baru Imlek 2571 di kawasan ‘Heritage City’ Jalan Gajah Mada, Denpasar, Sabtu (25/1/2020).

Kegiatan yang dihadiri Sekda Kota Denpasar AAN. Rai Iswara dimulai sejak pukul 18.00 WITA tersebut diawali dengan pawai yang menampilkan kesenian Tari Barongsai, Barong Macan, Barong Landung, Barong Bangkung, hingga Tari Celuluk.

Sebelum pawai diawali nunas tirta di Pura Puseh dan Pura Desa Adat Denpasar. Pawai dimulai dari perempatan Jalan Sulawesi-Jalan Gajah Mada, menuju arah timur ke panggung utama dengan prosesi membawa jempana.

Di depan panggung utama peserta langsung menarikan masing-masing tarian ciri khas mereka. Selain pertunjukan barong, Prosperity Celebration ini juga dimeriahkan dengan atraksi wushu, tarian Celuluk, gamelan China yang  diawali dengan menyalakan petasan.

Bendesa Adat Denpasar, AA Ngurah Rai Sudarma, mengatakan, pementasan ini digagas oleh Desa Adat Denpasar bersama 31 banjar adat di dalamnya. Prosperity Celebration kali pertama digelar untuk membangkitkan kembali akulturasi budaya di kawasan Haritage City.

“Sebab, pada zaman kerajaan terdahulu ada 5 etnis yang memang menempati kawasan jalan Gajah Mada yang masih bertahan sampai saat ini,” terang Rai Sudarma.

Kelima etnis tersebut adalah, etnis Bali yang diapit oleh Kerajaan Pemecutan dan Kerajaan Denpasar. Di tengah-tengahnya ada etnis China, Arab, Jawa dan Kampung Tinggi yang merupakan tempatnya para pendekar pada zaman dulu.

BACA JUGA:  Disangka Latihan Menyelam, WNA Inggris Ditemukan Tewas di Dasar Kolam

Saat ini akulturasi mulai dibangkitkan kembali karena ada Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat di Bali, demikian Rai Sudarma. (tra)