Bupati Mahayastra Berharap Desa di Gianyar Kembangkan Destinasi Wisata Baru

Bupati Gianyar, Made Mahayastra.(foto: ist)

Beritabalionline.com – Bupati Gianyar, Made Mahayastra berharap warga desa atau investor lokal bisa mengembangkan destinasi wisata baru. Pengembangan destinasi wisata baru, menurut Mahayastra jauh lebih efektif, ketimbang terus membangun akomodasi wisata.

“Akomodasi hotel di Gianyar sudah jenuh, saya berharap yang dikembangkan destinasi wisata yang baru,” kata Mahayastra, Selasa (20/1/2020).

Dengan dikembangkannya destinasi wisata yang baru, menurut Mahayastra, kunjungan ke Gianyar akan meningkat. Selain itu, bisa meningkatkan lama tinggal di Gianyar.

Dimana sebelumnya, menurut Mahayastra, lama tinggal wisatawan di Gianyar rata-rata 2-3 hari, dengan destinasi wisata baru, lama tinggal di Gianyar untuk menginap bisa lebih lama.

Diingatkan Mahayastra, agar destinasi wisata yang dikembangkan tanpa merusak alam, tidak melanggar kawasan suci dan mendapat persetujuan masyarakat setempat. “Kalau sudah sosialisasi, mendapat persetujuan dari warga setempat dan tidak merusak alam, kami Pemkab pasti memberikan ijin,” janji Mahayastra.

Terkait dengan destinasi wisata baru, wahana jembatan kaca di obyek wisata air terjun Tegenungan, Bupati Mahayastra menyebutkan setuju dengan destinasi wisata tersebut.

Hanya Mahayastra memberikan catatan, tidak merusak alam, mendapat persetujuan warga setempat dan investasi jelas transparan antara pemodal dengan masyarakat.

“Tetap saya beri catatan, asal tidak merusak alam, warga di bawah setuju dan investasi transparan. Itu kuncinya,” tambah Mahayastra. Bukan hanya pembangunan destnasi wisata di Tegenungan saja, bahkan di desa manapun bila dibangun destinasi wisata baru, Mahayastra menyebutkan persetujuannya.

“Setiap desa silahkan kembangkan destinasi wisata baru. Makin banyak makin bagus, namun jangan destinasi yang sama. Sebaiknya berbeda-beda, sehingga wisatawan memiliki pilihan untuk mendatangi obyek wisata,” tutupnya.

Sebelumnya, warga Desa Adat Tegenungan disebutkan menolak investasi wahana jembatan kaca di wilayahnya. Penolakan ini didasari, wahana yang dibangun merusak alam dan tidak sesuai dengan konsep pariwisata yang berbasiskan alam. Disamping itu, warga setempat berniat mengembangkan wisata tersebut dengan, sesuai dengan kondisi alam setempat.(yes)

BACA JUGA:  Dibantu Sembako Pemangku, Bupati Artha Ajak Pemangku Doakan Pandemi Berakhir