Penulis Kalender Bali, Bambang Gde Wisma Berpulang

Kalender Bali.

Beritabalionline.com – Memasuki tahun baru, masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu tentu tidak bisa terlepas dari Kalender Bali. Hal ini penting untuk mengetahui rerahinan, hingga dewasa ayu pelaksanaan upacara yadnya.

Di balik lengkapnya kalender Bali tentang informasi padewasan, ada seorang pengarang atau penyusun yang mengkonsep secara detail dan akurat, yakni I Wayan Bangbang Gde Wisma yang pada usianya yang 81 tahun ini telah merampungkan konsep kalender hingga tahun 2100.

Namun, penyusun Kalender Bali yang beralamat di Banjar Cemenggaon, Desa Celuk, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar itu, Sabtu (11/1/2020) lalu telah dipanggil Tuhan di usianya yang ke-81 tahun. Penyusun kalender ini meninggal dunia setelah lama menahan sakit.

Menurut anak keempat almarhum, I Ketut Bangbang Sparsadnyana, ayahnya sudah lama menderita sakit karena usia yang sudah menua. Bahkan, sejak dua tahun lalu tidak bisa melihat.

”Semenjak tidak bisa melihat itu, bapak cukup frustrasi. Selain itu, sering kesulitan makan, beberapa kali harus opname, namun tidak lama,“ katanya saat ditemui wartawan di rumah duka, Selasa (14/1/2020).

Bangbang Gde Wisma menghembuskan napas terakhirnya saat tidur di rumah pada Sabtu malam sekitar pukul 20.30 WITA. Setelah diketahui berpulang, almarhum dilarikan ke Rumah Sakit Ari Canti Mas, Ubud. Sampai saat ini jenazahnya belum bisa dipulangkan ke rumah duka karena sedang ada upacara di Pura Dalem Cemenggaon.

Sparsadnyana menambahkan, pemakaman almarhum akan dilakukan penguburan biasa di setra adat setempat. Tidak ada prosesi palebon khusus.

“Ini sesuai peraturan adat di Cemenggaon, tidak boleh ngaben selain mangku kahyangan dan mangku manca,“ jelasnya, seraya menambahkan, proses pemakaman akan dilaksanakan di setra setempat pada 18 Januari mendatang.

BACA JUGA:  Kemdikbud Tegaskan UN 2020 Sesuai Jadwal dengan Memperhatikan Protokol Kesehatan

Almarhum diketahui mewariskan kalender hingga tahun 2100. Sebelum berpulang almarhum menyerahkan konsep tahun selanjutnya kepada anak keempatnya I Ketut Bangbang Sparsadnyana.

“Kemampuan ayah saya dalam mengarang kalender diwariskan secara turun temurun dari sang Kakek yang bernama Wayan Bangbang Gede Geriya,” terang Ketut Bangbang Sparsadnyana.

Selanjutnya ia mengisahkan kemampuan pertama kakeknya, Wayan Bangbang Gede Geriya didapatkan saat menjadi penyeroan di Griya setempat. Dikatakan, zaman dahulu penguasaan wariga dan dewasa ayu ini belum tertuang dalam kalender. “Ketika akan mencari hari baik, masih harus buka catatan yang tebal,” ungkapnya.

Seiring berjalannya waktu, pengetahuan sang kakek secara otomatis diturunkan kepada anaknya yakni Wayan Bangbang Gde Wisma. Melalui generasi yang kedua inilah, segala pengetahuan tentang wariga ini dikukuhkan dalam bentuk kalender, tutur Bambang Sparsadnyana. *tra/itn