Pemprov Bali Dorong Pengembangan Kawasan Hortikultura Tanaman Pisang Berorientasi Ekspor

Wagub Cok Ace saat ‘melaunching’ Penanaman Perdana Pengembangan Kawasan Holtikultura Tanaman Pisang Tingkat Nasional di Desa Pekutatan, Kabupaten Jembrana.

Beritabalionline.com – Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati (Cok Ace) menyatakan menyambut baik dilakukannya penanaman pisang sebagai upaya pengembangan holtikultura di Desa Pekutatan, Kabupaten Jembrana, Sabtu (28/12/2019).

“Kami menyambut baik karena ini sesuai dengan visi pembangunan Bali 2018–2023, yaitu ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru,” kata Wagub Cok Ace dalam sambutannya saat ‘melaunching’ dan melakukan Penanaman Perdana Pengembangan Kawasan Holtikultura Tanaman Pisang Tingkat Nasional, di atas lahan di Desa Pekutatan.

Ia menyebutkan, visi yang ditetapkan pigaknya di bidang pertanian adalah terpenuhinya kebutuhan pangan bagi masyarakat Bali, meningkatnya nilai tambah dan daya saing pertanian Bali, dan meningkatkan kesejahteraan petani.

“Karenanya, saya menyambut baik kegiatan launching dan penanaman perdana pisang di lahan aset Provinsi Bali atas kerja sama antara Perusahaan Daerah Provinsi Bali dengan PT Great Giant Pinaple (GGP) yang diinisiasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI ini,” katanya.

Kegiatan penanaman pisang ini adalah wujud integrasi kebijakan antarkementerian/lembaga, pemerintah daerah dan pihak swasta dalam mengakselerasi program peningkatan ekspor, perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakat, ujar Cok Ace.

Sejalan dengan misi tersebut, lanjut dia, maka subsistem hilir dari sistem pembangunan pertanian yaitu pengolahan dan pemasaran hasil yang selama ini belum mendapat perhatian serius. Sehubungan dengan itu, kini akan terus dibangun dan dikembangkan, antara lain dengan mengembangkan industri pengolahan hasil dan fasilitasi pemasaran produk-produk pertanian lokal Bali.

Hal tersebut harus dilakukan, karena salah satu kendala dalam membangun pertanian dan meningkatkan pendapatan petani, adalah persaingan pasar, yaitu relatif sulitnya memasarkan hasil karena produk pertanian bersifat musiman dan tidak tahan simpan.

BACA JUGA:  Hari Ini, Angka Kesembuhan Pasien Covid-19 di Kota Denpasar Kembali Melejit

“Dalam mengatasi kendala pemasaran hasil telah diterbitkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 99 Tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali. Di mana dalam Peraturan Gubernur tersebut diatur tentang kewajiban hotel, restoran, pasar swalayan/pasar modern dan pengusaha catering memprioritaskan memasarkan dan memanfaatkan produk lokal Bali sebagai bentuk keberpihakannya terhadap petani lokal,” ucapnya.

Menurut Wagub, bila Peraturan Gubernur itu dapat diimplementasikan dengan baik, maka akan ada jaminan pasar dan harga produk-produk lokal Bali, yang pada akhirnya akan dapat peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.

Untuk itu, tokoh Puri Ubud ini berharap program teritegrasi dan terkoordinasi seperti ini dapat dikembangkan lebih lanjut pada daerah lain di Provinsi Bali sesuai potensi dan komoditi unggulan daerah masing-masing. Terlebih, potensi lahan pertanian di Bali masih cukup luas.

Cok Ace menjelaskan, luas lahan pertanian di Bali tercatat 353.491 ha atau 62,7% dari luas lahan Pulau Bali. Areal terluas berada di Kabupaten Buleleng yaitu 81.198 ha atau 23% dari total luas lahan pertanian di Bali, menyusul Kabupaten Tabanan, Karangasem dan Jembrana.

“Di Provinsi Bali sektor pertanian merupakan salah satu sektor pendorong pembangunan bidang ekonomi selain sektor pariwisata, industri kecil dan kerajinan. Pembangunan pertanian di samping diarahkan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan memacu pertumbuhan perekonomian daerah, juga berperan penting dalam penyedia lapangan kerja, pelestarian sumber daya alam dan budaya serta lingkungan hidup,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono menyampaikan bahwa pemerintah terus berupaya mendorong pengembangan produk yang memiliki daya saing dan potensi ekspor yang tinggi. Tidak hanya produk-produk hasil industri, namun produk dari sektor lain seperti pertanian juga terus didorong.

BACA JUGA:  Harga Masker Melambung, DPRD Klungkung Sidak Apotik

“Untuk mempercepat program peningkatan ekspor produk pertanian, pemerintah mendorong pengembangan kawasan hortikultura berorientasi ekspor sebagai program prioritas yang menjadi quick wins Kemenko Perekonomian,” ungkapnya.

Susiwijono menjelaskan, peran sektor pertanian dalam pertumbuhan ekonomi nasional semakin penting dan strategis. Kontribusi sektor ini dalam Produk Domestik Bruto (PDB) menempati posisi ketiga setelah sektor industri dan perdagangan. Selain itu, sektor pertanian merupakan sektor yang mengalami surplus di saat sektor lain mengalami defisit neraca perdagangan.

Pada penanaman perdana, dipilih pisang jenis Cavendish sebagai komoditas yang akan dikembangkan. Pisang Cavendish adalah satu satu komoditas hortikultura yang mempunyai prospek pengembangan yang baik karena memiliki nilai ekonomi tinggi dan potensi pasar yang masih terbuka luas, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, sehingga diharapkan dapat menekan defisit perdagangan nasional.

Sementara Operation Managing Director Great Giant Food Wayan Ardana dalam laporannya menyampaikan bahwa PT Great Giant Pineapple (GGP) selaku offtaker dan perusahaan yang melakukan kerja sama dengan pemerintah daerah dan petani, melalui program Creating Share Value akan melakukan kerja sama kemitraan dengan kelompok tani atas dasar pemberdayaan dan saling menguntungkan kedua belah pihak (win-win solution) untuk melakukan budidaya/produksi pisang yang berdaya saing dan berkualitas ekspor.

Program pengembangan kawasan hortikultura berorientasi ekspor ini merupakan wujud nyata untuk mendorong produk lokal yang berdaya saing global. Ditambahkan Wayan Ardana, kegiatan launching pada hari ini menandai dimulainya program tersebut secara nasional.

Selain di Jembrana, lanjut Wayan Ardana, rencananya dalam waktu dekat akan segera dilakukan pengembangan serupa di lokasi lain, yaitu di Kabupaten Bener Meriah (Aceh), Kabupaten Blitar (Jawa Timur), dan Kabupaten Bondowoso (Jawa Timur).

BACA JUGA:  Kasus Covid-19 di Denpasar Fluktuatif, Hari Ini 1 Orang Meninggal Dunia

“Harapannya, pengembangan kawasan hortikultura ini betul-betul mampu memberikan kontribusi dalam peningkatan ekspor dan meningkatkan perekonomian daerah yang pada akhirnya berdampak pada kesejahteraan petani,” ucapnya, menjelaskan.

Hadir pada kesempatan tersebut, Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Provinsi Bali IB Wisnuardhana, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali I Gede Indra Dewa Putra, Bupati Jembrana I Putu Artha, dan Bupati Bondowoso Salwa Arifin. (tra)