Ditagih Uang Bayaran Usai Kencan, Buruh Bangunan Tikam ABG hingga Sekarat

Pelaku penikaman digelandang petugas kepolisian. (foto : Agung Widodo/Beritabalionline.com)

Beritabalionline.com – Seorang buruh bangunan bernama Prasetyo Aji Prayoga alias Pras (20) diringkus polisi lantaran menikam anak di bawah umur berinisial RPS (16) dengan gunting. Aksi tersebut dilakukan usai ia melakukan hubungan badan dengan korban.

“Setelah berhubungan, korban menagih uang sesuai dengan kesepekatan awal. Di sana terjadi cek-cok sehingga pelaku menusuk korban dengan gunting,” terang Waka Polresta Denpasar AKBP I Wayan Jiartana di Mapolresta Denpasar, Kamis (5/12/2019).

Sebelumnya, korban dan pelaku berkenalan melalui aplikasi Michat. Dalam obrolan tersebut pelaku menanyakan apakah korban bisa diajak kencan, dan dijawab bisa oleh korban.

Setelah korban dan pelaku sepakat soal tarif, keduanya bertemu di tempat tinggal korban di Kara Residence kamar 214 di Jalan Pura Demak gang Malrboro XXI No. 5, Selasa (3/12/2019) sekitar pukul 15.30 WITA.

Parahnya, usai berhubungan badan pelaku tidak membawa uang sesuai dengan kesepakatan sebelumnya. Keduanya lalu terlibat adu mulut. Pelaku yang bingung mengambil gunting dari saku celananya dan dipakai menusuk korban sebanyak 3 kali yakni di perut, leher dan tangan korban.

“Kesepakatan awal, tarif kencan dengan korban Rp600 ribu. Setelah berhubungan badan, tersangka mengaku hanya membawa uang Rp200 ribu,” beber AKBP Jiartana.

Korban yang kesakitan berteriak minta tolong sehingga didengar satpam dan penghuni lain. Namum karena pintu kamar terkunci dari dalam, masyarakat sekitar yang juga sudah berdatangan ke TKP menunggu di luar.

“Bersamaan petugas kepolisian dari Polsek Denpasar Barat tiba di TKP. Pelaku akhirnya dapat ditangkap saat berusaha kabur,” kata Waka Polresta Denpasar.

Ketika disinggung sejak kapan korban menjadi wanita panggilan, Waka Polresta Denpasar menyatakan belum bisa memastikan dikarenakan korban masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Tersangka dijerat pasal berlapis yakni pasal 80 ayat (2) UU RI No 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman 5 tahun, serta pasal 351 ayat (1) KUHP dengan ancaman 2 tahun 8 bulan. (agw)