Jelang Nataru, BBPOM Awasi Peredaran Parcel di Bali

Kepala BBPOM Denpasar, I Gusti Ayu Adhi Aryapatni. (foto : ist)

Beritabalionline.com – Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru), Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Denpasar akan mengutamakan pengawasan peredaran parcel untuk melihat sejauh mana peningkatan baik distribusi ataupun konsumsi di Bali.

“Tahun Baru kita utamakan pengawasan parcel lebih intens apa ada peningkatan dikonsumsi atau distribusinya, tapi pengalaman yang ada, kalau di Bali tidak terlalu mencolok, justru di Hari Raya Galungan Kuningan distribusi jajan tradisionalnya meningkat,” kata Kepala BBPOM Denpasar, I Gusti Ayu Adhi Aryapatni, usai Media Gathering di Denpasar, Senin (2/12/2019).

Ia mengatakan langkah pengawasan konkrit yang dilakukan berupa pengawasan intensif pada distribusi makanan. Salah satunya seperti menjelang lebaran beberapa waktu lalu, pihaknya menuturkan telah melakukan pengawasan parcel dan makanan terkait dari produk kadaluarsa ada atau tidaknya dijual dan juga produk rusak kemasan.

Selain itu, kedepannya BBPOM Denpasar akan meningkatkan pengawasan tidak hanya pangan tetapi juga obat – obat tradisional kosmetik, dengan melakukan pengujian.

“Pengujian terhadap pangan dan kosmetik di setiap tahun kita lakukan, dan ada 3500 sampel obat makanan yang kita sampling dan kita uji untuk ditindaklanjuti harus sesuai hasil pengujian,” terangnya.

Ditambahkan, untuk pangan sering ditemukan bahan berbahaya terutama pada pangan tradisional, sedangkan untuk kosmetik adanya bahan berbahaya yang dilarang seperti mengandung hidrokinon, merkuri dan retinoat dan pada di obat tradisional dilarang adanya penambahan bahan kimia obat.

“Persyaratannya obat tradisional kan harus semua dari herbal, tapi ini ditambahkan zat kimia misalnya obat tradisional itu obat flu lalu ditambahin parasetamol, kalau untuk pegal linu ditambahin piroxicam dan asam mefenamat itu kan nggak boleh, sayangnya itu masih kita temukan di Bali,” jelasnya.

BACA JUGA:  Raperda APBD 2020 Disahkan Menjadi Perda

“Saat ini untuk pangan di Bali sudah tidak ditemukan lagi yang mengandung Rhodamin B dan Boraks atau formalin, kecuali pada ikan teri yang berukuran kecil. Kami mengajak masyarakat untuk mengawal agar pangan di Bali tetap aman dan tidak ditemukan lagi makanan dengan kandungan berbahaya,” tegasnya. (agw)