Pesona Lampung bagi Transmigran Bali

Asisten III Setda Provinsi Bali, Wayan Suarjana (kiri) dan Ketua PHDI Kabupaten Lampung Tengah, Drh. I Ketut Suwendra.

Beritabalionline.com – Provinsi Lampung yang terletak di Pulau Sumatera adalah salah satu wilayah Indonesia yang paling banyak menampung transmigran asal Bali selain Sulawesi Tenggara. Apa yang menjadi daya tarik transmigran Bali sehingga menjadikan Provinsi Lampung sebagai salah satu tujuan daerah tujuan transmigrasi?

Berikut laporan wartawan beritabalionline.com, Dewa Suta Sastradhinata yang mengikuti kegiatan Media Informasi Pembangunan Biro Humas dan Protkol Setda Provinsi Bali selama tiga hari (19-21 November 2019) di Lampung.

Memasuki Kecamatan Seputih Raman, Kabupaten Lampung Tengah, Selasa (19/11/2019), rombongan kegiatan Media Informasi Pembangunan Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali yang terdiri dari wartawan media cetak, elektronik dan media online, disuguhi pemandangan beberapa bangunan dan gapura serta pagar rumah berukiran khas Bali.

Tak hanya itu, di sepanjang jalan juga terlihat beberapa tempat ibadah keluarga yang di Bali dikenal dengan sebutan sanggah. Saat tiba di Sekretariat PHDI Lampung Tengah, Jalan Pentas Tari Bali – Rama Dewa, rombongan yang dipimpin Asisten III Pemprov Bali Wayan Suarjana didampingi Karo Humas dan Protokol AA Ngurah Oka Sutha Diana disambut belasan warga berpakaian adat Bali.

Mereka adalah transmigran asal Bali yang telah lama menetap di provinsi yang memiliki semboyan “Sang Bumi Ruwa Jurai”. Artinya, satu bumi dua aliran adat budaya. Kata sang bumi berasal dari sanga bumi, artinya se-bumi.

Rombongan kemudian diajak masuk ke ruang pertemuan untuk bersilaturahmi. Dalam dialog yang dipandu Ketua PHDI Kabupaten Lampung Tengah, Drh. I Ketut Suwendra antara lain mengemuka bahwa keberadaan transmigran asal Bali di Provinsi Lampung, termasuk di Kabupaten Lampung Tengah secara umum berjalan baik.

BACA JUGA:  Dipercaya Bisa Jaga Empat Pilar Kebangsaan, FP-NKRI Dukung Jokowi-Ma’ruf Amin di Pilpres 2019

“Kami sungguh merasa sangat nyaman dan bersyukur bisa menyambung hidup di tanah Lampung. Selain mengelola pertanian dan kebun, di antara kami ada pula yang mengelola tambak serta menjadi wirausaha, karyawan swasta dan aparatur sipil Negara (ASN) baik di tingkat kabupaten maupun provinsi,” kata Suwendra.

Karena merasa nyaman, lanjut Suwindra dirinya dan para transmigran Bali yang lain tidak akan pergi meninggalkan Lampung. “Apapun yang terjadi kami akan tetap tinggal di Lampung, kalau perlu sampai titik darah penghabisan,” ujarnya, bak seorang tentara mau perang.

Disinggung toleransi dalam kehidupan masyarakat Lampung, Suwendra mengaku selama ini sangat bagus. Ia menjelaskan, kondisi masyarakat yang penuh toleransi serta hidup rukun berdampingan dengan masyarakat setempat meskipun dari berbagai latar belakang serta agama yang berbeda.

“Masyarakat Bali di sini yang berjumlah sekitar 300 ribu orang sudah menganggap Lampung adalah kampung halamannya dan sudah melebur dengan masyarakat setempat,” ujarnya.

Ia mencontohkan, ketika berlangsung hari raya Galungan, banyak warga non-Hindu yang datang bersilahturahmi. “Kita sampai menyediakan waktu tiga hari karena saking banyaknya warga non-Hindu yang datang. Toleransi ini sudah lama terjalin. Kalau misalnya Idul Fitri, kita giliran yang berkunjung ke saudara-saudara muslim,” imbuhnya.

Begitu pula saat hari-hari keagamaan umat Kristen Katolik, umat Hindu pun terlibat dalam menjaga keamanan. Sebaliknya, dalam perayan-perayaan besar agama Hindu seperti Galungan dan Nyepi, umat Katolik dan muslim pun terlibat saling membantu.

Lalu bagaimana dengan pelaksanaan upacara keagamaan? Warga transmigran asal Bali masih memegang teguh adat istiadat Bali. “Kami masih mempertahankan tradisi Bali, termasuk sehari-hari dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Bali. Juga melakukan rangkaian tata cara sesuai keyakinan kami, yaitu Hindu Bali,” terang Suwendra.

Dijelaskan, meskipun pelaksanaan upacara yang mereka lakukan tidak sebesar tata cara Hindu di Bali, namun semua tata cara Hindu yang dilaksanakannya tetap sama seperti di Bali. Wajah Bali di Lampung khususnya di Kabupaten Lampung Tengah adalah wajah Bali juga.

BACA JUGA:  Supaya Jadi Kebanggaan Anak Muda, Wagub Cok Ace Ajak Gerakan Pramuka Lakukan Terobosan

Apa yang disampaikan Suwendra diamini transmigran asal Bali lainnya, Ketut Rai. Pria asal Susut Bangli ini mengaku datang ke Lampung tahun 1985. Berkat kerja kerasnya, ia terbilang cukup sukses menjadi transmigran karena bisa bertahan dan menyekolahkan putra putrinya. “Astungkara selama ini rejeki yang saya dapat lancar-lancar saja,” aku Rai.

Ditanya ada beberapa transmigran yang memilih balik pulang ke Bali, Rati menyebutkan, itu mungkin masalah alasan personal. Baginya, mereka yang punya komitmen dan mau bekerja keras pasti sukses dan tidak mau pulang lagi.

Apa yang disampaikan Wirata dibenarkan transmigran asal Bali lainnya, Ketut Wirata. Pria asal Mengwi, Kabupaten Badung ini menjadi kepala sekolah di SD Negeri Restu Rahayu Lampung Timur.
Dia mengaku sangat nyaman dan bersyukur bisa menyambung hidup di tanah Lampung.

Selain mengelola pertanian dan kebun, Wirata mengaku mengelola tambak ikan patin seluas 1 hektar. “Ada 15 tambak yang saya kelola. Luasnya mencapai 1 hektar. Ya, hasilnya lumayan,” tutur Wirata, tanpa menyebut berapa besar penghasilan yang diperolehnya dari hasil tambak ikan patin.

Buku dan Guru Agama Hindu
Pada bagian lain, warga transmigran asal Bali yang ada di Kabupaten Lampung Tengah, khususnya yang Bergama Hindu mengeluhkan kekurangan buku-buku agama Hindu sebagai bahan ajar dan referensi bagi para siswa yang ada di pasraman setempat.

Menurut Ketua PHDI Kabupaten Lampung Tengah Drh. I Ketut Suwendra, beberapa keperluan yang dirasa cukup mendesak umat Hindu khususnya para transmigran Bali yang ada di Kabupaten Lampung Tengah adalah buku-buku agama Hindu serta tenaga pengajar (guru agama Hindu) .

“Saya harap melalui kunjungan Bapak Ibu kali ini Pemprov Bali bisa mewujudkan harapan kami sehingga di pura ini bisa didirikan perpustakaan yang kebih lengkap,” ujarnya saat berdialog dengan rombongan Humas dan Protokol Setda Provinsi Bali bersama para awak media.

BACA JUGA:  Update Covid-19 di Denpasar, Pasien Meninggal Bertambah 1 Orang, Positif 25, Sembuh 20

Dikatakannya, Pemprov Bali sudah memberikan perhatian kepada warga terutama kalangan muda dengan memberika beasiswa Bidikmisi dengan menempuh pendidikan di Universitas di Bali. “Sudah banyak putra-putri kami yang kuliah di Bali berkat beasiswa tersebut,” jelasnya.

Menanggapi hal ini, Asisten Administrasi Umum Setda Provinsi Bali, Wayan Suarjana selaku pimpinan rombongan, mengatakan, Pemerintah Provinsi Bali melalui visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang dicanangkan Gubernur Wayan Koster memang berkomitmen menjaga adat dan kebudayaan Bali serta agama Hindu.

Hal tersebut tidak hanya untuk warga Hindu di Bali, namun juga di luar pulau Bali melalui berbagai bantuan yang digelontorkan.

“Untuk itu saya harap masyarakat di sini bisa bersurat kepada kami, apa saja yang diperlukan, baik sarana prasarana upacra, kebutuhan umat maupun infrastruktur Pura. Sehingga kami bisa menindaklanjuti,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengapresiasi semangat masyarakat Bali di perantuan yang masih tetap mempertahankan adat dan tradisi Hindu.

“Meskipun terdapat berbagai tantangan, saya harap semangat beragama dab beryadnya bisa dipertahankan,” imbuhnya. Ia juga menyambut positif langkah masyarakat Lampung yang menggelar upacara yadnya sesuai kemampuan.

“Jangan beryadnya dengan menjual aset, lakukanlah sesuai dengan kemampuan masing-masing,” ujarnya seraya mengapresiasi langkah masyarakat dalam menggelar upacara ngaben massal demi menghemat biaya.

“Dalam beryadnya yang terpenting adalah maknanya, bukan seberapa besar biaya yang kita keluarkan,” jelasnya.

Ia juga berpesan kepada masyarakat Hindu di Lampung untuk selalu mejaga kerukunan dengan menghormati adat istiadat setempat. “Di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung,” pesannya.