Sopir Online Diperlakuan Kasar, Ini Penjelasan Kapolsek Kuta Selatan

Kapolsek Kuta Selatan AKP Yusak Agustinus Sooai. (foto : Agung Widodo/Beritabalionline.com)

Beritabalionline.com – Sopir transport online bernama Kadek Rino Christiandi (35) mengaku mendapat perlakuan kasar dari sopir konvensional berinisial MK saat menjemput tamu di kawasan ITDC Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali.

“Sudah ada beberapa orang yang dipanggil untuk dimintai klarifikasi,” ucap Kapolsek Kuta Selatan AKP Yusak Agustinus Sooai saat ditemui di Mapolsek Kuta Selatan, Sabtu (23/11/2019).

Mereka yang dipanggil yakni pelapor Kadek Rino Christiandi, MK (terlapor) dan saksi kejadian yaitu sekuriti Bali Colletion bernama Amirulah.

“Klasifikasi karena ada pengaduan dari masyarakat. Untuk selanjutnya kita lakukan penelusuran, apakah di sana ada unsur tindak pidana atau tidak, masih kita cari unsurnya,” jelas Kapolsek.

AKP Yusak juga meluruskan kabar bahwa pihaknya akan mengenakan pasal 335 KUHP dalam kasus tersebut. Dikatakan, sampai sejauh ini polisi baru sebatas meminta keterangan dan belum masuk ketahap pemeriksaan.

“Apalagi ada berita bahwa polisi melakukan gelar perkara, dari mana informasi itu. Laporan saja baru sebatas pengaduan, dan sudah kita tindaklanjuti dengan melakukan pemanggilan,” tegas Kapolsek didampingi Kanit Reskrim Iptu Aris Setiyanto.

Selain beberapa orang di atas, polisi berencana memanggil managemen Bali Colletion. Pasalnya, peristiwa tersebut berlangsung di depan lobi Bali Colletion.

“Biar duduk perkaranya jelas, semua kita mintai klarifikasi. Jadi mohon bersabar,” tegas Kapolsek.

Sebelumnya, Kadek Rino Christiandi melapor ke polisi karena mendapat perlakuan kasar dari sopir konvensional berinisial MK.

Kadek memaparkan, kasus bermula saat ia mendapatkan oderan menjemput tamu di Bali Colletion, Kawasan ITDC Nusa Dua, Badung, Kamis (3/11/2019) sekitar pukul 12.30 WITA. Sekitar pukul 12.45 WITA, Kadek tiba di lobi Bali Colletion.

“Saya lihat ada MK (terlapor) sedang berdiri dengan tamu perempuan dan anak-anaknya tidak jauh dari lobi,” ujarnya mengingat kejadian kala itu.

Sebelumnya Kadek tidak terlalu mengenal terlapor. Setibanya di lobi, Kadek kemudian memberi tahu tamu yang berasal dari Korea bahwa dirinya telah tiba. Tak berselang lama, datang tamu yang terdiri dari dua orang dewasa dan dua anak-anak.

“Tamunya sudah masuk ke mobil, lalu tiba-tiba datang MK dan melarang saya untuk menaikan tamu sambil teriak-teriak,” bebernya.

Saat terjadi perdebatan MK tidak sendiri, di belakangnya juga berdiri pria berinisial KD terlihat emosi dengan menghalangi mobil dan melakukan pengancaman dengan menelpon seseorang berinisial YG.

Karena tamunya minta jalan, Kadek Rino mengemudikan kendarannya. Terlapor MK kemudian naik pitam. Ia sempat membuka dan membanting pintu belakang mobil sebelah kanan. Hal tersebut membuat tamu tersebut teriak histeris ketakutan.

“Tamunya menolak (taxi kovensional) dan memilih saya. Tamunya dari dalam mobil bilang jalan saja, katanya mau sama saya,” sambungnya.

Tindakan membuka dan membanting pintu mobil Kadek tak dilakukan sekali, tetapi dua kali. Meski akhirnya berhasil lepas dari keributan tersebut, sore harinya Kadek memilih untuk melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian.

Kasus ini viral karena video saat MK membanting pintu mobil Kadek Rino menyebar luas di media sosial. Terkait hal yang merugikan lainnya, Kadek Rino yang sudah satu tahun bekerja sebagai sopir online ini kini merasa trauma.

“Iya saya trauma. Saya kini tak bisa melakukan aktivitas bekerja seperti biasanya karena merasa was-was dengan kejadian itu,” sebutnya.

Sedangkan untuk kerugian secara materil, Kadek menyebut pintu yang dibanting oleh terlapor selama dua kali tersebut menjadi bengkok. Yang lebih merugikan kata Kadek adalah rusaknya dunia pariwisata bali di mata para wisatawan yang datang.

“Tamunya sempat bilang, kenapa mafia taxi diberikan seperti ini di sini? Tak ada jaminan untuk kami (wisatawan) bebas memilih transportasi yang kami inginkan. Saya sangat kecewa,” kata Kadek menyampaikan curhatan tamu Korea yang dibawanya tersebut.

Hingga kini Kadek masih menunggu tindak lanjut dari pihak kepolisian untuk kasus yang menimpa dirinya tersebut.

“Harapan saya, kasus seperti ini jangan terjadi lagi. Kami (sopir online) meminta perlindungan hukum sebagai sopir lokal yang juga warga negara Indonesia. Saya harap kasus ini tetap dilanjutkan,” ucapnya. (agw)